Posts

Showing posts with the label Thoughts

Bersepeda, Bertujuan

Halo! Hore saya bersepeda lagi. Saya sepedaan lagi ke area Dungus. Today was the farthest. Harus ditantang untuk lebih dari sebelumnya dong. Hehe. Btw tulisan ini agak lebay lho wkwk.

Pada mulanya, saya berniat sepedaan sampai Pasar Dungus saja kemudian langsung balik kanan pulang lewat rute yang berbeda. Saya mengonfirmasi bahwa rasa "lebih mudah" yang terasa sebelumnya saat bersepeda ke Monumen Kresek adalah karena adanya teman. Kali ini saya sendirian. Untuk sampai Pasar Dungus saja saya sempat, "Mana sih pasarnya? Kok ga nyampe-nyampe."

Meski begitu, sesampainya di Pasar Dungus saya malah menolak rencana pulang.

"Masa udah sih? Coba naik lagi lah. Coba lihat kuatnya sampai mana."

Pertigaan menuju Monumen Kresek pun terlampaui. Ternyata jalanan yang telah terlewati selama ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan jalanan sesudah pertigaan ini. Tanjakan sepanjang jalan. Namun, ujian itu diimbangi dengan indahnya alam sekitar. Kanan-kiri jalanan masih seperti hutan. Bukan belantara. Mungkin lebih tepat disebut kebun karena masih diurus oleh pemiliknya.

Di beberapa titik terlihat petani di kebunnya. Ada yang sedang mencangkul, ada pula yang sedang istirahat bersama teman-temannya di bawah rindang pepohonan jati. Sebagian besar jalanan yang saya lalui begitu rindang, terkena efek dari kebun sekitar. Udaranya pun segar dan cukup dingin meski pada akhirnya kalah dengan tingginya suhu tubuh karena berolah raga.

Rasanya sudah cukup jauh saya mengayuh sepeda namun batas kekuatan dan ketahanan saya belum muncul.

"Kalau tidak menetapkan batas, menetapkan tujuan, jadinya begini ya? Tanpa arah yang jelas. Melakukan sesuatu yang ujungnya ga tahu di mana. Kalau begini bisa saja ga ada habisnya."

"Benar juga. Baiklah. Mari kita tentukan tujuan."

"Gimana kalau kita batasi sampai LLO"

"OK. Call!"

Ada yang tahu apa itu LLO? Lori Listrik Otomatis (kalau search lebih baik dimulai dengan kata kunci Lori Tambang saja). Tempat kerja punya prototipenya di sebuah workshop di Desa Kuwiran, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun. Yay. Akhirnya tujuan saya jelas.

Dengan sabar saya titi jalanan. Berganti gir berkali-kali. Paling sering menggunakan gir belakang nomor 1 (gir depannya ga diganti-ganti). Rasanya lama sekali saya mengayuh. Kaki mulai berkurang kekuatan kayuhnya. Terkadang, saya sedikit membungkuk. Logika saya berpikir itu akan mengurangi running resistance. Ga tau sih bener atau engga nyahahaa. Tapi memang posisi bersepeda agak membungkuk membuat kayuhan lebih ringan. Dugaan saya, it's either the aerodynamics (running resistance) or just the body positioning, seperti bagaimana ilmu tuas digunakan. Halah Nala bacot.

Rupanya target LLO ini beyond my expectation. Rasanya saya sudah sampai batas kekuatan saat itu tapi titik akhir tak kunjung terlihat. Perut yang belum diberi sesajen berkali-kali berkokok. Namun, enggan saya mampir ke warung. Pantang makan sebelum perjalanan kembali.

Sepanjang perjalanan, yang ada di pikiran saya adalah,

"Ini LLO nya mana sih? Kok ga nyampe-nyampe?"

"Ayo! Push yourself a little more! A little more! A little more! Ayo. Bisa!"

Akhirnya saya melewati gerbang masuk Desa Kuwiran. Optimisme naik. Sebentar lagi sampai. Kayuh lagi. Namun, rasanya kayuhan saya tidak juga kunjung menemukan tujuan akhir. Saya memutuskan berhenti di dekat sebuah pos kamling. Minum air putih yang sudah di batas-batas akhir. Di sana saya berpikir untuk berhenti saja, putar balik.

Hampir menyerah

"Shall I quit?"

"NO! Sudah sejauh ini. Ayo! NO QUITTING!"

Perjalanan dilanjutkan. Kaki rasanya sudah cukup lemas. Kayuh sekuatnya, sebisanya. Akhirnya kabar bahagia datang. LLO terlihat! Rupanya LLO sudah tidak jauh dari pos kamling tadi. Mungkin tidak lebih dari 300 meter jaraknya. 

Puas rasanya mampu mencapai target diri. Apalagi target yang ternyata di luar zona nyaman. Saya tuntun sepeda ke seberang LLO. Mengabadikan pencapaian.

Mantap, Nala! Love you!

Saatnya beristirahat. Dengan kaki masih lemas, saya tuntun sepeda naik ke area bangunan pemilik LLO. Di samping area LLO sebenarnya ada masjid unik, Masjid Ussisa Ala Taqwa namanya, yang lebih ajib untuk tempat istirahat. Namun, saya urung. Di sana ada beberapa bapak-bapak yang sedang bersih-bersih tamannya. Saya memilih duduk di belakang gedung area LLO saja. Sendirian.

Perjalanan menuju LLO tadi membuat saya berpikir bagaimana jika tadi saya benar-benar memutuskan untuk putar balik? Saya tidak akan tahu bahwa ternyata tinggal sedikit lagi tujuan sudah di depan mata. Saya tidak akan tahu bahwa diri saya mampu melebihi batas diri hingga bisa sampai di tujuan.

Menilik hidup saya yang lebih banyak dalam mode "jalan saja", dari sini saya tersadarkan bahwa punya tujuan atau target itu ada pentingnya juga. Tidak hanya agar tidak melakukan suatu seperti tiada habisnya tapi juga ada alasan memaksa diri to push it a little more.

Pukul 8.45 WIB saya beranjak putar balik. Saatnya pulang. Pikiran yang terus bermunculan selanjutnya adalah, "Lapar! Makan di mana ini sendirian begini?"

Capaian baru: 40,3 km. Gradiennya ga tahu berapa 😁


24/7

Jadi gini. Belakangan saya merasa waktu sempit sekali. Rasanya kegiatan saya begitu-begitu saja tapi kok rasanya tiba-tiba malam. Waktu untuk diri sendiri terasa kurang.

Ingat postingan ini? Mirip seperti itulah yang saya rasakan belakangan ini. Rasanya waktu untuk "belajar" dan "berbincang" jadi kurang. Saya semakin sadar bahwa waktu kerja 8 jam sehari (atau paling mentok 9-9,5 jam kalau ditambah istirahat) adalah hal yang "Ya memang lumrahnya segitu. Kalau kamu lembur-lembur, itu ga lumrah."

Saya juga membayangkan misal saya udah berkeluarga nanti trus kegiatan saya kayak begini kok kayaknya rumah jadi kayak monoton amat. Kalau tetep kayak gitu, waktu buat keluarganya kapan? Tapi saya kayaknya gamau menghilangkan rutinitas workout saya eheheee. Seru tau.

Wah gara-gara ini saya jadi tersadarkan kenapa orang-orang yang sudah nikah biasanya sulit buat diajakin main. Selain karena urusan "menjaga hati" atau sekadar "ya lumrahnya kan begitu", ternyata waktu yang terbatas ini berpengaruh besar.

Urusan duniawi ini begitu banyaknya ya. Sampai-sampai waktu 86.400 detik itu tak cukup. EH 86.400 DETIK??? Kok ternyata sehari memang singkat. 

Makin Tua Makin Ribet

Saya ga tahu ini beneran atau engga. Saya perhatikan, semakin bertambah usia, hidup jadi makin ribet. Banyak hal yang kalau anak-anak atau remaja yang melakukan ya santai aja tapi kalau orang dewasa jadi lebih banyak dipikir gitu.

Semakin bertambah usia memang semakin banyak bias dalam hati dan pikiran. Untuk berbaik hati saja harus mempertimbangkan ini-itu. Bisa dikira ada perasaan sama seseorang, bisa dikira cari perhatian, bisa dikira selingkuh, bisa dikira macam-macam. Padahal bisa saja kan ya memang sudah sangat dekat seperti keluarga sendiri, bisa saja kan orang itu memang melakukan tanpa ada embel-embel apapun. Tidak adakah yang percaya bahwa kemurnian hati itu ada di dunia ini?

Sumber gambar: Best Health Magazine

Curhat sedikit. Menyebalkan sekali ketika ingin berteman dengan seseorang kemudian (sepertinya) disalahartikan oleh yang bersangkutan. Jika dia tidak setuju dengan gagasan orang tsb menyukainya, akhirnya tembok tak kasat mata tumbuh dengan alasan yang tidak masuk akal sama sekali: kesalahpahaman.

Sedikit lagi. Menyebalkan sekali melihat adanya fakta omongan di belakang oleh suatu kaum terhadap kaum yang lain. Berbagai asumsi dan kalimat (mungkin) iri atau tidak terima dimunculkan oleh kaum yang pertama tanpa mengetahui bagaimana kondisi kaum kedua yang sebenarnya. Tanpa mengetahui bahwa kaum kedua merasakan sakit hati yang begitu dalam hanya karena mengetahui fakta adanya omongan di belakang. Tidak adakah sebersit pikiran yang mampu mengalihkan asumsi buruk menjadi asumsi yang baik? 

Ribetnya apa lagi? kayaknya banyak. 

Gendut

Kemarin saya mengikuti pemeriksaan kesehatan yang merupakan rangkaian dari proses rekrutmen karyawan tetap di tempat kerja. Ada beberapa item yang dicek. Mulai dari darah, urin, jantung, paru-paru, dan fisik. Nah, untuk yang terakhir ini beberapa di antaranya ada pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar perut. Pemeriksaan fisik ini agak sensitif, terutama untuk cewe, karena berurusan langsung dengan gendut tidaknya seseorang.

Obrolan pengecekan fisik ini mengundang cewe di sebelah saya menyatakan bahwa dia gendut. Cewe lain di sisi sebelahnya lagi juga berkomentar demikian. Padahal saya lihat mereka gendut juga kagak. Saya coba yakinkan bahwa dia ga gendut. Kalau dia termasuk gendut, apalagi saya, demikian saya bilang. Dia bilang saya ga gendut. Saya sebut berat badan saya aja 57,2 kg. Komentarnya, saya kan tinggi jadi ga gendut.  

Dari yang saya perhatikan, mayoritas cewe ya kayak yang barusan saya ceritakan, berpikiran bahwa dirinya gendut. Padahal orang lain ngelihatnya lho biasa saja. Diyakinkan bahwa dia ga gendut pun juga ga akan bisa. Udah wis. Jangan meyakinkan cewe yang merasa gendut bahwa dia ga gendut. Ga akan bisa!

Sumber gambar: Reddit

Saya bingung sih menentukan apakah pola pikir seperti ini baik atau buruk. Buruknya jadi berkesan ga berterima kasih atas apa yang dipunya gitu. Selain itu, misal seorang cewe mengatakan bahwa dia gendut di dekat orang yang secara fisik mau dilihat dari sisi manapun memang lebih gendut daripada dia, gimana perasaan orang yang lebih gendut itu? Bisa bayangin ga? Bisa aja kan trus dia jadi baper dan ga pede karena omongan orang lain yang sebenernya ga ditujukan ke dia.

Sisi baiknya mungkin membuat cewe jadi mengatur-atur makannya. Biar sopan dan terkendali hahaha. Pun kemungkinan untuk memilih diet sehat jadi lebih besar.

Haha saat ini berat badan saya 57,2 kg dengan tinggi badan 161 cm. Kebanyakan waktu sih secara garis besar saya tidak mempermasalahkan badan saya. Yang sering tu merasa ada bagian yang perlu dikendalikan agar proporsional dengan bagian yang lain tapi kebanyakan orang mungkin sebenernya ga ngeh dengan yang saya "permasalahkan" ini. Jadi saya menganggap diri saya gendut ga? wkwk

Tentang Bersepeda hingga Rekor Baru Bersepeda ke Kresek

Belakangan hobi sepedaan menjamur di masyarakat, lebih tepatnya sejak Corona Virus memandemikan diri. Mungkin karena isolasi, WFH, dan penutupan banyak tempat umum yang terjadi membuat orang mencari alternatif hiburan. Sepeda memang menawarkan hiburan menyegarkan dengan membantu kita jalan-jalan namun menambah value olah raga untuk mengompensasi kebosanan dan kurangnya gerak karena isolasi dan teman-temannya. Jangkauannya pun lebih besar daripada lari yang mungkin 5 km saja sudah bikin ngos-ngosan.

Harga sepeda belakangan ini melonjak. Wajar saja. Permintaan naik, suplai tetap, di sinilah kelangkaan terjadi. Harga pun naik. Hukum ekonomi. Halah sotoy.

Saya sendiri sebenarnya sudah suka bersepeda sejak kecil. Hanya saja karena sarana dan kesempatannya tidak ada, tersingkirlah kegiatan bersepeda itu. Pada akhirnya saya lebih banyak jalan kaki terutama di rantau. Sampai sekarang juga begitu. Makanya kalau ada kesempatan bersepeda, saya senang karena akhirnya saya bisa jalan-jalan lebih jauh dari biasanya.

Ehm btw permisi saya mau nyinyir. Gara-gara hobi sepedaan yang menjamur ini, saya jadi penasaran. Ini orang-orang suka sepedaan simply karena lagi ngehits atau memang murni kebutuhan ya? Trus kenapa orang-orang tidak menerapkan sepedaan ini dalam kehidupan sehari-hari juga? Kenapa sepedaannya harus dikhususkan agenda bersepeda saja? Kenapa ga kerja pakai sepeda, ke pasar pakai sepeda, ke mall pakai sepeda, dsb? Jadi sekalian ubah lifestyle gitu. Bukan sepedaan karena momen aja. Tapi saya sendiri sepedaan masih kalau ada momen aja sih 😁 Kan belum punya sepeda wkwk. Dasar Nala tukang nyinyir.

Mohon maaf saya nyinyir begitu, soalnya saya agak menyayangkan -- terutama bagi diri sendiri -- jika melakukan sesuatu cuma karena ikut-ikutan, cuma karena lagi ngehits. Padahal sebenernya ga salah juga sih mengikuti tren, daripada ga sama sekali kan.

Selama di Madiun ini, beberapa kali saya dipinjami sepeda bu kos. Bukan saya yang inisiatif pinjam, tapi malah saya disuruh pakai sepeda beliau. Hihihi.

Semoga Nala bisa punya sepeda. Amin

Rekor terjauh sampai saat ini saya capai seminggu yang lalu bersama teman baru saya, namanya Septian. Kami bersepeda mulai dari Pahlawan Street Center yang lebih dikenal dengan 'Madiunboro' hingga Monumen Kresek. 

***

Minggu lalu, pagi-pagi saya berangkat ke Pahlawan Street Center. Akhirnya keinginan saya untuk duduk-duduk sendirian di 'taman' itu tercapai. Selama ini selalu urung karena ramai euy. Terima kasih pada Septian yang membantu merealisasikan keinginan ini. Hahaha.

Sekitar pukul 06.15, taman ini masih cukup sepi-tapi-ramai yet asik

Tunggu ditunggu, akhirnya Septian datang juga. Kami duduk-duduk santai dulu, Septian istirahat. Dia tadi harus bersepeda sekitar 15 km menuju lokasi janjian kami untuk selanjutnya masih harus bersepeda nun jauh ke Monumen Kresek. Luar biasa.

Perjalanan kami dimulai sekitar pukul 07.00. Pelan-pelan kami mengarungi jalanan. Perjalanan mulai menantang saat sudah keluar Kota Madiun. Jalanan mulai menanjak. Saya tidak kaget karena sebelumnya saya pernah melewati jalanan ini tapi hanya sampai Pasar Dungus kemudian langsung balik kanan pulang. Serunya, jalanan ini jauh lebih segar dibandingkan di Kota Madiun. Banyak bagian perjalanan dimana kita bisa melihat sawah di kanan-kiri. Beberapa kali kami berpapasan dengan pesepeda lain yang turun. Septian santai saja say hi dengan mereka. Rupanya di antara pesepeda ada 'persaudaraan' tersendiri. Yah sayang sekali sepanjang jalan ini tidak terdokumentasi.

'Pendakian' kali ini rasanya berbeda. Jauh lebih ringan dan cepat dibandingkan kesempatan sebelumnya dimana saya bersepeda sendiri. Bisa jadi karena saya sudah pernah mengalami perjalanan itu, bisa jadi karena ada teman sehingga perhatian atas lelah teralihkan.

Melewati Pasar Dungus, rekor saya sebelumnya, drama terjadi. Ban sepeda Septian bocor. Kami putar balik. Sepeda Septian ini road bike yang lebar dan ukuran valve bannya kecil. Cukup sulit menemukan tempat yang bisa menambal ban sepeda Septian ini. Beruntung di area Pasar Dungus kami menemukan bapak tambal ban yang bisa dan mau membantu. Lumayaaan sekalian kami leren. Namun, masalahnya adalah pompa yang dipunya si bapak ga bekerja dengan baik. Akhirnya setelah ditambal, kami cari-cari lagi tempat untuk mompa. Alhamdulillah ketemu.

Pelajaran dari kejadian ini: bawalah ban serep dan pompa mini jika sepedamu tidak lumrah bagi masyarakat sekitar wkwkwk.

Dia tergeletak tak berdaya menghadapi dunia. Dokter sedang berjuang menyelamatkan nyawanya. Kami menunggu-nunggu, mengharapkan dokter keluar dan mengatakan, "Operasinya berhasil." Halah apaan sih, Nal. 


Kelanjutan perjalanan kami tidak begitu lama. Monumen Kresek memang dekat dari Pasar Dungus. Hanya saja, kami harus melewati Tanjakan Putus Asa terlebih dahulu. Puas rasanya bisa melewatinya. Semoga saja kaki Septian baik-baik saja.

Tibalah kami di Monumen Kresek. Ramai. Ada banyak sepeda terparkir di sana. Banyak mobil juga. Sebenarnya ada apa di dalam sana?

Sebelum berkeliling lebih jauh, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Pecel dan teh panas menjadi pilihan kami. Sepertinya cukup lama kami menyantap makanan sambil ngobrol ngalor-ngidul yang kebanyakan ngomongin pengalaman di kerjaan masing-masing. Di sini Septian juga bilang sebelumnya dia belum pemanasan dan hari itu dia langsung menempuh jarak yang jauh. Saya bingung. Antara kasihan dan salut (tapi lebih banyak salutnya) sama ni orang. Dia memang sudah biasa bersepeda jarak jauh sih tapi kalau selama 3 bulan ga bersepeda trus ujug-ujug sepedaan jauh kan bisa kaget juga badannya.

Obrolan ngalor-ngidul kami hentikan sementara karena kami berniat masuk ke Monumen Kresek. Sepeda kami titipkan ke pemilik warung.

Kami masuk melalui pintu selatan. Spot pertama yang menyambut kami adalah patung (?) orang-orang mati beserta tembok bertuliskan daftar para korban kekerasan PKI di Desa Kresek. Sejujurnya, saya kurang pengetahuan tentang peristiwa PKI ini. Kenapa bisa ada, bagaimana sepak terjangnya, pemusnahannya bagaimana, saya belum tahu atau mungkin simply saya lupa. Yang menjadi pertanyaan saya selanjutnya adalah mengapa kejadian menyedihkan yang melibatkan kekerasan kepada manusia malah dimonumenkan?


Sederhana saja isi Monumen Kresek. Setelah spot tadi, ada semacam pendopo yang ternyata dulu adalah markas PKI. Di sana saya membayangkan beberapa orang duduk berkumpul merundingkan aksi mereka. Pendopo itu menjadi saksi bisu betapa akal dan nafsu manusia bisa terjerumus begitu dalam, terlalu dalam, terlalu gelap hingga nyawa manusia seperti tiada artinya.

Selain itu, ada juga patung 'ekseskusi' yang dibawahnya ada "air terjun" buatan. Karena fokus tulisan ini adalah kegiatan bersepeda ke Monumen Kresek, saya tidak akan membahas banyak tentang tempat ini. Biar foto-foto saja yang bercerita.

Patung 'eksekusi' yang saya bilang tadi. Di sisi kiri Septian ada air terjun buatan.

In more detail



View dari samping patung 'eksekusi'. Saya tidak mengerti makna patung-patung itu. 

Ada seorang guru dan banyak muridnya sedang membuat video. Mungkin untuk kenang-kenangan sebelum berpisah.

Usai berkeliling, kami menjemput sepeda, berpamitan pada ibu pemilik warung, dan beranjak pulang. Perjalanan pulang sangat menyenangkan. Karena saat berangkat kami sudah menanjak, maka pulangnya kami banyak santainya. Hingga terjadi 'BAM!!!' Saya nyenggol seorang pejalan kaki. Beruntung tidak terjadi injury yang serius. Si bapak yang saya senggol insyaAllah aman. Alhamdulillah anak yang digendongnya tidak jatuh. Cuma saya yang jatuh. Saya cuma merasa lecet sedikit di lutut. Ditambah ternyata ada memar di betis yang sampai sekarang belum kunjung hilang. Selain itu, I am totally fine. 

Gara-gara ini saya minta Septian untuk di depan saja. Usai jatuh, masih ada Tanjakan Putus Asa yang lebih berat dari sebelumnya. Karena Septian nuntun, saya ikutan deh wkwk. Ga tau kalau saya lanjut mancal apakah akan kuat atau tidak. Selepas itu, barulah perjalanan kami benar-benar bahagia. Tiada tanjakan. Yang ada hanya turunan.

Eta teh Septian. Sepedanya da kenceng pisan.

Septian yang di depan ini membuat saya menyadari perbedaan sepeda gunung dan road bike (Bahasa Indonesianya apa sih?). Saat perlu mengayuh, Septian terlihat santai sekali mengayuh namun dia lebih cepat daripada saya meski frekuensi ngayuh saya lebih tinggi dikit. Padahal kayaknya ga mungkin Septian pakai gir yang levelnya lebih tinggi dari yang saya gunakan saat itu. Setelah saya lihat lebih dekat, ternyata gir sepedanya Septian lebih banyak, Coy. Pantes. Bisa aja kan bagi sepeda Septian ada beberapa gir di antara gir selevel yang sedang kupakai hingga level berikutnya di sepedaku (eh sepeda bu kos wkwk). Selain itu, road bike kan memang didesain biar rolling resistance di pavement nya kecil. Bisa jadi bukan hanya efek gir. 

Seperti biasa, perjalanan kembali selalu terasa cepat. Tiba-tiba saja kami sudah tiba di Kota Madiun. Kami berpisah di gang Jalan Nias. Sepedaan kami ditutup dengan toss. Septian masih harus lanjut sekitar 15 km lagi menuju rumahnya. Semangat, qaqaa. Alhamdulillah kabarnya Septian cuma cenat-cenut malam harinya. Esoknya dia sudah kembali fit.

Demikian cerita rekor baru sepedaan 35 km saya. Mungkin saya perlu nulis tentang rekor baru bersepeda selanjutnya atau tentang lari atau home workout. 

Perjalanan saya 35 km. Septian sendiri menempuh 70 km. Luar biasa. Sungkem.


Agama Rutinitas

Beberapa hari yang lalu, saya melakukan obrolan teks dengan Mbak Primadini. Dimulai dengan pernyataan sadar diri bahwa kami melakukan sholat hanya untuk sekadar menggugurkan kewajiban. Miris sekali. Saya sendiri sering bertanya-tanya apakah niat sholat saya sudah benar. Selama ini mau sholat ya sholat saja. Apakah ini benar atau salah? wallahu a'lam.

Dalam pikiran saya, alangkah indahnya jika tiap melakukan sesuatu kita sadar alasan di baliknya. Kita sadar senyata-nyatanya bahwa niatnya memang karena Allah. Bisa jadi karena cinta Allah, atau mungkin karena rasa terima kasih pada Allah, atau karena takut pada Allah, atau ... apalagi? Bukan apa-apa. Saya takut saja jika ternyata saya hanya beragama rutinitas. Atau mungkin seperti kata Al-Quran, hanya beragama nenek moyang. Hanya melakukan sesuatu tanpa mengambil esensinya.

Ngomongin masalah niat dan agama nenek moyang ini, saya jadi ingat postingan ini.

Sampai sekarang, saya penasaran gimana rasanya hidayah yang didapat para muallaf. Saya menduga berislamnya seorang muallaf bisa jadi lebih mantap daripada berislamnya  saya. Karena mereka mengalami proses mencari dan menemukan alasan hingga mereka memilih Islam sementara saya terbiasa melakukan ajaran-ajaran Islam sejak kecil, karena lingkungan yang juga Islam.

Mungkin karena menemukan sendiri, mereka lebih menyadari indahnya Islam dan kebesaran Tuhan. Mungkin mereka lebih mantap melakukan sholat karena mereka tahu mengapa mereka mau sholat. Mungkin mereka yang baru berhijab lebih jelas kenapanya, lebih tegak niatnya.

Saya sendiri bertanya-tanya, kenapa saya berhijab? Karena perintah? Lantas kenapa saya mau-maunya taat aturan? Nyatanya saya tidak memikirkan itu saat sedang mengenakan hijab. Mau keluar ya pakai saja. Aneh dan malu rasanya kalau ga pakai. Sholat juga begitu. Saya kadang bertanya-tanya, kenapa alam bawah sadar mengajak sholat ketika sudah masuk waktu? Kenapa diri saya mau diajak sholat? Rasanya saya mau sholat ya berangkat saja. Tak berpikir kenapa-kenapanya.

Ini yang kadang saya khawatirkan. Saya khawatir bahwa menjalani rutinitas agama tanpa esensi hanyalah menjadi beragama rutinitas.

Ramadhan Sebentar Lagi. Sudah Siap?

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Jujur, saya miris melihat diri saya sendiri yang malah nggleyor. Belakangan saya merasa secara spiritual terjadi kemunduran padahal seharusnya saya menata hati, mempersiapkan diri untuk Ramadhan.

Karena kontemplasi beberapa tahun belakangan membuat saya sadar, Ramadhan bukan hanya sekadar puasa fisik. Kontemplasi yang akhirnya mempertanyakan apakah Ramadhan saya cukup berarti ataukah saya merugi?

Kontemplasi saya dimulai dengan melihat kenyataan banyak kompensasi-kompensasi yang diberikan ataupun saya lakukan karena sedang puasa. Contoh: bermalas-malasan. Memang puasa mungkin cenderung membuat badan lemas karena tidak mendapat asupan secara terus menerus, lantas apakah ini berarti wajar untuk menjadi bermalas-malasan?

Lalu urusan makan. Kalau saya pikir-pikir, puasa atau engga bagi saya sama saja dalam hal makanan. Karena saya biasa makan sehari dua kali. Kalau puasa jadi cuma geser jam makan saja kan? Lantas apa artinya semua ini kalau cuma geser jam makan? Pasti ada sesuatu yang lain.

Selanjutnya melihat perilaku banyak orang yang saya lihat termasuk diri saya sendiri saat waktu buka. Makanan yang disajikan sering dibuat spesial, tak seperti biasanya. Banyak orang berjualan ini-itu yang menurut saya akhirnya mengundang konsumerisme. Ditambah tak sedikit yang makan banyak-banyak selama waktu diperbolehkan makan. Jika demikian, apakah puasa yang kata orang untuk membersihkan fisik jadi menghasilkan hal yang sama? Apakah puasa yang katanya menahan diri hanya dilakukan pada saatnya lantas di saat berbuka kita mengumbar pemuasan nafsu?

Sebenarnya bermunculannya penjual spesial Bulan Ramadhan bukanlah hal yang negatif. Banyak orang mendapatkan rezekinya dari jalan itu dan itu bukanlah hal yang haram dilakukan. Memberikan hal spesial untuk diri sebagai hadiah atas perjuangannya juga bukan hal yang salah sama sekali. Hanya saja, mungkin kita perlu merenungkan diri apakah yang kita lakukan masih wajar atau sudah terlalu melenceng dari esensi utama.

Satu hal lagi yang menurut saya cukup berpotensi menjebak: persiapan lebaran. Gini. Entah pemikiran saya benar atau tidak, saya merasa ada yang salah dengan persiapan lebaran. Saya melihat di lingkungan kita sudah seperti sebuah keharusan untuk sementara "bermewah-mewah" untuk menyambut lebaran. Seolah-olah harus untuk membeli jajan lebaran ini dan itu, pakaian ini dan itu, ngasih parsel ini dan itu, dsb. Semua itu sama sekali bukan hal yang salah. Malah sebenarnya baik sebagai bentuk menghargai diri, orang lain, dan bulan suci itu sendiri. Tapi "seolah-olah harus"nya ini loh. Saya merasa miris ketika orang-orang harus memaksakan diri bekerja keras bagai quda sampai rela meninggalkan ... Sholat tarawih misal yang hanya ada setahun sebulan yang tidak akan ditemui selain di bulan dia bekerja keras bagai quda ini demi sebuah "adat" lebaran harus baju baru, jajanan enak terhidang, dan memberi sangu bocah-bocah. Apalagi kalau kerja keras bagai quda demi adat keharusan ini sampai membuatnya meninggalkan puasa. Sangat disayangkan kan? Padahal semua itu bukan keharusan. Itu hanya seolah-olah harus karena orang-orang umumnya melakukan hal yang demikian. Again, hal-hal tadi sama sekali tidak salah, hanya sepertinya rugi jika sampai melencengkan kita dari hal yang esensial.

Hal lain dimana saya sering merugi dalam bulan Ramadhan adalah gimana saya menjalani hidup seperti biasa saja. Kurang ada atau malah tak ada peningkatan kualitas diri dalam sebulan itu. Bulan yang harusnya di sana banyak agenda pdkt, banyak merenung, refleksi diri, berdoa, belajar, malah dilalui dengan biasa-biasa saja padahal kesakralan bulan itu luar biasa. Bahasa lainnya sih pahala lagi promo gedhe-gedhean.

Ketika Ramadhan berganti menjadi Syawal lantas bertanya-tanya apa yang meningkat dari diri. Dan apa yang ditemui?

Makanya menata hati menyambut bulan spesial ini perlu agar saat tiba, kita siap untuk tidak melewatkan promo yang ada. Pun siap untuk menyelam dan mendapat mutiara esensi dari kegiatan bulan ini.

The Weird Me: Pernikahan

Belakangan saya sadar ada satu hal lagi yang agak ga umum dari diri saya. Dari pengamatan saya di lingkungan, orang-orang seumuran saya rata-rata sudah memikirkan pernikahan, sudah ada keinginan untuk menikah. Ga jarang saya nemu mereka baper kalau ke mantenan atau sekedar dapet undangan ke nikahan.

Nah saat saya ngaca, kok yang saya dapati diri saya tidaklah demikian. Di beberapa kasus kehidupan memang entah kenapa saya antimainstream makanya agak susah nyari yang klop sepemikiran. Tak terkecuali kasus ini.

Saya sendiri seringnya merasa saya masih 16-17 tahunan. Ini ngomongin kelakuan dan psikologis loh ya. Saya sering lupa bahwa seumur-real saya sebenernya sudah menjadi hal yang biasa untuk memikirkan dan membicarakan perihal jodoh dan pernikahan.

Sekarang diri saya lebih mending loh. Sekarang saya sudah sadar bahwa hal tersebut wajar. Sebelum wisuda, saya masih merasa nikah itu urusan orang gedhe. Masih terasa memalukan untuk saya saat itu untuk membahas masalah jodoh.

Meski sadar bahwa sudah wajar, saya ga yang baper pengen nikah. Mungkin belum sih haha. Saya hanya sadar bahwa suatu saat saya akan menikah. Bahkan meski belum ada calon entah dapat wangsit dari mana, saya punya feeling saya akan nikah ga lama setelah kontrak kerja sekarang berakhir. Saya justru tertarik pada hal yang dilewati setelah pernikahan: tentang punya anak. Saya lebih tertarik dengan bahasan tentang bagaimana perasaan punya anak, bagaimana anggapan orang pada umumnya terhadap anak dan harusnya bagaimana, bagaimana cara mendidik anak, bagaimana orang tua berpengaruh terhadap anaknya, gimana rencana kegiatan (pekerjaan) saya kalau sudah punya anak, dsb. Intinya sih tentang gimana dealing dengan amanah yang namanya anak.

Di situlah anehnya saya. Menurut saya ketertarikan pikiran saya ini agak ga umum. Kayak loncat gitu soalnya. Sempet nanya ke satu orang sih apakah pas dia memutuskan punya anak sudah memikirkan konsekuensi bahwa harus begini begini, harus persiapan begini begini, harus berubah begini begini. Dan jawabanya: dia baru kepikiran setelah punya anak. Sementara saya malah ga baper nikah, ga mikirin nanti harus gimana ke suami, ... Harus mikirin apa sih soal pernikahan??? Saya malah lebih tertarik sama yang berhubungan dengan menjadi orang tua. Gatau sih kalau ternyata fenomena saya ini biasa aja. Hahaha

Menunggu Moment of Blossoming

Belakangan ini saya merasa tidak berguna. Saya merasa bodoh hingga tak dapat melihat adanya nilai tambah dengan adanya saya di lingkungan. Sebenarnya saya benci diri saya yang seperti ini. Karena ini kontras dengan satu nilai yang saya coba untuk percaya.

Saya yakin bahwa tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Saya percaya bahwa setiap hal, setiap orang pasti berguna, sekecil apapun value yang disumbangkaan.

Namun mengingat kepercayaan tadi ternyata tidak membantu memperbaiki mood. Anggapan bahwa saya tak dapat melakukan apa-apa tetap saja mengendap di kepala.

Saat seperti ini, saya perlu energi eksternal untuk menarik saya dari belenggu ini. Saya perlu seseorang untuk meyakinkan saya bertahan dan berjuang. Dulu ada bapak yang melakukan peran tersebut. Sekarang, untuk sementara, saya belum punya penggantinya.

Ngomong-ngomong soal kebergunaan diri, saya yakin setiap manusia sudah punya jalan masing-masing untuk menjadi berguna. Ada yang berguna lewat science, agama, komunikasi, kelihaian debat, ketekunan, kemandirian, ketahanan fisik, bahkan sampai bentuk fisiknya. Banyak aspek dari manusia yang memungkinkan dia berguna. Maka mereka yang bukan menjadi bintang kelas, bukan lah orang bodoh dan tidak mempunyai kesempatan untuk sukses. Bisa jadi potensi mereka bukan di bidang itu. Bisa jadi potensi mereka sebenarnya di bidang itu namun hanya perlu waktu untuk membuatnya bersemi. Seperti tanaman, manusia perlu musim dan tempat yang tepat.

Mungkin sekarang saya sedang di tempat yang kurang tepat. Atau sebenarnya sudah tepat tapi hanya perlu menunggu waktu dan moment of blossomingnya. Yang jelas, pasti ada skenario besar kenapa saya ada di sini.

Budaya (Minta) Traktiran

Di lingkungan saya, biasanya kalau ada seseorang yang dianggap patut merayakan sesuatu, paling sering sih ultah, teman-temannya akan minta traktiran. Ultah, dimintai traktiran. Dapet peringkat satu, dimintai traktiran. Jadian, dimintai traktiran. Semua-muanya aja traktiran wkwk.

Sebelumnya, saya merasa wajar saja dengan budaya ini. Tapi setelah ngobrol dikit dengan orang-yang-saya-lupa-namanya pas saya di Korsel, pikiran saya jadi berubah. Kenapa kalau ada yang ultah malah kita "palak" minta traktiran? Kenapa ga temen-temennya yang urunan nraktir dia? Bukankah jadi lebih ringan daripada satu orang harus mentraktir sekian banyak orang? Lagipula, siapa tahu orang yang sedang ultah ternyata sedang seret.

Tentang hal selain ultah juga begitu. Mungkin dia dapat rezeki, tapi siapa tahu rezeki itu benar-benar sedang dia butuhkan? Siapa yang tahu kalau rezeki itu untuk biaya rumah sakit misal. Eh malah kita "palak".

Kalau si dia dengan inisiatif sendiri mau sedekah, itu beda kasus. Terima saja dengan senang hati hahaha. Tapi kalau kita yang membuat dia "sedekah" dengan permintaan atau sindiran kita, menurut saya kok kurang pantas.

Nyampah

Tulisan ini adalah reaksi atas sebuah twit tentang paus yang mati karena menelan plastik. Entah sudah berapa kali saya melihat berita semacam ini. Selalu sama, makhluk laut menderita karena sampah-sampah manusia yang terbawa ke laut.


Tahukah sodara-sodara, di dunia ini masih banyak sekali orang yang membuang sampah sembarangan, khususnya ke sungai, termasuk saya. Sampah-sampah yang di darat dapat terseret ke perairan dan akhirnya mengalir menuju ke laut. Pernahkah kalian melihat pantai yang menerima sampah setiap kali ombak datang (paling ga lihat foto atau videonya)? Ironisnya, sampah-sampah itu dapat berakhir menganiaya makhluk tak bersalah karena entah tak sengaja masuk ke tubuhnya atau dikira makanan. Belum lagi, polusi tanah dan air yang ditimbulkan.

Setiap melihat berita semacam ini, saya jadi pengen belajar tentang persampahan: baik pengolahan maupun manajemennya. Di desa saya, belum ada manajemen persampahan. Tiap keluarga mengurus sampahnya sendiri-sendiri. Sepertinya di desa ini belum ada orang yang tahu bagaimana pengurusan sampah yang baik. Jadi, tak heran kalau sungai kami menjadi tempat sampah. Mulai dari pembuangan limbah usaha pengolahan ketela pohon hingga sampah padat, yang saya yakin isinya kebanyakan adalah popok bayi dan pembalut. Adanya bendungan di desa sebelah membuat airnya mandheg, menggenang saat musim kemarau. Sampah pun cuma berkumpul di sana. Membuat nyamuk semakin berjaya.

Logikanya, orang buang sampah sembarangan kemungkinan karena dua alasan: belum membudaya; kalaupun sudah sadar dan ingin memulai dari diri sendiri, sistem lingkungan yang ada belum mendukung niat tersebut.

Jujur saja, saya dan keluarga masih sangat sering membuang sampah sembarangan karena kami bingung bagaimana mengurus sampah-sampah “aneh”, seperti pecahan beling, baterai, logam, dan tentu saja popok bayi dan pembalut. Akhirnya gimana? Ampuni kami, Tuhan.

Makanya, saya pernah bermimpi untuk membantu desa saya dalam urusan persampahan ini biar kami ga bingung buang sampahnya, biar lebih manusiawi dan ramah lingkungan. Tapi saya belum punya baik ilmu maupun dananya hihi. Pernah sih ngide ngajakin teman-teman yang ngerti buat ngadain semacam pengabdian masyarakat dalam bidang ini, tapi … who am I? Cuma butiran debu yang bahkan masih belajar lagi gimana cara bersosialisasi. Kalau ada anak kuliahan yang baca ini, tolong ngidelah untuk bikin KKN mengusung tema ini, terutama kalau KKNnya di Pulau Jawa. Pulau Jawa terlalu penuh, jadi masalah sampahnya pasti banyak dan kompleks. Kalau pulau lain, mungkin ada bidang lain yang relatif lebih urgent.

***

Memecahkan masalah belum membudaya sebenarnya dapat dimulai dari diri sendiri. Marilah kita bertobat dan belajar nyampah pada tempatnya, Sodara-sodara. Coba deh lihat foto jalanan atau taman di negara maju, Jepang misalnya. Jalanan dan tamannya sebenarnya biasa saja tapi bersih menambah nilai keindahannya. Padahal di sana sangat jarang ada tempat sampah publik. Lantas bagaimana tamannya tetap indah?

“…it is a fact that people get used to carrying around used wrappers, receipts, and other pieces of trash until they can dispose of them properly --- Faktanya, orang-orang terbiasa membawa bungkus makanan, nota, dan sampah lainnya hingga mereka dapat membuangnya dengan semestinya.” ---jpninfo.com

Saya juga pernah baca di blog kakak tingkat yang sempat mengikuti pertukaran pelajar di Jepang. Usai dia dan teman-teman Jepangnya party, mereka langsung bergegas bersama membereskan sampah mereka sekaligus memilahnya sesuai peraturan persampahan mereka. Hayolooo di lingkungan kita bagaimana? 

So guys, let’s start from ourselves. Mari membuang sampah di tempat yang semestinya. Kalau ga ada, mari dibawa pulang. Di rumah, pilah sampahnya dan berikan perlakuan sesuai jenisnya.

Sebagai pengakuan, pengurusan sampah di rumah saya masih sesimpel apa yang bisa dibakar, ya dibakar (ibu saya masih masak di tungku soalnya jadi bisa buat tambahan bahan bakar), kalau organik ya dibuang di kebon. Kalau aneh-aneh, ampuni kami, Tuhan. Kami belum tahu gimana mengurus sampah aneh-aneh itu.

***

Beberapa hari yang lalu, saya (sambil mandi) ngobrol sama ibu yang lagi masak.

“Ih, Bu, kemarin aku lewat jembatan Mondo. Airnya mambeg, lumuten, sampahe uakeh. Gimana ya biar orang-orang ga buang sampah ke sungai?”

“Ya petinggi desa harusnya ngasih tempat sampah gitu. Misal se-RT-nya Pak Sungeb nih, kasih satu super gedhe gitu, trus ada yang dikasih tugas ngangkut ke pengumpulan yang lebih gedhe.”

“Iya, ya. Kalau gitu jadi ga bingung buang sampah ke mana. Belum lagi nanti kalau dipilah sekalian dan dikasih jadwal buang sampah. Misal sampah plastik hari Senin, sampah kertas hari Rabu, sampah basah tiap hari.”

“Makanya kalau nanti jadi lurah bikinlah kayak gitu.”

WOW. Bahkan ibu saya juga memikirkan hal yang sama. Ibu saya 48 tahun, lulusan MTs. Berarti masalah persampahan ga peduli tingkat pendidikan (ya kecuali anak-anak ya, mereka masih harus dididik), ini tentang kepedulian dan kesadaran.

***

Menjadi Orang Tua

Pengalaman hidup merantau di kota, apalagi dalam ekosistem yang menantang secara tak sadar membuka mata, ruang pikir, dan mengajarkan saya melihat hidup dari perspektif yang berbeda. Sekitar dua bulan yang lalu saya boyongan ke kampung halaman. Memenuhi permintaan orang tua yang sudah sejak lama mengharapkan saya pulang. Pada akhirnya saya tahu, keinginan tersebut ternyata bukan sekadar karena "daripada membuang uang percuma". Ada skenario besar Tuhan di balik itu.

Menghadapi dunia pasca-kampus yang saya lalui di rumah, saya melihat beberapa pola pikir masyarakat tentang menjadi orang tua yang menurut saya salah. Tentu saja ini hanya pengamatan belaka. Tidak ada data komprehensif yang dapat dipertanggungjawabkan.

Yang pertama adalah tentang sekolah. Berdasarkan pengamatan amatir saya, semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh seseorang, niat orang tua bahkan anak yang mengalami sendiri semakin bergeser. Sekolah yang awalnya diniatkan untuk menuntut ilmu, agar sang anak mendapatkan pendidikan yang layak, bergeser menjadi untuk mendapatkan pekerjaan. Tanda pergeseran ini akan semakin tampak ketika anak sudah lulus sekolah dan tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Berbagai jenis ocehan dari berbagai pihak bermunculan dalam situasi ini. Entah hanya menyebutkan anak keluarga ini kerja di sini sekolahnya ini, atau terang-terangan menyatakan sindirannya. Padahal sekolah sudah sepatutnya diniatkan untuk menuntut ilmu agar anak mendapat pengetahuan tentang alam, dunia, dan agama.

Kedua tentang bekerja. Bekerja bukan hanya melulu tentang uang. Pandangan “kerja di sini dengan gaji sekian meski sedikit akan sama saja dengan kerja di sana dengan gaji besar” bisa jadi benar jika tolok ukurnya hanya hasil fisik. Tetapi hal ini akan berbeda ketika kita memasukkan aspek-aspek yang lain.

Bekerja melibatkan kepuasan hati. Adalah perlu untuk mempertimbangkan pekerjaan yang tidak mengandung mudharat, memberikan tantangan dan pengetahuan baru, dan memberikan kepuasan hati karena diberdayakan sesuai dengan kemampuan diri. Seperti yang dikatakan Bapak Abraham Maslow dalam hirarki kebutuhannya, ada aktualisasi diri – kebutuhan manusia untuk mengerjakan sesuatu yang menantang keahliannya di sana. Di manapun tempat bekerjanya, apapun profesinya, dengan pemenuhan aktualisasi diri dapat membantu seseorang semakin bersemangat dan ikhlas dalam bekerja sehingga bekerja bukanlah tuntutan kebutuhan finansial semata. Tempat kerja seharusnya tidak dilihat sebagai ladang uang semata tetapi juga sebagai ladang amal dan ilmu. Dengan begini, saya yakin menjalankan tugas di tempat kerja menjadi lebih menyenangkan karena kita sudah jeli di awal dan menjalankannya bukan sebagai tuntutan.

Terakhir tentang mengasuh anak. Kahlil Gibran bertahun-tahun lalu sudah mengingatkan, Al Quran secara implisit juga menyebutkan bahwa anak adalah semata amanah dari Tuhan. Amanah yang bukan sembarang amanah. Amanah untuk mendidik anak menjadi orang yang beriman, baik, salih, dan berpengetahuan. Tidak pernah saya mendengar orang tua diminta untuk meminta balas jasa. Pola pikir pamrih ini malah memunculkan kasus “sekolah untuk bekerja dan membalas kebaikan orang tua”. Mungkin memang boleh mengharap balas jasa. Perjuangan orang tua memang sangat luar biasa. Tapi mengingat konteks awal anak hanyalah titipan dan amanah, apakah hal ini pantas (atau mungkin perlu)?

Tugas orang tua adalah membimbing dan mendidik anak. Jalan hidupnya seperti apa nantinya, hanya Allah yang tahu. Kita perlu membuka pikiran kita, bahwa anak bukanlah milik kita, bahwa anak adalah dirinya sendiri. Anak memang memerlukan orang tua sebagai pembimbing pertamanya, tapi anak punya jalan sendiri yang belum tentu sesuai dengan jalan yang kita mau untuknya. Pada akhirnya, jika didikan orang tua sudah baik, bukankah besar kemungkinan nanti anak akan tergerak sendiri hatinya untuk beneh?

Wisuda

Halo, Dunia! Perkenalkan, saya Dewi Nala Husna, sudah resmi lulus dari tempat kuliah yang berarti juga resmi menjadi masyarakat sipil (masih) pengangguran saat menulis ini. Waktunya memperbarui laman 'about'.


Yak delapan hari yang lalu saya menjalani sidang terbuka yang kedua. Rasanya biasa saja. Mungkin karena saya sudah terlalu 'tua' sehingga euforianya tak seperti euforia orang lain (dalam imaji saya).

Wis uda(h)
Ehm saya mau nyinyir eh mengungkapkan pendapat saja. Saya menemui beberapa orang yang me-mleset-kan 'wisuda' menjadi 'wis uda(h)'. Jujur, saya agak berat mengikuti hal tersebut. Lebih suka menyebutnya dengan sewajarnya saja. Saya melihat ungkapan baru itu seperti keputusan untuk berhenti sekaligus menyiratkan beratnya hal yang telah dilalui dan ingin membuang jauh-jauh semua itu. In my mind, it's like, "Akhirnya gue terlepas dari ini semua. Akhirnyaa penderitaan gue berakhir ... Udah deh. Gue ga mau mengulangnya lagi. Kapok." Parahnya lagi, saya menafsirkannya dengan niat berhenti belajar.

Menurut saya, apapun yang sudah terlewati adalah bukan hal yang sia-sia. Tuhan sudah capek-capek (Tuhan ga pernah capek sih) men-set-nya untuk meningkatkan level kita. Lagian paling ntar juga kangen semua itu. Plus, berakhir masa studi di satu lembaga bukan berarti berhenti belajar, bukan berarti ujian cuma di sana saja, malah sebenarnya kita dibawa ke tempat lain yang lebih menantang. Jadi kalau beneran 'wis uda(h)' itu berarti "penderitaan gue berakhir" sepertinya itu salah besar karena tantangan selanjutnya lebih menantang seiring dengan meningkatnya level kita.

Hahaaa cuma pendapat saya, pikiran yang nongol menanggapi istilah baru itu. Saya yakin kok orang-orang yang menggunakan istilah itu ya cuma iseng-iseng. Saya saja yang memaknainya terlalu dalam wkwk.

Anti mainstream
Sebenarnya saya merasa banyak bagian dari hidup saya ga sesuai dengan arus sekitar saya sehingga saya sering banget bilang "hidup saya anti mainstream amat sih -___-" Nah wisuda saya ternyata tak luput dari gremengan ini.

Pertama, tentu saja waktu wisuda saya yang telat setahun dari teman-teman seangkatan  pada umumnya.

Agak ke belakang sedikit, buat mencapai kelulusan TA, jalan saya juga agak berbeda dari yang lain. Bahkan berbeda dari teman satu tim.

Ketiga, biasanya wisuda di kampus saya diadakan pada hari Sabtu. Kalau membludak paling ngepol Jumat lah yang pernah terjadi sebelum ini. Di periode ini, saya dapat wisuda hari Kamis.

Empat, umumnya wisudaan di kampus saya diiringi dengan arak-arakan wisudawan oleh himpunan masing-masing. Nah kali ini, himpunan saya karena suatu hal, tak bisa mengadakan arakan. Jujur ya, hampa rasanya. Udah wisudawan himpunan cuma sebelas biji, wisuda hari kamis, ga ada arakan lagi. Sebenarnya apa yang salah dengan hari kamis? Itu weekdays, sebagian ortu bekerja (buat saya ga ngaruh sih), dan ada kuliah. Akhirnya, hari itu relatif lebih sepi daripada hari sabtu yang ortu ga kerja, semua mahasiswa free dari kuliah dan bisa nongol ke tempat wisuda. Ini juga berpengaruh pada kinerja LO.

Wisudawan yang datang syukwis himpunan pun cuma 3/11: saya, Ikhlashul, dan Mamang Gojek

Lima, ketidakjelasan kedatangan keluarga. Orang tua yang tak bisa datang wisuda bukan hal yang anti mainstream menurut saya. I think, there would be many people whose parents couldn't come. Wisuda saya direncanakan untuk didatangi Mbak dan Om. Semuanya sudah saya persiapkan jauh-jauh hari untuk hari Sabtu. Jadwal hari kamis yang tetiba nongol tentulah mengubah segalanya. Karena keterbatasan, ada wacana mereka tak jadi datang. Saya dirundung kesedihan, kegalauan, atau mungkin sebenarnya iri melihat orang lain keluarganya bela-belain datang, sampai ada yang beli tiket wisuda dengan harga muahal (bagi saya) demi melihat upacara sekali seumur hidup itu, sementara saya? hahaaa tapi H-2 akhirnya mereka memutuskan membeli tiket kereta baru demi Om dapat menyaksikan upacara wisuda saya -- Mbak tak bisa masuk karena bawa balita. Akhirnya saya bahagia ada mereka


Enam, Nominasi Best Female Graduates
Pada tanggal 03 Oktober 2017 sore, saya dibangunkan oleh telepon dari Bapak Kaprodi. Kaget dong. Beliau menawari saya untuk dinominasikan menjadi best female graduates yang merupakan event dari Ericsson. Saya hanya perlu mengumpulkan esai berbahasa inggris tentang suatu tema. Saya terima tawaran tersebut. Kapan lagi saya bisa kecemplung di beginian.

Sungguh itu adalah sebuah keberntungan. Saya bisa kecemplung di sana karena saya adalah satu-satunya wisudawati dari jurusan saya. Kalau ada wisudawati lain, mungkin saja saya tak dipilih.

Ga menang sih. Pemenangnya anak S2 kalau ga salah. Tapi berkat event ini saya jadi riset, jadi belajar tantangan apa saja yang akan saya hadapi nanti jika saya menelusuri jalur yang sama dengan yang saya titi di kampus.

Saya sempat berkecil hati karena dua teman saya yang datang syukwis himpunan itu maju ke depan saat syukwis STEI karena cum laude. Saya kan engga. Dan rasanya senang sekali, berkat event ini, ada giliran saya dipanggil ke depan saat syukwis STEI. Ditambah salaman dengan perwakilan dari Ericsson dan kaprodi (?) pemenangnya (pemenangnya ga datang jadi diwakilkan ke kaprodi).

Terakhir, yang datang ke syukuran wisuda fakultas saya bukanlah ortu, mbak, ataupun om saya tapi malah ibu kos lama saya, Teh Ros saya memanggilnya.

Sebenarnya itu saja sih cerita wisuda anti mainstreamnya.

Anyway, saat syukuran wisuda STEI, saya menyadari, orang tua akan begitu bahagia dapat mendatangi acara semacam itu untuk anaknya, bagaimanapun hasil belajar anaknya. Sekedar melihat bagaimana sosok tempat yang dititipinya anaknya selama ini saja sudah bahagia apalagi melihat anaknya mendapatkan hasil yang baik dan diapresiasi di kala itu. Malam itu, saya berandai-andai. Andai saja bapak saya datang, andai saja bapak yang duduk di samping saya, bukan Teh Ros.

Daaan terima kasih untuk semua teman yang menyempatkan waktu untuk membahagiakan saya, merayakan kelulusan saya. Terima kasih untuk masih mengingat saya. Saya bersyukur atas wisuda ini. Saya bersyukur masih bisa wisuda bareng sebagian kecil teman seangkatan kuliah. Saya bersyukur dapat 'wisuda bareng' beberapa teman sekolah dulu : teman SD dan MTs. Semuanya membuat saya merasa boku wa hitori janai (bodo amat ini kalimatnya bener atau engga).

Kenapa Menulis?

Pernah suatu hari salah satu teman saya bertanya, "kenapa sih kamu menulis?" Hmm sebenarnya kadang saya mikir sih, kenapa saya masih saja mau nulis di blog yang mungkin ga ada yang baca selain saya sendiri.

Well, jawaban saya, mungkin karena saya terbiasa menulis diari. Saya terbiasa mencurahkan hampir segala yang saya alami dan rasakan dalam bentuk tulisan. Ini berlangsung sejak SD. Lalu kenapa harus dipost di blog? Jujur saja, saya pikir itu karena kebutuhan diri untuk bercerita, juga keinginan untuk berbagi karena terkadang merasa apa yang dialami dapat dijadikan pelajaran bagi orang lain atau paling tidak bagi diri sendiri ketika suatu hari kembali mengunjungi tulisan-tulisan lama. Namun di sisi lain tak ingin tulisan ga penting dibaca banyak orang seperti jika ditulis di media sosial seperti facebook. Kalau dirasa pantas untuk dibagi buat orang banyak, baru dishare di platform lain. Hahaa tapi belum pernah dishare selain di google+ sih wkwk.

Alasan kedua, saya adalah orang yang gampang lupa. Banyak hal-hal yang saya sudah lupa sementara teman-teman saya masih ingat. Oleh karena itu, menulis adalah salah satu cara saya mendokumentasikan apa yang saya alami, kan katanya "ikatlah ilmu dengan menulisnya", juga agar dapat menjadi pengingat ketika saya mengunjunginya kembali.

Modernisasi Uang

Halo! Entah sudah sejak kapan saya mulai memikirkan tentang modernisasi uang. Sekarang adalah saat dimana dunia sedikit demi sedikit mengurangi bentuk uang fisik, mengubahnya menjadi bentuk angka saja.

Mungkin semua ini berawal dari zaman sebelum teknologi Internet Of Things menjadi trend of the day. Dulu, uang nonfisik yang saya tahu hanyalah pulsa telepon. Kita membeli voucher di counter-counter terdekat untuk meningkatkan nilai pulsa yang tertera di layar hp kita. Hal yang sebenarnya dilakukan ternyata (dalam imajinasi saya) adalah kita semacam memberikan uang sewa kepada penyedia jasa telepon, menyewa jasanya selama beberapa waktu. Ya sebenarnya kita menyewa tenaga dan teknologi mereka. Namun yang terasa oleh penggunanya adalah layaknya membeli beras yang sedikit demi sedikit digunakan dan suatu hari akan habis dan perlu membeli lagi.

Nah, zaman sekarang, uang nonfisik itu bertebaran di mana-mana. Ada yang dalam bentuk kartu seperti kartu transportasi. Namun di Indonesia, setau saya sih untuk membayar transportasi umum di Jakarta,ada alternatif digunakannya kartu khusus yang dikeluarkan oleh bank. Kartunya juga dapat digunakan untuk membayar tol dan belanja di outlet-outlet tertentu seperti Indomaret. Hal ini bikin saya mikir, kenapa ga dibikin simpel dengan menggunakan atm langsung ya -_- Selain bentuk kartu, juga dalam bentuk saldo DI BERBAGAI TEMPAT, seperti online shops, Paypal (Paypal tuh apa ya?), online transport hailing, dan lain-lain. Tetap saja saya berpikir, kenapa ga dibikin simpel langsung dipotong dari rekening bank.

Saya membayangkan kedua bentuk uang nonfisik yang bertebaran ini cukup mengganggu. Bayangkan kita punya banyak kartu di dompet: kartu buat transport, kartu buat belanja ini-itu, kartu buat bayar tol. Dan terpikir, kenapa ga dibikin jelas satu kartu gitu lho. Misal kartu transportasi. Yaudah, orang Indonesia pakainya jenis kartu itu aja buat transportasi. Kayak yang di Singapura gitu. Saya sampai di pemikiran, mungkin kalau dilakukan begitu, bakal ada monopoli sementara Indonesia ga menganut sistem itu.

Trus uang kita bertebaran di berbagai tempat, di saldo olshop ini, olshop itu, pemberi jasa ini, dan itu. Memang sih setahu saya bisa ditarik atau dimasukkan kembali ke rekening, tapi saya tebak, akan ada minimum amount yang dapat ditarik atau ditransfer, atau paling tidak, kita jadi malas misal saldo di sana tinggal sedikit, misal 1234 rupiah.

Sebenernya rekening bank juga mungkin ada saldo yang ga dikasih saat menutup rekening(iya ga sih?), masa iya 123rupiah nanti juga dikasih? Tapi paling juga sedikit sih orang menutup rekening bank, soalnya banyak yang perlu.

Setelah saya berpikir lebih lanjut, kenapa sih mereka memberikan fasilitas uang nonfisik ini? Jawaban yang saya temukan adalah lebih mudahnya dapet 'investasi' dari pengguna. Gini. Misal bentuknya kartu transport-tol-belanja nih (macem Flash BCA dan teman-temannya), kemungkinan besar akan ada uang sisa yang ga bisa digunakan, misal 1000 rupiah. Nah, kebanyakan kartu ini kan kemungkinan penggunanya orang Jakarta. Tahun 2015, penduduk jakarta 10,2 juta. Berdasarkan penglihatan kasar di sumber ini, usia produktif (yang mungkin pakai kan kebanyakan usia produktif) sekitar 5 juta. Jika seperempatnya (seperempat dari mana, saya ga tahu, asal saja. ga ada survey sih) pakai kartu beginian, total 1000rupiah x 1.25juta = 1.25 miliar. Uang yang mungkin cukup untuk perusahaan beli jajan.

Nah kalau olshop lebih besar lagi coy. Pengguna Tokopedia kata tempo, sekitar 12 juta. Jika diambil contoh sama, 25% konsumennya punya sisa saldo tokopedia rata-rata 1000rupiah, maka total uang numpuk di sana ya 3 miliar. buanyak. Apalagi kalau konsumen males gamau mengirim itu ke rekening sendiri, atau memang mungkin ga bisa karena ga nyampe minimum amount, maka uang sebanyak itu diberikan kepada perusahaan bukan?

Tapi setelah searching lagi (beneran ini nulis ga persiapan banget, risetnya baru pas nulis), saldo olshop ini berguna buat penjual. Biar perusahaan ga ribet ngirim satu per satu uang transaksi ke rekening penjual. Kalau ini saya setuju sih. Saya juga ga mau ribet.

Ya jadi begitulah hasil pemikiran tentang modernisasi uang.

Sebenarnya ada hal lebih lanjut sih. Jika suatu saat hampir semua transaksi dilakukan dengan uang nonfisik, berarti bentuk uang berubah menjadi data-data angka yang tersimpan di cloud sana? Kita hanya punya angka? Barang-barang yang dijual itu ditukar dengan perubahan data di cloud sana yang hanya butuh sebuah perintah oleh komputer? yang bisa saja na'udzubillah dimanipulasi oleh penjahat-penjahat pintar? Ga tau sih ya. Mungkin perlu baca-baca gimana kata orang-orang ekonomi yang lebih ngerti.

Ngomongin Make up

Hai!

Dalam beberapa waktu terakhir ini, saya mengamati ada hal yang sedang sangat sangat sangat ngetren di kalangan khalayak muda cewe, yaitu make up. Saya tidak yakin hal ini hanya karena usia generasi saya yang sudah sekian sehingga dalam keseharian saya menemukan tren make up ini dan konten-konten yang muncul di sosmed saya ya termasuk salah satunya make up. Ketidakyakinan ini terjadi karena saya juga menemukan banyak anak-anak yang lebih muda daripada generasi saya yang sudah menggunakan make up untuk kesehariannya.

Sejujurnya, saya bingung apakah saya harus men-judge topik ini secara general sebagai make up atau hanya fokus pada satu jenis produk saja karena belakangan ini yang paaaaaling nge-tren menurut saya adalah lipstik.

Oke sekarang dimulai dari lipstik dulu saja soalnya yang banyak diikuti anak muda yang ini nih. Saya yakin jenis make-up yang dipakai anak sekolahan ya ini dan bedak. Selebihnya, seperinya skin care saja. Baru kali ini saya melihat lingkungan saya banyak banget yang pakai lipstik. Ya memang, lipstik dan teman-teman sejenisnya sendiri dengan berbagai warnanya (yang saya tiap liat bingung ngebedainnya gimana tapi variannya banyak banget) memang membuat wajah seseorang menjadi lebih menarik, saya akui itu. Soalnya tiap liat orang berlipstik dan warnanya lumayan menarik mata saya, fokus saya jadi lebih ke sana, ya ke bibirnya. Maaf ya, ciwi, saya ngomong gini. Tapi sebenarnya tujuan penggunaan lipstik pada awalnya bukanlah hal yang "salah". Menurut saya tujuan awal penggunaan lipstik adalah untuk menghilangkan efek terlihat pucat. Iya ga sih?

Oke. Sekarang ngomongin make-up secara umum. Wait. Make-up menurut saya beda dengan skin care. Menurut saya, Make-up adalah segala jenis tetek bengek yang digunakan untuk memoles wajah biar kelihatan lebih menarik. Misal nih ya : foundation, lipstik, bedak, merah-merah yang dipake di pipi, warna-warni yang dipakai di mata, eye-liner, pensil alis, dan mungkin ada lagi yang saya ga tahu. Btw, saya tahu beginian juga gara-gara di PSTK kalau mau nampil pakai make-up dulu. Kalau skin care, ya untuk merawat kulit. Misal lotion, pelembab, anti-radiasi, masker, dan mbuh liyane apa.

Sejujurnya, saya tidak menyalahkan penggunaan segala jenis make-up untuk anak-anak seusia saya karena ya wajar sudah umur sekian mulai memikirkan penampilan. Apalagi kebanyakan sudah lulus kuliah kan. Ada lebih banyak waktu untuk merawat diri. Saya agak sedikit menyayangkan banyak anak sekolah yang menurut saya belum cukup umur tapi sudah menggunakan lipstik, apalagi jenis make-up yang lain. Saya yakin, mereka melakukan itu karena ya sekarang sedang ngetren. Hanya mengikuti arus. Sebenarnya memang hak mereka untuk memilih menggunakannya, hak mereka untuk menghias dirinya, hak mereka untuk terlihat menarik. Hanya saja, menurut saya, mereka masih bocah, masih innocent-innocent-nya. Kenapa mereka harus mengikuti tren yang seharusnya tren generasi seumuran saya? Kenapa di mata saya seolah mereka juga "berlomba" agar terlihat menarik? Iya iyaaa, untuk terlihat menarik adalah hak setiap orang, setiap orang bebas melakukan apapun untuk tampil menarik. Namun, berusaha terlihat menarik hanya karena tren menurut saya agaknya sesuatu yang kurang sisi positifnya. Menurut saya, usia anak sekolah adalah waktu untuk mereka bersenang-senang, bermain, dan belajar. Bukan menjadikan penampilan sebagai prioritas. Nangkep maksud saya kan?

Lalu, saya menyayangkan lagi orang yang pakai make-up secara berlebihan hanya untuk keseharian yang sebenarnya tidak membutuhkan itu. Saking wow-nya the power of make-up, terkadang ada yang hasil make-up nya jauh berbeda dengan wajah aslinya. Lagi-lagi, bukan hal yang salah untuk menggunakan make-up. Lagipula, menurut saya juga, menghias diri sebenarnya merupakan salah satu bentuk ngajeni diri sendiri dan orang lain. Namun, jika niat penggunaannya adalah hanya karena ngetrend, hanya karena melihat orang lain terlihat bagus dengan make-up, menurut saya perlu dipikir-pikir lagi. Saya takut jika tujuan penggunaannya itu mentally mirip-mirip kayak operasi plastik yang lumrah di Korea. Menurut saya, tren operasi plastik yang dianggap wajar di Korea terjadi karena tekanan lingkungan yang membuat orang kurang mencintai apa yang dia sudah punya. Kalau motivasi penggunaannya seperti ini, jatohnya malah seperti tidak bersyukur atas pemberian Tuhan. Instead of that, kenapa ga mending mensyukurinya dengan merawat diri?

Maneh udah merawat diri belum, Nal? Ha ha ha

Jadi intinya, semuanya bergantung pada niatnya. Saya takut saja tren make-up yang ada sekarang terjadi karena mental ketidak-syukuran kita atas apa yang kita punya, atau malah tren make-up yang malah menciptakan mental ketidak-syukuran ini.

Ngomongin Antisosial

Assalaamu'alaikum. Halo!

Dalam kehidupan keseharian saya, sering muncul kata ansos atau antisosial. Biasanya ini dicapkan pada orang yang tidak terlalu bergaul di lingkungannya. Mungkin orang macam saya. Hahaaa. Makanya sebagai orang yang merasa bahwa dirinya sesuai dengan definisi ansos dalam keseharian saya, saya pengen menuangkan uneg-uneg terkait hal ini.

Orang yang dicap ansos belum tentu dia tidak mau bergaul dengan lingkungannya. Bisa jadi, dia saking dari zaman kecilnya jarang main, dia jadi terlalu sering sendiri. Selanjutnya dia jadi lebih menikmati waktu sendiri. Jauh dalam lubuk hatinya pasti dia juga ingin punya teman. Manusia itu tak selalunya bisa menikmati waktu sendiri, pasti ada saat dia butuh keluar. Dia juga ingin diterima di lingkungannya. Bisa jadi, keseringannya sendiri membuat dia tidak tahu bagaimana harus berinteraksi dengan orang lain. Membuat dia tak tahu harus berbuat apa. Membuat dia tak tahu harus ngobrolin apa. Membuat dia kikuk. Membuat dia kaku dan mungkin bagi orang lain, dia bukan orang yang easygoing atau apapun lah namanya. Mungkin karena kekikukannya secara tak sadar dia membangun tembok tak kasat mata dengan sendirinya. Membuat seolah dia tidak bisa dijamah. Selanjutnya, mungkin kekakuan ini membuat orang lain agaknya memilih kotak yang lain. Kalaupun dia sedang ada di dalam sebuah kotak, terkadang dia akan merasa seolah tersingkir. Entah sebenarnya dia memang disingkirkan atau tidak. Mungkin dia hanya terlalu sensitif sehingga merasa orang lain menyingkirkannya. Dan hal ini menjadi sesuatu yang buruk lagi kan?

Jadi, orang yang kelihatan ansos itu sebenarnya hanya perlu orang lain minimal satu orang untuk mendrag dia keluar. Butuh orang lain yang mau ngajak dia ngobrol. Bisa jadi jauh di dalam hati orang ansos, dia bingung harus seperti apa untuk menghilangkan "tembok"nya.

Demikianlah jeritan hati salah satu orang yang mungkin termasuk ke dalam kategori ansos dalam definisi yang saya temui di keseharian saya.

Anyway, kata Steve Bressert dalam psychcentral.com, antisosial yang sebenarnya adalah sebuah disorder dimana seseorang itu tidak dapat menghormati hak orang lain, dia banyak violating others atau mungkin juga menyalahi aturan. Mereka tidak punya empati dan tidak merasa bersalah ketika harus melanggar hukum atau aturan demi keinginan mereka.

Btw, setelah selesai nulis beberapa paragraf di atas, saya jadi mikir, sebenernya ansos itu antisosial atau unsocial ya? Soalnya kalau hasil searching lebih lanjut, kata yang lebih pas untuk menggambarkan keadaan orang yang kurang bergaul adalah unsocial.

Urusan Makanan di Negeri Ginseng

Halo! Sudah lama saya ingin menulis tentang ini tapi wacana terus hingga barusan saya mendapatkan dorongan untuk segera menulis.



Well, menjadi muslim di negeri yang mayoritas non-muslim memang perlu sedikit ribet. Mulai dari ibadah, pakaian, hingga urusan yang sangat sangat primer : makanan. Yaaa sudah sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bagi kebanyakan orang non-muslim, daging paling enak adalah yang diharamkan untuk kami muslimin : daging babi. Ya alasan gampangnya karena AL-Quran told us to do so. Namun, lebih dalam lagi, itu karena babi najis dan najis tidak boleh dimakan. Lebih jauh lagi, saya sempat baca artikel bahwa babi itu membawa banyak penyakit. Belum riset lebih jauh. Namun mengetahui bahwa dia omnivora, pemakan segala, termasuk kotoran dan bangkai, hal ini sangat mungkin terjadi. Mungkin karena itu lah Islam mengharamkan semua bagian dari babi : daging, tulang, darah, lendir, kotoran (ya siapa yang mau makan). Dan saya juga pernah dengar penyakit, bakteri atau entah apa hal buruk yang dibawa babi dapat dinetralkan dengan tanah. Mungkin karena itu Islam memberikan tata cara mensucikan najis dari babi dengan tujuh kali basuhan air bersih dan salah satunya dicampur tanah. Besides all of those stuffs, membayangkan penampakan babi saja bisa mengurangi nafsu makan saya. Ya gimana, dia pas hidup saja kelihatan berlemak-lemak, wajahnya ga ada unyu2nya, even versi gambarnya yang dibuat unyu seperti kartun, dan boneka pun juga ga unyu buat saya.

Sebenarnya yang membuat agak susah bukan hanya itu. Memang kami muslimin boleh makan daging (yang lumrah dimakan) selain daging babi, tapi masalah yang selanjutnya muncul adalah urusan halal. Ya, babi haram bukan berarti yang lain ototmatis halal. Daging yang halal adalah daging yang diproses sesuai aturan Islam. Harus disembelih dengan menyebut asma Allah, dengan menggunakan pisau yang tajam, disembelih oleh orang Islam (karena ya yang nyebut asma Allah dengan maksud yang benar lak yo wong Islam to), menyembelihnya di leher hewan (bukan disembelih kaki dulu, misal. Emang ada ya orang yang gitu?), dan mungkin beberapa detil lain yang saya belum tahu. Ya memang agak strict. Dengan kemungkinan bahwa menyembelih di leher dengan pisau yang tajam adalah pengetahuan umum yang diaplikasikan semua penyembelih, perbedaan utama hanyalah penyebutan asma Allah dan penyembelih yang muslim. Hanya dengan perbedaan itu, harga daging halal di negeri non-muslim bisa melambung jauh di atas daging biasa. Setelah saya pikir-pikir, kenapa saya baru concern beginian setelah di sini? Di negeri saya sendiri, Indonesia, yang notabene mayoritas Islam, saya juga harusnya memikirkan masalah ini saat makan ayam. Namun, selama ini saya merasa aman-aman saja. Mungkin karena mayoritas orang Islam gitu ya sehingga kemungkinan daging itu halal cukup tinggi. Apalagi kalau beli dagingnya langsung ke penjual muslim.

Bagi orang-orang yang strict, urusan daging ini menjadi masalah ribet, apalagi kalau orangnya tidak suka sayuran. Itu baru urusan daging doang. Masalahnya adalah, hampir setiap resto yang menyajikan daging menyajikan daging babi. Kegalauan melanda. "Ya ini sebenarnya boleh-boleh aja sih dimakan. Isinya sayuran semua. Lha tapi kan ini jadi alat-alatnya bau babi semua."  Di samping itu, penggunaan minuman beralkohol sebagai bumbu tambahan sepertinya menjadi hal yang lumrah di negeri seperti ini. Saya sendiri, menurut saya, adalah golongan yang so-so. Sebisa mungkin saya menghindari makan daging di resto atau sejenisnya. Namun, kalau kasusnya adalah saya dikasih, maksudnya saya harus makan bersama, atau memang kepepet, misal dalam perjalanan, ya saya makan-makan saja. Saya belum sampai tahap di mana saya mampu menjelaskan kepada sang pemberi bahwa saya menghindari makan itu sementara sebenarnya saya boleh makan daging jenis itu, belum lagi orang di negeri yang sekarang saya tumpangi menganggap menolak pemberian adalah hal yang sangat tidak sopan. Kalau masak sendiri, harus yang halal.

Oleh karena itu,mencari makanan di negeri non-muslim harus mau agak ribet kalau menjadi orang yang strict.

Masalah lebih rumit muncul seiring dengan banyaknya produk siap makan yang diproses dengan mesin yang juga digunakan untuk memroses pork. Entah sudah berapa kali saya terlanjur makan dan minum yang seperti itu. Apalagi saat belum bisa baca tulisan Korea selancar sekarang. Dulu, saat masih pertama di sini, awalnya saya sok merhatiin tulisan-tulisan di belakang kemasan. Tapi percuma. Tulisannya banyak, ga tahu yang komposisi yang mana. Lihatnya saja sudah pusing kepala. Jadi waktu itu saya hanya beli dan makan-minum yang sekiranya memang biasa saya makan dan minum.

Hingga suatu hari, akhirnya setelah akrab dengan orang yang ngerti dan sefaham dengan saya, dia memberi tahu saya bahwa setiap makanan di Korea ini akan memberikan highlight kandungan2 yang perlu diperhatikan, misal : tepung, telur, susu, pork, dll. Ini ditujukan untuk memudahkan orang-orang yang tidak boleh makan hal-hal tersebut. Biar mereka ga harus melototin semua komposisi, apalagi bagi foreigner. Semenjak itu, saya memperhatikan highlight itu. Saya membeli makanan dan minuman yang di highlightnya tidak ada pork.

Semuanya fine2 saja hingga suatu hari saya menemukan kata  dweji gogi (pork dalam Hangug-o) di bagian non-highlight. Bagian yang tidak saya perhatikan selama ini. Setelah nanya gugel translate ternyata artinya, "produk ini diproses dengan mesin yang sama untuk memroses : bla bla bla." Dan ada dweji gogi di sana. Oh man! Untuk masalah ini, saya berprinsip, yang sebelumnya ya sudahlah. Tapi kalau sudah jelas-jelas tahu bahwa itu bercampur dengan mesin untuk memroses babi, dan babi itu najis, berarti mesinnya masih najis selama belum kena banyak air dan diberi tanah. Mungkin ini terlihat sepele. Sempat muncul pikiran, "Ah kan cuma pakai mesin yang sama. Kena tepung, atau bahan-bahan yang lain harusnya "bau" babinya bisa diabaikan lah" tapi setelah saya pikir lebih lanjut, kalau sudah ada peringatannya, kenapa tidak dihindari saja. Kesadaran akan hal ini membuat sedih karena banyak jajan yang saya sukai ternyata masuk kategori bagian ini.

Sampai saat ini, saya kadang masih agak skip bagian mesin-mesin ini karena memelototi tulisan untuk nyari kata I jaephumun bla bla bla, menguras kesabaran dan membuat saya mengambil keputusan "Udah deh, beli aja dulu. Kelamaan. Ga enak di sini kelamaan. Dibaca entar aja." Sudah dua biji jajan saya sumbangkan ke teman karena terlanjur beli, dan tiga biji saya buang karena sudah terlanjur saya konsumsi separuh dan baru sadar ada tulisan itu -,-

Ya kalau jajan-jajan asin gitu pantes lah ya kalau "bau" daging-daging gitu. Lhah, barusan saya nemu di minuman kalengan, coy. Saya sudah habis separuh, trus baru nemu itu tulisan I jaephumun .... ADA DWEJI GOGI. Karena itu brandnya sama dengan kopi yang saya konsumsi beberapa menit sebelumnya, saya cek lah si kaleng kopi. ADA JUGA COY. Kopinya udah abis lagi. Siapa yang nyangka sih itu minuman manis diolah pakai mesin buat ngolah daging yang notabene harusnya buat mroses benda padat dan mayoritas asin -,-

Setelah menyadari terlalu banyak jajanan yang saya ga bisa makan, saya nggremeng, "Trus jajan apa dong? Kalau ga ada tulisan tentang mesin pemroses, bisa makan banyak jajan sih. Ah ditulis sih. Coba ga ditulis"  Dasar ya, orang suka makan -,- Tapi bukankah itu sangat mendukung untuk menghemat, Nal?? 

Agak ribet kan? Ya buat saya sih gitu. Beda orang, beda prinsip. Paling aman ya masak sendiri, ga usah jajan. Sekalian bisa nabung lebih banyak.

Namun, di sini saya kagum juga dengan informasi di bungkus makanan. Lengkap, Coy. Ada jumlah kalori yang mencolok di bagian depan. Orang Korea sangat memperhatikan kalori makanannya, mungkin ini implikasi dari stereotip yang beredar : Orang Korea sangat memperhatikan penampilan (ga tahu beneran atau engga tapi kayaknya iya banget). Trus di bagian komposisi, mereka memberikan detail hingga bahan ini produk negara mana. Ada highlight kandungan yang umumnya beberapa orang ga bisa makan. Setelah di depan ada jumlah total kalori, di belakang ada lebih detail lagi, semacam persen AKG di produk Indonesia. Dan juga info tentang produk tersebut diproses dengan mesin yang digunakan bersama bahan apa saja. Ya. Cukup lengkap.


Ada keterangan kalori total, coy.



Keterangan :
1. Komposisi, Detil sampek disebutin asal negara bahannya. ...san itu artinya dari negara ...
2. Highlight kandungan yang biasanya orang ga boleh makan. Di gambar ini ada uyu = susu.
3. Keterangan produknya diproses dengan mesin bersama bahan apa. Sudah habis diminum, ternyata ada tulisan dweji gogi nya. Hiks. Ga bisa minum ini dong :(
4. Keterangan AKG

Mengindra dengan Hati

I just watched "Filosofi Kopi". It was astonishing. I enjoyed the characters and "falling in love" with the character of Ben. Saya suka karakternya yang melihat hal yang "sepele" lebih dalam. Saya suka karakternya yang tidak hanya melihat sisi wealth. Saya suka karakternya yang filosofis.

Ngomongin filosofis, saya tertarik dengan kata itu. Saya tertarik dengan berpikir secara filosofis. Namun, saya sendiri sebenarnya tak tahu berpikir filosofis sebenarnya seperti apa. Dalam pikiran saya, berpikir filosofis itu melihat sesuatu dengan lebih dalam. Melihat makna, esensi, ataupun nilai yang dikandungnya lebih dalam. Entah itu benar berpikir filosofis atau bukan, atau itu namanya berpikir esensial. Entahlah. Whatever.

Sebenarnya saya bingung namanya apa. Sebut saja mengindra dengan hati.

Saya senang mengamati kehidupan di perjalanan saya. Baik kehidupan manusianya, ataupun suasana kehidupan non-manusianya. Kehidupan manusia yang tidak sedang berinteraksi dengan saya secara langsung. Saya senang melihat bagaimana orang-orang melakukan aktivitasnya. Mendapatkan pesan bahwa yang mereka lakukan sesepele apapun itu, sangat bernilai. Membayangkan untuk siapa dia melakukan itu. Kalau kehidupan yang berhubungan dengan saya secara langsung sih, saya ga peka, kadang juga ga ngerti.

Menikmati indahnya alam sekitar. Bukan hanya sekedar menjadi fasilitator photogenic. Mungkin menikmati kicauan burung, rindangnya pohon, indahnya langit yang terabaikan oleh kesibukan kehidupan lainnya.

Kadang ada waktu dimana saya menyadari bahwa saya sering makan atau minum tanpa benar-benar menikmati. Ga tau sih ya yang lain gimana, tapi ketika beneran menikmati, aroma teh yang biasanya pun jadi tercium lebih harum. Rasa khas teh juga lebih terasa. Dan mungkin ini yang dimiliki orang-orang penikmat makanan, entah segala jenis atau hanya jenis makanan atau minuman tertentu. Literally penikmat, bukan orang doyan doang.

Lebih dalam lagi, mungkin melihat tatanan makanan/minumannya, merasakan rasanya, kita bisa terbayang seberapa banyak cinta yang ada di sana. Hahahaa apaan sih.

Pun begitu dengan musik. Saya sering menebak-nebak suasana, apa yang ingin disampaikan pembuatnya melalui musik itu. Terutama musik doang atau lagu yang saya ga tau liriknya, atau tau liriknya tapi ga tau artinya. Mungkin itulah kenapa saya sukanya sama musik yang "bisa membawa saya hanyut". Ikutan ngrasain isinya. Kalau tahu liriknya, biasanya saya lebih menikmati yang makna kalimatnya dalam. Cukup puitis kali ya maksud saya. Kalau cuma ngedengerin, saya oke saja sih mendengarkan yang enak didengar. Kalau suka, beda sih.

Anyway, awalnya saya berpikir bahwa semua orang bisa merasakan perasaan yang tertuang di musiknya, terutama musik yang ga ada liriknya atau ga tahu liriknya. Ternyata tidak. Tidak semua orang bisa merasakan perasaan musik. Saya tahu itu ketika bertanya pada teman sekamar saya, apakah dia bisa merasakan isi pesan sebuah musik yang menyentuh hati saya, dia bilang ga bisa. Dia ga tahu dan selama ini pun dia tidak pernah melakukan seperti yang saya lakukan.

In the end, menikmati, meresapi segala sesuatu, mengindra dengan hati, berakhir dengan kekaguman. Kagum pada Yang Maha Menciptakan. Kadang merasa amazed bahwa sebegitu banyak makhluk terabaikan bertasbih padaNya, sementara banyak manusia hanya terpaku pada kesibukan. Merasa amazed bagaimana Tuhan mencetak muka yang bisa beda-beda padahal kontennya sama semua : mata, hidung, pipi, jidat, dll. Merasa amazed akan kebaikan Tuhan mau membuat bumi menghasilkan segala sesuatu yang kita konsumsi. Merasa amazed dengan kreativitas yang diciptakan Tuhan sehingga ada musik yang indah, padahal nadanya ya cuma itu kan. Merasa amazed dengan kecerdasan yang diberikan Tuhan sehingga peradaban ini ada. In the end, mengindra dengan hati membantu kita mengagumi Yang Menciptakan Segalanya. Lebih jauh lagi, bisa membuat lebih dekat denganNya.