Posts

Showing posts with the label monologue

Mental Manja

Permisi. Saya mau sambat di sini. Di sini kan ga ada yang baca lagi *eh haha.

Mental saya bukanlah mental yang saya impikan. Bukan mental sekuat baja. Saya rapuh. Mudah sekali patah. Selain itu, penakut pula. Mental saya hingga saat ini ditulis masih mental diajari dan disuruh. Masih mental disuapi. Perlu energi cukup besar bagi saya untuk membuat diri saya berani melakukan sesuatu yang mungkin bagi kebanyakan orang lain mudah saja. Bertanya, misalnya. Mudah kan? Tapi banyak kesempatan di mana saya benar-benar harus mengumpulkan keberanian hanya untuk bertanya.

Tapi saya tetap cinta diri saya. I don't want to blame her. I want to encourage her. I want to support her in every side of life. I want her to be a good person. I want her to be proud of herself and love her self more and more so that it makes her grateful for her life.

Terbuka

Menurutku, Nal, manusia perlu terbuka. Perlu memaklumi bahwa setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda. Bahwa setiap orang memiliki cetakan sifat yang berbeda. Selama tidak menyalahi aturan dan tidak mengganggu orang lain, mengapa harus dinyinyiri? Bukankah ada cara lain yang lebih manusiawi untuk melihat orang lain?

First Lessons of The Year

Bismillah. Halo! Apa kabar? Rasanya sudah lama sekali tak berkunjung ke sini. Bingung sih mau nulis apa. Karena lama tak menulis bikin ide dan kalimat jadi susah keluar. Hmmm kali ini saya nulis pelajaran penting (yang baru saya dapet) buat hidup saya aja deh.

Yang pertama, no sungkan-sungkan club. Sering sekali saya mengambil keputusan cuma karena perasaan ga enak sama orang lain. Banyakan sih hal-hal sepele semacem urusan diajakin main tapi kali ini saya sempat mengambil keputusan besar yang didasari rasa ga enak yang cukup kuat. Sekarang malah banyak menyesalnya. I feel guilty for my self. I tortured her.

I am really sorry, Nala. Karena kejadian ini aku bertekad kuat untuk menghilangkan urusan sungkan-sungkan ini. Jangan sampai ke depannya hal seperti ini terulang kembali. Untuk saat ini, kudoakan semoga kamu menemukan kebahagiaan dari keputusan ini sehingga dapat bertahan hingga akhir.

Saya senang beberapa kali saya berani menolak ajakan main (meski masih dengan rasa tak enak) karena saya sedang ingin sendiri. Saya introvert tulen. Saya, pada periode yang tak tetap, memerlukan waktu untuk sendiri. Benar-benar sendiri.

Yang kedua, please, Nal, for the rest of your life, jangan pernah ngomongin jelek-jeleknya orang di belakang. Jangan pula nyindir-nyindir. Lebih baik langsung disampaikan saja ke si empunya dengan cara yang baik, kan? Karena kamu tahu bagaimana rasanya, karena kamu tahu gimana berat dan sakitnya meski itu mungkin tak seberapa dibandingkan yang mungkin dirasakan orang lain.

Sekian dulu postingan pertama tahun ini. Semoga saya istiqomah ngeblog lagi 😁

Renungan

Jika saja kamu dilahirkan dan dibesarkan tidak dalam keluarga muslim, apakah kamu akan dapat menerima Islam sebagai keyakinan yang kamu anut atau malah kamu akan menolaknya mentah-mentah?

Sungguh, dibesarkan oleh keluarga muslim adalah karunia yang luar biasa bagi kamu, Nal! Jadi, berbaktilah pada orang tuamu yang telah membimbingmu untuk belajar tentang agama Islam.

Teruntuk Hati

Teruntuk hati yang terlalu mudah terserang iri,
Setiap orang sudah punya porsinya masing-masing,
Sudah diberikan jalan hidup masing-masing,
Sudah ditulis hidupnya sejak zaman azali

Teruntuk hati yang masih sering kalah dengan rasa takut,
Apa yang kautakutkan?
Semuanya akan terasa menakutkan selama kamu belum melakukannya
Bermimpilah
Tuhan memeluk mimpi-mimpimu
Apapun hasilnya, sudah ditulis sejak zaman azali

Teruntuk hati yang reaktif menanggapi akal,
Sudahkah kamu meminta akalmu bersabar sedikt untuk memikirkannya dengan tenang?
Pikirkan baik-baik!
Terkadang keadaan sebenarnya tak seburuk yang kaubayangkan dengan pikiran sesak

Teruntuk hati yang mudah putus asa,
Sudahkah kau curhat kepada Yang Maha Mendengar?
Renungi hidupmu, refleksikan diri

Fear

Saya ga tahu apakah ini pantas untuk dipost atau tidak. Saya sedang takut. Takut akan apa yang telah dan sedang saya lakukan. Takut jika yang saya lakukan sekarang ini maupun yang sudah-sudah hanya untuk menuruti hawa nafsu. Takut yang saya lakukan tidak berfaedah, tak memiliki nilai, tak ada artinya. Apakah saat ini saya melakukan hal yang benar? Saya tak tahu. Saya takut selama ini saya hanya memaksakan kehendak saya pada Tuhan. Saya benar-benar takut jika memang benar begitu adanya. Karena jika ya, jika itu memang hanya kehendak yang saya paksakan, bukankah belum tentu itu memang terbaik untuk saya? Tapi, bukankah, Allah itu Iradah, bukan Karahah?

MAYAT HIDUP


JANGAN LARI.
BIAR GA JADI MAYAT HIDUP MELULU.
Ayo kembali hidup.
Hidup yang sejati.

:)





Hey, you. Don't ever dare to forget those moments. I am looking forward to meet you someday, having our dreams.





Kamu Tak Pantas






Kamu tak pantas iri terhadap pencapaian orang lain karena kamu tak tahu bagaimana kerja kerasnya selama ini,

karena kamu tak tahu bagaimana dia seimbangkan dunia-akhiratnya,

karena kamu tak tahu bagaimana kesungguhan dia meminta pada Tuhan,

karena kamu tak tahu porsi rezeki setiap orang,

karena kamu tak tahu bagaimana rencana Tuhan yang pastinya jauh lebih indah daripada yang kamu rencanakan.




Before the start of the last | part 2

Sebenarnya postingan ini masih berkaitan dengan part 1, masih tentang wisuda agustus kemarin tapi di sini saya ingin cerita yang berhubungan dengan orang yang lebih khusus.

Wisuda agustus kemarin ternyata kak Sy juga diwisuda. Dengan mengabaikan satu tahun exchange yang dijalaninya, beliau tepat waktu juga mengerjakan TA. Saya pernah cerita sedikit tentang kak Sy sebelumnya di postingan Something I Have to Throw Away. Bahagia juga melihat kak Sy sudah diwisuda. Produk tugas akhirnya sebuah robot yang kalau saya ga salah tangkap, itu robot yang bisa jadi among tamu eh pemandu di pameran gitu. Dan clue ini membuat siapa kak Sy semakin jelas -____-

Sebelumnya, selamat ya kak Sy atas kelulusannya. Semoga selanjutnya makin dimudahkan jalan menuju cita-cita dan cintanya :D

Unfortunately, I haven't been friends with him. Masih menjadi orang yang cukup menginspirasi bagi saya yang semangatnya naik turun ini. Sebelum diwisuda pun saya sudah melihat postingan bahwa beliau sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan di Singapura. Haduh, kurang keren gimana coba, kemarin sudah exchange to Japan (and it makes me jealous -_-) sekarang sudah diterima kerja di Singapura saja. Belum lagi saya masih melihat semangat mencapai studi S2 nya yang katanya pengen di ETH Zurich, Switzerland.

Kepo lebih lanjut saya lakukan di blog. Walaupun saya sudah berkali-kali baca blognya hihihi. I found he was an ordinary person before. He had fallen to the deepest state *in his version also he said he got E in a course (lu malah dua mata kuliah belum lulus, Nal -_-), even he felt something like lonely, having no friends (kalau ini kayaknya saya terlalu lebay menginterpretasikannya), but he change. He want to change himself and he can. If someone can do it, Nal, so do you.

Before the start of the last | part 1

Euforia wisuda agustus kemarin terlihat masih membahana di timeline facebook. Banyak postingan yang isinya tak jauh berbeda : ucapan selamat dan terima kasih yang diungkapkan dengan berbagai kemungkinan rangkaian kata. Postingan foto pun tak karuan banyaknya. Semuanya terlihat bahagia. Ada yang memamerkan berbagai hadiah yang ia dapat, ada yang memperlihatkan kebahagiaan dengan foto bersama keluarga, ada yang memperlihat kan kebahagiaan dengan berfoto bangga bersama produk TA nya, ada yang memperlihatkan kebahagiaan dengan foto-foto bersama kawan-kawannya.

Somehow it makes me think. I wonder how my graduation day will be. Looking at myself, looking which state I am standing now makes questions babble in my mind. Will something like that happen to me? I don't care about the souvenirs, the "arak-arakan", the performs, but what I mean is friends. Will I feel "I have friends" that time? Will I really have friends that time? Apa serunya diwisuda tanpa adanya teman.

Okay, Nal. I think you know what you want. You should know what to do to get it.
I should open myself wider than before. Making friends.
Yeah, you have to be open minded. The last year in this campus, make beautiful memories, make friends and make a happy ending. Do what you want to do. 

Hahaa hanya monolog dalam pikiran saya
"I want to make friends"
Mana semangatmu? Kalau loyo begini bagaimana mau menghadapi level kehidupan berikutnya? Gimana mau meraih impian itu?