Posts

Showing posts with the label Kuliah

Cerita Kuliah

Assalaamu'alaikum!

Yay. Akhirnya genap satu minggu mengikuti kuliah. Mari sekarang menceritakan minggu pertama. Kuliah di sini dimulai hari kamis lalu tapi Kamis saya ga ada kuliah jadi hari pertama kuliah saya adalah hari Jumat. Malam Jumatnya, saya dichat seroang teman bahwa dia dan satu orang lagi ga bisa datang. Esok paginya, saya datang ke kelas. CUMA SAYA SEORANG YANG DATANG. LITERALLY. Ternyata pesertanya cuma bertiga : saya, yang ngechat saya, dan temannya. Kzl bgt.

"You're also in the next 12pm class, right?"
"Yes"
"Kalau begitu saya sampaikan apa yang perlu disampaikan sekarang sekalian ya. Soalnya kelas itu pesertanya kamu doang."
Dalam hati, "Seriusan???"

Setelah melewati waktu PRS, akhirnya kedua mata kuliah itu ditutup. Akhirnya ga mikir-mikir lagi mana yang mau didrop. Jelas-jelas dua biji ini ga bisa diambil wkwkwk. Senin ini masih ada waktu PRS buat drop doang. Saya mau drop satu mata kuliah. Jadi saya nanti cuma nyisain 9 SKS. Hahaha. Sisanya, saya pengen ikut lab wkwkwk. Doakan saya, please. Saya kan masih cupu.

Pelajaran dalam english buat anak elektro di sini kebanyakan practical. Dan tiap minggu harus progress report. In the end harus bikin paper.

Saya beruntung sekali dapat kelas Bahasa Korea bareng anak internasional dari negara lain. Anak kampus sebelah dipindah ke kelas lainnya. Sonsengnim is really funny dan berusaha maksimal sekali. I think Learning Korean alphabet and its sound is difficult for European guys. Ya gitu deh. Sejauh ini, kelas paling seru ya itu.

Belum nemu lab mana yang bakal jadi tempat berlabuh. Gimana yaaa. Hiks.

Btw, mari kita ceritakan bagaimana kampus di sini. Kampusnya kecil. Gedung utamanya cuma tiga biji : Techno, Digital, Global. Ada gedung perpus, Dorm beberapa biji, gedung energy, gedungnya dikit kok. Ga sebanyak ITB. Ga sehijau ITB sejauh ini karena sekarang gersang semua jadi ga bisa dibandingin. Hahahaa. Dalem kampus ada satu bus stop yang bikin akses ke mana-mana mudah. Jalan dari depan kampus ke dorm yang cukup di belakang butuh waktu 10-15 menit jalan kaki cukup santai. Sejujurnya, saya mulai bosan. Jalan2, ngelihat gedung itu2 melulu. Kalau di ITB tuh entah kenapa ga bikin cepet bosen.

Trus di sini kalu udah lewat jam 6, yaudah, kampus sepi. Belum ngecek ke bagian2 lain sih. Kalau weekend, kampus sepiii banget. Pada keluar semua. Ya ga semua sih.

2016 part3 - ceritanya keterima exchange program

Yay sudah ketiga. Terakhir cerita tentang daftar exchange ya.

Semester lalu di tengah terpuruknya saya, saya membuat sebuah hipotesis bahwa saya baru akan bersemangat jika kegiatan selanjutnya sudah jelas. Karena saya memimpikan untuk exchange ke luar negeri sebelum lulus dari ITB, maka saya mencoba merealisasikan mimpi tersebut. Saya riset sejak bulan agustus. Saat itu saya masih belum memutuskan mau exchange ke mana. Waktu itu yang saya pikir, yang penting exchange, kemanapun, ga masalah. Nah akhirnya diri ini dipertemukan dengan drama Korea yang membuat saya dan teman sekamar telat puber. Saya jadi seneng sama Korea-an. JAdi tertarik sama South Korea. Gara-gara PYC nih. Dan tiba-tiba keinginan saya untuk exchangenya ke Jepang seperti tergeser. Jadi pengen ke South Korea. Pengen ketemu PYC.

Jadi saya nglirik juga tuh pengalaman temen seangkatan yang dulu pernah ikutan program ke Korea. Setelah sekian lama berpikir, menimbang ini dan itu, saya yakin bahwa saya beneran pengen exchange ke sana. Nama kampusnya 금오공과대학교 selanjutnya mari kita sebut KIT.  Saya sempat menghubungi kampus tsb via e-mail, tanya tanya. Ceritanya, waktu itu belum ada pengumuman apa-apa dari ITB (sebelumnya juga teman saya daftarnya langsung ke sana, ga lewat ITB). Namun e-mail saya tak kunjung dibalas. Dan ternyata periode ini pendaftarannya lewat IRO. Daftarlah saya ke sana.

Anyway, jika pembaca di sini ada yang anak ITB dan belum lulus, kalian harus tahu apa itu IRO. Terutama kalau kalian masih muda dan ingin memanfaatkan kesempatan internasional. IRO adalah kantor internasionalnya ITB. Kantornya di sebelah timur KKP depan parkiran sipil. Di sana kalian bisa menemukan berbagai kesempatan internasional seperti exchange, summer program, pelatihan bahasa, konferensi, dan juga melihat partner universitiesnya ITB. Websitenya ada di sini. Dan kalau kalian mau update terus, sangat direkomendasikan follow twitternya di @IRO_ITB atau kalian cukup sering-sering buka saja webnya.

Saya mantap hati mendaftar. Saya juga berhasil mempengaruhi seorang teman untuk daftar juga. Haha dia mau. Tunggu ditunggu akhirnya ada tiga orang dihubungi sama Mbak Ciptani, staff IRO, salah satunya saya. Wuoh bahagia banget hati ini. Teman saya, Ilma juga dihubungi, dan satu lagi Nadia dari Fisika Teknik. Semuanya 2012. Wew. Kami dihubungi untuk ditanyai apakah kami tetap akan mendaftar program ini karena tidak ada beasiswa untuk biaya hidup. Saya sih karena sudah mantap, ambil saja. Soalnya berdasarkan cerita teman yang sebelumnya di sana, hasil part-time job yang disediakan cukup untuk hidup di sana. Jadi karena saya sudah terlanjur pengen, saya iya iya saja. Waktu itu saya yakin, kalau saya mau, Allah pasti kasih jalan.

Berkas kami bertiga dikirim. Menunggu pengumuman selanjutnya lamaaaaa banget. Nah karena diterima di level ITB ini nih saya jadi ada sedikit semangat buat mengerjakan TA, yang saya bilang cuma bertahan tiga minggu di post sebelumnya. Ya karena itu. Tapi waktu itu saya mengerjakan tidak di lab. Saya masih takut ngelab. Takut ketemu orang-orang di lab.

Lamaaa banget nungguin pengumuman dari KIT. Saya sama Ilma sampek gantian nanyain ke Mbak Ciptani. Hingga pertengahan bulan Desember saya baru mendapatkan kabar resmi bahwa saya dan Ilma diterima program exchange di KIT.  Seneng? BANGET. Nadia karena sesuatu dan lain hal di prodinya, aplikasinya di withdraw. Sayang sekali :(



Selanjutnya saya e-mail2an sama Ms Lee buat nanya-nanya. Kami nanya banyak banget. Tentang kesempatan beasiswa dan detail program. Karena ga ada beasiswa, kami menyiapkan proposal (awalnya sponsorship) permohonan bantuan dana ke prodi dan perusahaan-perusahaan. Jadi waktu itu bukannya ngerjain TA biar cepet kelar, saya mikirin itu dulu. Hahahaa.

Ternyata kepikiran ga punya duit itu bikin stress juga wkwkwk. Waktu itu rencananya saya ga pulang pas liburan akhir tahun, namun ternyata ga kuat. Ditambah ternyata Ilma mengundurkan diri. Beuh kehilangan teman berjuang. Masih juga kepikiran TA belum kelar. Saya rapuh. down. ga kuat. saya pulang mendadak di tanggal 31 Desember 2016.

Cuma lima hari di rumah tapi worth it sanget. Bapak saya tahu, masalah utama saya sebenarnya adalah ketakutan dalam diri saya. Saya terlalu rapuh. Sebelum saya kembali lagi ke rantau, bapak saya ngomong (seperti biasa, bukan ngobrol yang kami duduk bareng. Waktu itu saya lagi bikin teh, beliau barusan dari kamar mandi),

"La, nanti kalau udah balik, kalau sendirian jangan takut ya. Kancane Gusti Allah. Nanti kalau ke lab juga jangan takut lagi. Kancamu Gusti Allah. Ga usah peduli orang di sana. Sama Allah aja. Hatinya diisi Gusti Allah"

Saya hampir mbrebes ndenger itu. Nyess banget. Jleb jleb jleb. "Kancamu Gusti Allah.". Sebelum balik, saya punya keinginan, SAYA HARUS KEMBALI HIDUP SEBELUM SAYA BERANGKAT KE KOREA. HARUS.

Saat saya balik, tiba-tiba saya dihubungi dosbing, nanyain TA. Langsung stres mau gimana. Soalnya beliau menghubungi saya karena beliau dihubungi kaprodi. Beuh langsung stress. Hari itu juga saya ketemu dosbings. Pikiran saya penuh awan kegelapan. Saya takut. Takut banget. Selama ini, jangankan ke labtek 8 lantai 2, labtek 8 saja udah serem buat saya selama satu semester.

Hari itu pertama kalinya saya memaksa diri saya untuk mengunjungi labtek 8 lantai 2 setelah terpuruk sekian lama. Takut banget. Sepanjang jalan, mata saya pedas, bekas nangis yang juga masih pengen nangis. Sepanjang jalan, saya bilang ke diri saya, "tenang, Nal. Kancamu Gusti Allah. Kancamu Gusti Allah. Ga ada yang perlu dikhawatirkan." Saya tak tahu kenapa ketakutan saya terhadap labtek 8 lantai 2 separah itu padahal kalau dipikir-pikir, sebenernya saya tinggal dateng, duduk, ngerjain. Yah, orang lain mungkin bisa tapi psikologis saya waktu itu belum bisa.

Saya ketemu dosbings dengan pikiran berkecamuk. Muka saya pasti sangat muram. Saya banyak menunduk. Saya bingung menjawab pertanyaan dosbing selama ini saya ngapain aja. Saya ceritakan bahwa masalah saya yang utama adalah masalah psikologi dan kontrol diri. Responnya ... Haha. Hari itu juga saya menyadari bahwa di dunia ini tidak ada orang yang peduli bagaimana keadaan saya. hanya Allah yang mengerti saya. Hanya Allah yang peduli saya. Orang terdekat seperti keluarga memang peduli namun mereka tidak bisa peduli secara real-time seperti Allah. Iya. Hari itu saya mendapatkan pelajaran yang berharga.

Saat bertemu dosbing, saya punya dugaan beliau menduga saya mahasiswa yang dari dulu-dulunya gagal, perangainya buruk, prestasinya sangat kurang. Soalnya beliau juga menanyakan IP saya. Hahaa. Saya berdalih, "Saya ga inget, Pak". Saya juga ditanyain, kira-kira bisa ga ini selesai dalam dua minggu. State negatif memang sangat menyebalkan. Jawaban yang saya utarakan, "Saya tidak berani menjanjikan bahwa saya bisa." Saya menjawab sambil melihat meja, bukannya eye-contact dengan beliau. Saya tahu beliau kecewa. Mau gimana lagi, saat itu saya sedang negatif, itu yang muncul di pikiran saya dan keluar begitu saja. Akhirnya saya keluar ruangan beliau dengan murung, wajah tertunduk.  Intinya kerjakan saja sebisanya sampai akhir Januari. Harus selesai akhir Januari karena kalau sampai waktu PRS nilai saya belum berubah, nilai TA 2 saya jadi E which is saya ga lulus dan harus ngulang. Kalau jadi ke Korea bakal terbelenggu beban lagi tuh kalau sampai E.

Ternyata salah satu penyumbang state negatif saya adalah PMS -_- Esoknya, sudah terasa lebih baik. Mulai hari itu saya ke lab. Masih sepi karena belum masuk jadwal perkuliahan. hari pertama itu, saat berangkat, sepanjang jalan saya kembali meyakinkan diri saya, "kancamu Gusti Allah. Tenang. Gak perlu wedi. Kancamu Gusti Allah." dan hari itu sepanjang di lab, karena masih pertama (lagi), ketakutannya masih sering muncul. Tiap kali muncul, kembali saya menenangkan diri dengan "kancamu Gusti Allah." dan juga segera ngechat teman sekamar apa yang saya rasakan, bahkan isi chatnya seolah saya sedang menasehati diri saya sendiri. Begitu pula hingga berhari-hari berikutnya. Sampai saat ini saya merasa lebih biasa saja untuk datang ke lab. Hari itu saya belajar menyembuhkan ketakutan saya kepada lab.

Kalau ga salah hari kedua, ada Mas Hendy. Waktu itu saya sedih banget selama ada beliau. Saya tahu, cara beliau melihat saya adalah pandangan kasihan. Saya tak suka dikasihani dan saya tidak nyaman dengan itu. Tapi saya harus maklum sih, keadaan saya memang sangat memprihatinkan. Jadi hari itu saya belajar menerima kenyataan bahwa orang lain mengasihani saya. Perlahan saya mulai biasa dengan itu. Saya pikir, kalau saya bisa biasa saja menghadapi ini, mereka juga akan biasa saja melihat saya.

Pernah saat ke lab, udah ada partner di sana. Kami cuma berdua. Ketakutan saya masih belum hilang. Apa yang terjadi? TIGA JAM SAYA GA NGAPA-NGAPAIN. Saya takut ngerjain TA karena ada dia. Astagaaa. Tapi selanjutnya saya memaksa diri dan berakhir saya ngerjain selama satu jam. Lumayan. Pulangnya, saya pamitan juga sama partner. Dan saya bilang ke diri saya, "Dia ga ngapa-ngapain, Nal. Apa yang ditakutin?" Saat itu juga, saat saya pamit ke partner, secara tak sadar saya memulai belajar overcome ketakutan saya pada partner.

Dan sekarang? barusan saya ke lab. Ada partner. Dan rasanya biasa saja. Saat ini, saya sedang stuck ngerjain. Tolong doakan saya. Tinggal beberapa hari lagi :(

2016 part2

Saya sedang suntuk. Suntuk dari kemarin kok ga kelar-kelar. Oke oke. Trus saya bisa apa kalau semurung ini? Setelah baca-baca tulisan teman, saya jadi mau move dari kasur dan sampai saat ini, pikiran negatifnya hilang. Saya pikir, bangun, mungkin setelah kamu menulis kamu jadi lebih rileks. Jadi, mari kita lanjutkan tulisan kemarin, Nal.

Ada momen yang sangat saya ingat. Waktu itu hari deadline pengumpulan kelengkapan sidang : poster, makalah, buku TA, slide presentasi. Malam sebelumnya, saya mimpi cukup menakutkan, dan saya cerita ke partners.

N : "Tadi malem aku mimpi serem."
P1 : " ... "
P2 : "Apaan, Nal?"
N : "Aku mimpi, aku kalian tinggal sidang."
P1 : "Hah?"
P2 : "Hah? Nal, ini aja belum kelar, udah sidang aja."
N : "Ya kan mimpi."
P1 : "Udah, ini kelarin dulu."

Ternyata itu pertanda pertama untuk nasib saya selanjutnya. Haha. Saya ingat, saat pembuatan poster, semangat sekali saya bikinnya. Siang hari, partner 1 inisiatif bikin gitu tapi, maaf ya, menurut saya kurang menarik. Teman sekamar saya juga bilang begitu. Jadi saya bikin deh poster semalaman sampek gak tidur. Esoknya diprint sama partner 1. *ini ga penting deh, Nal*

Semester itu adalah semester yang banyak keluhan. Saya tidak suka dan tidak kuat dengan kondisi lapangan. Kalau kemarin saya bilang bahwa hubungan internal tim saya membaik hingga sidang, ya memang lebih baik, tapi tidak seperti kondisi yang saya harapkan. Dan kondisi yang seperti itu : kurang komunikasi dan "ketakutan" membuat saya terlalu sering stress. Semester itu menjadi semester yang saya paling sering jalan dengan pikiran kosong (eh apa justru karena terlalu mikir ya?). Sampek ga menyadari kalau ada orang yang dikenal, trus pas disapa agak kaget dan membalas, "Ah, hai." dengan senyum agak maksa. Semester yang membuat saya murung. Hahaa. Saya ingat, suatu hari saya bertemu Fitri dan Mentari di Masjid Salman. Mentari menyapa saya, dan entah waktu itu seperti apa intinya yang saya tangkap, kata mereka muka saya murung banget, serem. Dan hari itu saya menyadari saya terlalu lemah dan sudah keterlaluan stress-nya.

Kerjaan bagian saya di TA sebenarnya simpel namun entah kenapa kok saya susah banget ngerjainnya. Mungkin saya bodoh tapi ga nyadar, jadi sok merasa kalau itu simpel (gara-gara novel Laskar Pelangi, tertohok juga saya. Jadi takut kalau saya beneran bodoh tapi ga nyadar). Kenapa ya, kok kerjaan yang seharusnya bisa menyenangkan dan simpel itu bisa menjadi begitu susah saat itu. Kerjaan bagian saya belum sempurna hingga saat sidang. Dan lagi, kerjaan kami bertiga belum diintegrasikan. Karena belum siap, saya makin stress di hari sebelum EE Days. Saya ingat, hari pertama, Kaprodi nyamperin booth kami.

"Kenapa?"
"Hah? Kenapa apanya, Pak?"
"Kok kayaknya takut, tegang begitu. Belum sempurna?"
"Iya, Pak."
"Jangan tegang. Kan ga ada yang tahu."

Dan hari pertama saya tetap tegang seharian. Kepikiran besoknya sidang gimana kalau ga siap. Akhirnya setelah EE Days hari itu berakhir, saya lembur di lab, mencoba memperbaiki kerjaan saya. Saat itu, masalah baru muncul. Motor kaki kiri robot nao yang dipakai bermasalah. Ditambah, waktu itu tiba-tiba ga bisa streaming gambar dari robot lewat server yang biasanya. Beuh panik dong. Saat itu saya ga berhasil. Saya pulang tengah malam. Saat itu hujan tapi saya nekat karena kalau saya ga pulang nanti malah gawat. Saya ga berani nunggu angkot caheum-ledeng yang jam segitu pasti hampir ga ada jadi saya berencana lewat jalan dago. GA ADA ANGKOT. Saya jalan sampek McD lanjut naik angkot caheum-ciroyom. Hujan-hujanan (pake payung sih tapi tetep aja basah). Kok waktu itu saya ga pake angkutan online gitu sih? Bego emang.

Di kosan sebenernya ga tidur sih, ngebenerin slide presentasi. Selain itu juga ga berani tidur karena saya berencana ke kampus pagi-pagi. Hari itu hari sidang saya, 08 Juni 2016. Dengan kehujanan di malam sebelumnya dan tanpa tidur semalaman.  Hari itu rasanya saya tak ingin berangkat. Saya takut. Rasanya ingin lari saja. Akhirnya sebelum berangkat, saya menelpon keluarga di rumah. Siapa lagi yang selama ini jadi perantara pengadem hati saya?

"Apa yang akan terjadi nanti sudah tertulis dari sononya. Jadi jangan lari. Ga usah khawatir. Semuanya udah ditulis."

Berangkatlah saya jam 6 pagi. Ternyata di lab sudah ada partner 1. WOW. Di hari sidang itu malah suasana dalam tim kami jadi tidak mengenakkan. Ada kesan salah satu di antara partners ngambek. Diem2an deh. Duh, itu tuh saat dimana sebuah tim seharusnya saling menguatkan. Ditambah kami dapat kabar kalau salah satu penguji kami diganti dan setahu kami perangai pengganti ini tipe dosen yang "susah". Makin dag dig dug deh. Tapi hari itu saya bahagia. Kami ga janjian pakai baju warna apa. Tapi baju kami matching. Hahahaa seneng karena hal agak ga penting.

Suasana tidak enak hingga kami akan menuju ruangan sidang. Sidang kami hanya ditonton 3 orang : adeknya hilmi, pacarnya Irfan, dan Fitri. Saya sangat berterima kasih pada Fitri yang memilih melihat sidang saya karena ada dosen senior, bukan sidangnya Lovila. Kalau tidak, kok kasian banget saya ini.

Dan ternyata sidangnya sangat menyenangkan. Saya bisa senyum-senyum setelah sidang dan tidur nyenyak di kosan. Alhamdulillah.

Saya sudah cerita atau belum ya kalau semester itu karena keadaan ekonomi, saya punya plan setelah sidang saya mengisi liburan dengan magang. Iya. Akhirnya saya beneran magang di Tritronik. Dan pas EE Days, pembimbing saya mampir. Hahahaa.

Setelah sidang kan revisi tuh. Sebelum lanjut, saya akui bahwa saya ini terlalu lemah dan bego. Kami bertemu dosbings. Beliau meminta kami melanjutkan kerjaan sampai wisuda Juli 2016. Buku TA sih sesuai yang ada saat itu saja gapapa. Tapi saat pertemuan itu juga, saya mendapatkan pertanda kedua nasib saya selanjutnya. Apa yang terjadi? Saat pengumpulan buku TA, saya belum siap. Saya terlalu down dengan pertanda yang saya dapatkan. Kami tidak mengerjakan hingga nilai TA keluar. Saya sih terlalu down dengan tidak lulus. Selain itu juga kan saya lagi magang. Pas saya cek, apa nilai saya? TA2 saya A. Saya ga percaya dan tanya dosbing. Dan katanya, ada kesalahan entry. Dan akhirnya? Nilai TA2 saya T. Alasannya? Saya terlalu bego. Saya tidak menemui untuk meminta kejelasan lebih lanjut. Saat itu yang saya tangkap : saya masih ada satu semester lagi untuk menyelesaikan SKS, kami belum mengerjakan yang disuruh hingga tanggal wisuda, entah di pertemuan kapan gitu saya pernah bilang ke dosbing kalau yang terjadi di tim saya itu salah satunya ya salah saya, saya belum ngumpulin buku TA, makanya itu saya dapet T. Dan yang saya tangkap, saya harus mengerjakan lagi. Bego emang bego.

Down? YA IYA LAH. Down-nya ga tanggung-tanggung. Lebih dari satu semester ga bangkit.

Ohiya di tengah magang, saya masih kepikiran keinginan untuk exchange. Tapi saya terlalu bingung untuk memikirkan TA belum lulus, semester selanjutnya udah ga dapet beasiswa, mau minta dari rumah kok gimana. Jadi suatu hari saya pernah menemui dosen lain untuk curhat dan konsultasi. Mungkin saat itu bu dosen tidak melihat semangat sama sekali di mata saya. Saya juga ditanyain, "kamu masih semangat kan?" Haha ceritanya kembali waktu itu saya pengen daftar YSEP yang periode spring. Masih belum kapok juga haha. Tapi kali itu gagal daftar karena saya takkunjung bisa membuat motivation letter. Haha ini kayaknya niatnya kurang gedhe sih, Nal

Di awal semester lalu, saya menemui dosbing. Memohon maaf karena saya menghilang. Saya lebih memilih menyelesaikan magang saya karena kan sudah kontrak. Saya cuma ketemu dengan satu dosbing. Saat itu katanya saya diminta melanjutkan mengerjakan kembali. Saya diminta memikirkan apa yang akan saya lakukan. Di pertemuan selanjutnya, masih dengan dosbing itu, saya menjelaskan apa-apa yang saya rencanakan. Dan iya iya saja.

Kenyataannya, ternyata saya belum bangkit dari keterpurukan. "Ketakutan" saya masih ada. Semester lalu saya tidak berhasil menguatkan diri saya untuk berani ke lab. Di lab ada apaan sih, Nal??? Saya takut ketemu orang-orang, terutama partner yang masih di lab. Malu kali, Nal. Iya deh, malu, tapi takut juga.

Yah begitulah. Selama satu semester saya terpuruk tanpa kejelasan. Sering saya sok menganalisis kok saya begini sih. Ternyata tidak lulus TA membuat saya terlalu drama. Saya selalu ga bisa mengajak diri saya mendatangi sidang teman-teman. Haha, maaf guys. Denger kabarnya saja membuat saya kembali meratapi nasib. Selama itu juga setiap teringat teman-teman lain yang TAnya masih berkelompok, saya iri. "Enak ya ada temen. Andai ada teman yang bisa ngajak saya dan membuat saya ga takut." Selalu saya berpikir begitu. Saat itu saya sangat mendambakan sosok Arai.

Ohiya, masalah keuangan semester lalu dapat terselesaikan karena saya mendapatkan beasiswa dari IOM dan juga nyambi ngajar. OK kembali ke plot sebelumnya.

Saya terjerumus terlalu dalam ke dalam lingkaran setan (halah bahasanya). Saya bingung karena tidak ada motivasi sama sekali untuk segera menyelesaikan ini semua. Saat itu, sering sekali saya menyalahkan Tuhan. Kenapa sih kok saya ga lulus. Dulu saya sampek segitu stressnya lho. Mau sidang pun sampek hujan-hujanan. Kenapa harus ga lulus dan harus ngerjain lagi? Saya ingin bebas dari belenggu itu. Saat itu saya sadar dengan sesadar-sadarnya, belenggu yang memberatkan hidup saya waktu itu ya TA ini. Namun, aneh sekali saya menyadarinya tapi tak punya motivasi untuk mengerjakannya.

Mengingat orang tua tidak mempan bagi saya. Dasar anak kurang ajar. Omelan teman sekamar juga tak mempan. Melihat teman sekamar yang semangat NeA bersama teman-temannya malah membuat saya kembali iri dan mendambakan Arai.

Saya terlalu lemah. Bapak saya memang orang yang jauh lebih baik dibandingkan saya. Lebih optimis, lebih pantang menyerah, positive thinking, lebih "adem", sering inget bersyukur. Namun, sayang sekali sifat seperti itu tidak diturunkan melalui gen. Manusia mendapatkan sifat-sifatnya berdasarkan pengalaman hidup yang telah dilaluinya. Jadi ya beginilah saya, masih lemah hingga sampai saat ini saya mendambakan ketahanan mental at least setangguh bapak saya.

Akhirnya semester lalu saya hanya berhasil memaksa diri saya mengerjakan sangat sedikit sekali. Hanya bertahan 3 minggu kalau tak salah. Dan sekarang setelah saya memulai kembali pun juga stuck begini.

Keinginan untuk exchange masih ada. Masih ada, coy. Saya terpikir, mungkin seperti yang dulu dulu, saya perlu pendorong berupa target selanjutnya yang sudah fixed. Makanya saya masih pengen exchange. Saya pikir, kalau saya keterima exchange, saya akan lebih semangat untuk segera melepas belenggu ini. Jadilah saya mendaftar exchange. ...

Anyway, di bulan Juni-Juli gitu saya juga ikutan kegiatan student summit yang diadain NUS tapi sepertinya euforianya ga sebahagia jika saya lulus TA saat itu. Haha

(Lanjutan) Dilema


Dulu saya pernah cerita tentang penyakit dilema di awal semester ini kan ya? Hahahaa akhirnya minggu PRS terlewati. Keputusan sesungguhnya terjadi di sana kan? Hahaa jadi gimana?

Hahaaa dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan semester ini bukan semester terakhir saya di ITB.

Hahaa entah kenapa saya merasa bahagia dengan pilihan itu. Saya bersyukur ada kesempatan ambil manpro, ambil OOP, ada kesempatan magang sambil kuliah, ada kesempatan lebih buat nyiapin exchange (masih saja diperjuangkan), menambah teman dan relasi, dan menyiapkan diri buat beneran lulus. Tapi ini kan masih kesempatan, Nal. Ketergunaan kesempatannya bergantung padamu.

Kita vs Kami


Sering banget saya ketemu anak ITB yang masih salah menyebutkan kita dan kami hahaa. Padahal udah gede wkwk. BTW saya dulu dengan sadar diri menyadari bahwa saya salah, dan itu baru semester 4 atau 5 gitu. Sebelumnya ngomongnya masih pakai "kita" melulu hahahaaa. Sekarang sudah bener kok haha.

Semakin tergelitik buat nulis ini gara-gara pas chat sama Wheland dia salah nyebut kami menjadi kita. Saya merasa lebih beruntung menyadari kesalahan sendiri, daripada si Wheland yang baru nyadar setelah ditegur dosen hahahaaa.

Jadi gini temen-temen. Kita harus tahu bedanya "kami" dan "kita". Itu kan pelajaran SD.

ki·ta pron 1 pronomina persona pertama jamak, yg berbicara bersama dng orang lain termasuk yg diajak bicara;

ka·mi pron 1 yg berbicara bersama dng orang lain (tidak termasuk yg diajak berbicara); yg menulis atas nama kelompok, tidak termasuk pembaca;

Tuh, jadi kita harus pakai "kami" kalau yang kita maksud tidak menyangkut yang kita ajak bicara. Jangan salah lagi ya, Kawan.

Cerita Kuliah Pertama - part 3

Alhamdulillah akhirnya sudah hari Sabtu. Akhirnya minggu pertama kuliah sudah terlewati. Menyisakan kuliah RTMF yang tak kunjung muncul jadwalnya dan belum tahu ruangan kuliah MIB hahaha. Kemarin sudah bercerita sampai pengalaman hari Rabu. Sini sini, saya ceritain sisanya.

Hari Kamis barusan adalah Kamis yang spesial. Saya skip kelas MIB, makanya saya belum tahu ruangannya. Waktu itu saya lagi ikutan tes Bahasa Inggris. Mbolang-lah saya ke UPI karena saya dapat tempat test di sana. Di ITB kebetulan kuotanya sudah penuh, kebetulan lagi di UPI yang awalnya kuotanya penuh, ternyata ada yang membatalkan tesnya jadi slotnya segera saya isi. Pagi-pagi namun lebih siang dari yang direncanakan saya berangkat ke UPI ternyata di sana masih menunggu cukup lama. Sempat bercakap dengan mbak-mbak di samping saya yang tampaknya juga sedang di semester yang sama seperti saya.

Saya : “Mbak, ambil tes buat apa?”
Mbak : “Buat LPDP.”
Saya : “Waaah. Mau kemana? Eh buat Master ya? Atau S3?”
Mbak : “Di dalam negeri aja kok. Buat S2. … . Kalau Mbak mau buat apa? S3 ya?”

Eh buset, muka saya muka-muka orang kuliah S2 mau lulus ya? Tua juga wkwkwk. Selanjutnya percakapan membahas tentang LPDP yang sedang akan diambil oleh mbak itu. Hingga akhirnya kami diminta masuk ruangan tes juga.

Saya single di ruangan itu. I mean, di sana mejanya ditata berpasangan, sampingan berdua gitu. Di ruangan itu pasangan semeja saya, seseorang dengan nomor meja 007, tak datang. Ternyata hasil tesnya baru bisa diambil dua minggu kemudian. It affects, or maybe I should say, it ruins my plan so much. Nanti sajalah kalau saya mau menuliskannya kalian boleh tahu apa yang terjadi.

Selanjutnya di kampus, kuliah SKMV. Tak ada yang spesial dari SKMV hari itu selain kuliah yang kurang dari satu jam, sekitar setengah jam. Semua ini gara-gara Pak Iyas datang di jam yang sama dengan jadwal awal padahal hari Selasa beliau bilang hari Kamis dimulai setengah jam lebih awal. Bahkan saya waktu itu lupa kalau kuliahnya maju setengah jam.

DSKC juga tak ada yang spesial. Diisi Pak Pranoto. Seperti yang telah saya lalui di kuliah sismik bersama Pak Pranoto, metodenya adalah pemberian tugas yang memaksa kami berguru kepada mbah Google. Setelah saya amati, sepertinya prinsip ngajar Pak pranoto dan Pak Richard mirip. Beliau-beliau percaya bahwa mahasiswa dapat belajar sendiri melalui Internet hahaha à Joking. It’s only a guess anyway.

Hari Jumat barusan juga tak kalah spesial. Sedikit kabar kurang baik. Akhirnya masuk sekre dengan kurang mood, cerita ke Wheland tentang hati yang sedang bermuram durja. I knew, he couldn’t do anything but sympathize. Tapi ya sudah lebih lega setelah menceritakan masalahnya.

Cerita Kuliah Pertama - part 2

Halo semua, apa kabar? Sepertinya baru kemarin berjumpa haha. Mau lanjut menceritakan kisah hidup di minggu pertama kuliah. Mumpung masih awal.

Oke, well, terakhir saya bercerita hingga hari Selasa. Sekarang saatnya hari Rabu. Hari Rabu kemarin adalah hari wacana. Sementara, selama jadwal kuliah Rekayasa Termal dan Mekanika Fluida belum keluar (saya harus ngulang. Alhamdulillah masih bisa ambil), jadwal hari Rabu saya hanya kuliah jam 3-4 tok. Malam Rabunya saya berencana pagi-pagi saya harus ngelab, belajar ngerjain TA ehehehe. Eh ternyata wacana. 

Untung saja masih ada kuliah Pengukuran Biosinyal yang hanya satu jam itu, tabrakan dengan kuliah Sistem Avionika tetapi saya lebih memilih Pengukuran Biosinyal, Senin lalu kan sudah tak ada kelas. Allah memang baik, Ternyata Pak Richard, dosen matkul ini, tak bisa jika harus mengajar hari Rabu karena dua minggu sekali beliau ada rapat senat. Baguslah, tak perlu skip banyak kelas sistem avionika hahahaa.

(beberapa) Jleb Jleb Jleb
"Saya ga rela kalian lulus sembarangan soalnya kalian pakai uang rakyat."
"kalau lulus itu ya yang beneran pantes bawa ijazah gitu lho." --> ini versi saya, seingat saya wkwk
"Kalian itu bisa lho ya. Buktinya kalian sudah sampai ke semester 8. Kalau kalian ga bisa, dari semester 1 kalian udah keluar. Kalau ada yang bilang ga bisa, aaaah bohong itu."
"Kalian ingat ya, ga ada jembatan gagal itu karena lupa masang tiang. Lupa masang tiang itu bukan jembatan namanya. Jembatan gagal itu biasanya gara-gara lupa masang sekrup. Ingat, the detail, be logic, itu yang membuat harga kalian mahal di masyarakat."
"Saya lebih senang Indonesia diisolasi dari impor. Kalau gitu kan orang-orang berusaha untuk kreatif."
"Kalian harus berpikir jauh ke depan ya. Biar nanti kalau kalian tua kalian ga blo'on banget karena seratus tahun lagi kalian akan menjadi orang paling blo'on."

Well. sepertinya kuliah ini akan menyenangkan dan mungkin sedikit mengintimidasi saya di setiap pertemuannya lhoh eh. Hahahaha

Cerita Kuliah Pertama - Part 1

Hai, akhirnya kuliah juga. Saya dipertemukan pertama kali dengan mata kuliah nonprodi. Sistem Avionika oleh Pak Toto Indrayanto. Sepertinya akan menjadi kuliah yang menarik. Saya tertarik dengan metode pembelajaran yang diberikan. Kami akan belajar melalui presentasi dari kami sendiri tapi ini bukan kelompok ini presentasi bab ini, kelompok itu bab itu tetapi setiap bab akan dipresentasikan oleh satu kelas. Saya ngebayangin jatohnya nanti bakal seru. Kayaknya sih haha.

View dari ruang kuliah sistem avionika

Selanjutnya saya masuk kuliah Dasar Sistem Kendali Cerdas. Hahahaaa pembukaan kuliah ini menyadarkan saya bahwa manusia itu ciptaan yang hebat. Bukan saatnya untuk sombong bahwa kita hebat tetapi saatnya mengakui bahwa Sang Pencipta sangatlah keren.

"Bagaimana anak kecil bisa memahami kursi? Saat diberikan kursi yang berbeda bentuk dan warnanya, bagaimana dia juga bisa mengerti bahwa itu adalah kursi?"

Pertanyaan lebih membuat kagum lagi, "Bagaimana manusia bisa menambahkan pengetahuan di memorinya. Jika kita ibaratkan ukuran memori manusia dalam byte, berapa nilai byte yang menggambarkan rata-rata ukuran memori manusia yang besarnya tak lebih besar dari kepala?" pertanyaan kedua itu pertanyaan dalam pikiran saya haha.

Pembicaraan dengan Prof. Carmadi sebelumnya juga membuat kagum, "Manusia dikaruniai kemampuan untuk menyusun algoritmanya sendiri seperti anak kecil yang belajar berjalan, dia awalnya tak tahu bagaimana cara berjalan namun seiring berjalannya waktu dia belajar dan menyusun algoritma untuk berjalan." Lalu saya membandingkannya dengan NAO yang seharusnya saya dan teman-teman urus, buat jalan aja dia harus dijagain kanan-kiri-depan-belakang hahaha.

Pembahasan tentang pengantar ini dilakukan Pak Bambang, Dosen pengajar DSKC, sambil meminta kami untuk memberikan pendapat. Kami banyak diam, termasuk saya. Saya masih takut untuk speak up. Mungkin saya adalah contoh hasil pendidikan sistem pasif di Indonesia, hanya terima saja dijejal-jejalkan materi, hanya menerima. Dan kepasifan ini masih terbawa hingga sekarang, tak hanya di kelas tapi juga di bagian kehidupan lainnya.

Trus kemarin berencana abis isya mau belajar ngeprogram NAO di D4 tapi pas ke sana dikunci -___- padahal biasanya cuma kunci sidik jari dan ruangannya digembok pakai gembok kode -___- Gagal deh.

Semester ini juga ambil mata kuliah yang diajar Pak Iyas lagi. Sistem kendali Multivariabel. Tadi pas kuliah saya dapet beberapa hal ini. <1> Indonesia itu keren. Indonesia mampu mempersatukan banyak suku. Eropa mana ada? Beliau bangga dilahirkan di NKRI ini. <2> Kerinduan akan anak himpunan elektro yang jadi ketua di Kabinet KM. Hahahaaa. Katanya sih, pas wisuda dibilang yang cum laude segini itu biasa tapi kalau dibilang yang aktif di sana sini ada banyak itu baru keren. Menurut beliau, kalau kita ketemunya sama anak-anak elektro lagi yang diomongin ya itu-itu saja, pakai bahasa elektro. Coba kalau ngomong ke anak seni rupa pakai bahasa elektro? ga nyambung kan? makanya perlu ikut kegiatan-kegiatan yang membuat kita berinteraksi dengan yang lainnya. Dan saya bersyukur saya masih ikut unit ehehee saya merasa memang itu sangat menyenangkan dan berguna. Ahahaa saya sangat berharap mendapat banyak pesan-pesan kehidupan di sini. Makanya, kuliahnya yang bener, Nal wkwkwk

Dirangkum ya. Pelajaran kkehidupan nomor dua : belajarlah humanoid robot agar kau semakin sadar dan bersyukur atas penciptaanmu. Nomor tiga : banggalah menjadi bagian dari bangsa yang kaya ini. Kita  tak kalah keren dari belahan dunia lain. Nomor empat : jangan kuliah doang kalau mau dibilang keren.

Hari ini di sekre ada oleh-oleh dari Mbak Mirna. Dia abis exchange di TUAT, Jepang. Saya disisihin postcard dan pembatas buku sama Fitri tapi pas saya ke sekre saya lihat masih ada postcard lainnya. Dan saya suka dua lainnya. Maaf ya, Fit. Aku memilih postcard yang lain. Postcard pilihanmu diambil Zahro. Maaf juga ya yang lainnya, saya kemaruk, saya ambil kedua postcard yang saya lirik. Gomennasai. Tapi salah satu postcardnya sudah diberikan ke anggota PSTK lain yang belum dapet kok :))


Dilema

Saya diserang penyakit. Namanya cukup keren. Dilema. Dilemma sebutan asingnya. Nah beberapa hari ini saya punya sebutan baru karena penyakit itu. Saya menjadi dilemmatist. Sebutan yang saya temukan dalam pikiran saya. HAHAHA

Semuanya berawal dari saya yang masih tahu diri. Saya ngaca, semester kemarin seperti apa, bagaimana performa saya, dan bagaimana hasilnya. Kemudian disandingkan dengan realita yang harus saya hadapi, masih berapa banyak tanggung jawab yang harus saya penuhi. Sebuah dilema yang benar-benar dilema. Disandingkan lagi dengan keinginan hati. Disandingkan lagi dengan keinginan orang-orang yang selama ini benar-benar tanpa tanda jasa, siapa lagi kalau bukan orang tua. Ah dilema yang semakin menjadi.

Saya perlu bantuan. Saya perlu orang untuk diajak bicara. Hal seperti ini harusnya dibicarakan dengan dosen wali tapi selama ini saya belum pernah sekalipun berinteraksi ngomongin beginian dengan beliau. Biasanya rencana studi saya langsung disetujui beberapa jam setelah saya mengisi. Tak ada “Semester kemarin gimana? Tidak ada masalah kan? Rencana kamu ke depannya seperti apa?” Tak ada, Kawan. Kubilang tak ada. Akhirnya saya malah minta izin menemui dosen pembimbing untuk membicarakan ini. Ah, dosen pembimbingku baik sekali, mau membantu urusan yang seharusnya bukan tanggung jawabnya begini. Akhirnya kami ngobrol kesana-kesini.

“Kurang berapa SKS?”
“Hah? Kok masih banyak. Kamu ambil apa aja?”
“Bentar, dua mata kuliah ini aman sih.” Beliau melingkari dua mata kuliah, mengelompokkannya.
“Tapi ini, ini sama Pak ITU (jangan sebut nama deh) ya? Tuntutannya banyak sih, banyak waktu yang harus disisihkan.”
“Kalau ini, ini juga berat sih. Kalau kata yang sudah ambil gimana?” “Oh yaudah berarti ga terlalu berat ya.”
“Kalau ini, saya kurang tahu. Bentar, ini isinya apa sih?” Beliau buka silabus.
“Saya ga tahu sih kayak gimana kuliahnya tapi dari silabusnya harusnya isinya ya kayak yang dulu sudah pernah diambil tentang sinyal. Dosennya siapa sih?”
“Ooh Pak ITU2. Saya belum pernah diajar beliau sih tapi orangnya tegas.”
“Trus ini, mata kuliah dari prodi mana? Kuliahnya berat ga?”
“Trus rencana kamu yang kemarin gimana?”
“Ya kalau menurut saya sih segini SKS berat. Tapi coba tanya-tanya lagi ke yang udah ambil. Kalau kamu bisa menyisihkan minimal 5 jam, eh tambah 1 jam deh buat ngerjain TA ya gapapa.”
“Teman-teman yang lain ngambil berapa SKS?” Beliau menanyakan Squiddie sama Patrick.

Beberapa obrolan yang masih teringat. WOW! For the first time in my life, saya mendiskusikan masalah beginian sama dosen. Senang rasanya hahaha. Keluar dari ruangan beliau saya masih belum sembuh tapi saya jadi punya opsi plan baru untuk strategi pengambilan mata kuliah ini. Saya menyebut opsi yang saya punya, plan nekat dan plan tidak nekat versi baru.

Beberapa hari dilema, beberapa hari pula saya berdebat dengan orang tua. Mungkin kalian illfeel gimana gitu mengetahui saya buat ngambil SKS aja dirundingin sama orang tua. Ya gimana ya, yang ngebiayain saya kan orang tua saya. Kalau saya ambil keputusan yang ga disetujui dan beliau ga mau ngebiayain kan repot juga. Naudzubillah. Ya sebenarnya lebih ke tanggung jawab moral sebagai anak sih.

Hingga hari rabu rencana studi saya tak kunjung disetujui. Tumben sekali. Saya tanya teman sedosen wali, katanya dia sudah. Waduh, ini jangan-jangan beliau ga setuju saya ngambil banyak-banyak nih. Gimana dong? Kemarin saya memutuskan untuk menemui beliau tapi gagal. Beliau sudah pulang. Tapi hari ini saat saya akan berangkat menemui beliau, tiba-tiba ada notifikasi persetujuan rencana studi. Ada pesan dari beliau, “kalau ada yang akan diubah nanti saja saat prs.”

Saya masih saja dilemma. Saya bingung haruskah saya senang atau sedih, ah bukan, yang ini sepertinya lebih ke pesimis bukan sedih. Di satu sisi jika saya berhasil studi saya ga molor, di sisi lain diri saya masih ragu akankah saya mampu.

Siangnya bapak menelpon karena paginya saya SMS beliau tentang bagaimana keputusan perdebatan kemarin. Apakah proposal ide lulus molor saya di-approve? Tidak. Hahaha. Saya cuma nanggepin “ya” doang sambil nahan nangis biar ga kedenger. Lagian sudah disetujui dosen wali.

I wonder how my, InsyaAllah, LAST SEMESTER will be.

Awal Desember

Tiba-tiba semuanya menjadi tiba-tiba. Minggu ini sudah tak ada kuliah. Hanya ujian dan tugas besar.

Minggu lalu saat mengisi daftar presensi yang terakhir di semester ini, saya dapati kolom saya banyak yang kosong. Kebanyakan bolos ahahaa. Entah kenapa saya merasa saya akan merindukan kuliah-kuliah ini.

Kuliah Material Teknik Elektro ditutup dengan kuis. Pak Amin juga memberikan penjelasan tentang posisi dimana yang kami pelajari. Selanjutnya juga kami akan belajar apa di posisi mana jika mau melanjutkan ilmu tentang material ini. Kenapa penjelasan ini memberikan kesan bahwa ilmu ini sangat menarik? Tapi kenapa dalam kenyataannya ini emmmm susah sekali?

Kuliah Sistem Kendali Digital juga begitu. Banyak kolom yang kosong. Ngenes sih, sudah pernah menulis tentang ilmu kehidupan yang didapat di kelas SKD tapi pengamalannya cups. BTW saya sepertinya suka dengan maksud yang diinginkan Pak Iyas dalam pembelajaran. Ya tapi ya itu. Diri ini masih lemah.

Kuliah Arsitektur Sistem Komputer juga begitu. Banyak kolom yang kosong. Ditutup dengan latihan soal. Latihan soal yang membuat saya dekat di akhir dengan orang-orang itu. Bagus, Aziz, Rina, Raden, Ulfah dkk. Kenapa mesti di akhir? karena saya tak memulainya dari awal. Kadang saya kepikiran, mereka di praktikum elka 2 diasisteni oleh orang yang satu kelas arsikom dengan mereka ahahaa.

Lagi-lagi banyak kolom kosong di daftar hadir kuliah Rekayasa Termal dan Mekanika Fluida. Di sesi 2 pasca-UTS ini saya merasa belum ikutan kuliah apa-apa. Belum dapet materi apa-apa eeeeeh tiba-tiba kuliahnya sudah selesai. Sepertinya saya akan kangen cara ngajar Pak Willy.

Kuliah etika malah saya bolos. Dasar!

Kuliah robotik sih masih menyisakan tugas besar ini.

Trus jadi cerita bolos yang terlalu banyak.

Awal Desember juga ada InDMF yang katanya Lumen akan ikutan menampilkan sesuatu. Nyatanya, kami yang terlihat di lab tak mengeluarkan apa-apa. Dan perasaan selama mengerjakan kerjaan ini lah yang membuat saya terpaksa tercebur ke Black Hole. Sempat senang karena minggu lalu penanggung jawab lab mengeluarkan isi hatinya yang kebetulan sangat mewakili unek-unek saya. Akhirnya yang maju ke InDMF Mas Hendy. Orang keren, menurut saya. Apa mungkin nanti saya buat postingan khusus nyeritain Mas Hendy? kalau saya sudah tahu banyak saja deh haha

Selebihnya, sesuatu yang sepertinya tak perlu untuk diceritakan di sini. Cukuplah orang-orang itu dan Tuhan yang tahu.

Cerita Hari Ini | 27 Oktober 2015

Well, blog ini mulai mirip catatan harian wkwk. Ada kejadian mengandung pelajaran kehidupan hari ini. Sebenarnya setiap kejadian sepertinya mengandung pelajaran kehidupan sih, hanya saja tak semuanya disadari sebagai pelajaran kehidupan.

Pelajaran kehidupan di ujian SKD

Hari ini isunya ujian Sistem Kendali Digital. Peluang benarnya sangat mendekati 1 sih. Tapi hari sebelumnya eh malam sebelumnya saya tak mempersiapkannya, malah nonton Barakamon yang bikin ketagihan. Saya pengen nulis tentang Barakamon di satu postingan sendiri hahaa saya merasa banyak pelajaran kehidupan di sana. Oke, kembali ke topik. Akhirnya saya (sebenernya) ga siap tapi entah kenapa hati saya terasa tenang-tenang saja. Dalam hati dan pikiran saya selama ini "Kenapa harus minta-minta ujian ke dosen dah? Bukannya ujian itu lebih "murni" kalau (sedikit) dadakan? ya maksudnya suka-suka dosennya gitu wkwk." Ya saya mikirnya pengajar jadi benar-benar tahu kondisi anak didiknya seperti apa. Ya walaupun bilang dulu juga menguntungkan bagi saya haha.

Well, saya sudah siap di sekitar kelas sebelum dosen datang. Dosen mata kuliah ini, sebut saja Pak Iyas. Pak Iyas pun datang, membawa kertas. Ini beneran ujian lah.

Masuk kelas, Pak Iyas memaparkan data presensi saat kami di-php buat ujian. Kami bisa 100% datang saat ada isu-isu ujian. Beliau mengusulkan ujiannya diphp terus aja biar yang datang banyak terus. Kami diminta memilih, ujian hari ini tapi memberikan jaminan selanjutnya bisa datang 100%, atau ujiannya ditunda dulu. Jadinya kayak MBC dah. Hahaha.

Well, saya nangkepnya sih sebenernya itu karena Pak Iyas sayang sama kami. Beliau tak ingin kami cuma datang saat ujian saja. Ga dapat esensi kuliahnya sih kalau menurut saya. Kuliah kan bukan sekedar kita bisa mengerjakan materi itu tapi kita juga belajar tentang etika, komitmen, integritas dan tanggung jawab. Melatih kita untuk tidak durhaka menghargai orang lain (dosen sih sebenernya). Menguji komitmen dan tanggung jawab akan kuliah dan berbagai tugasnya. Tentunya juga menguji integritas kita dalam melaksanakan berbagai prosedurnya.

Sayang sekali, saya ngomong begitu tapi kenyataannya masih begini-begini saja. Belum bisa menepatinya.

Pada akhirnya saya ngikut saja sama yang lain, yang pengarepnya minta ujian saja. Tapi ujiannya open book coba. Gimana Pak Iyas ga sayang sama kami? Beliau ingin kami paham, bukan cuma bagus nilainya dalam artian bisa pas ujian doang.

Hmm pengen cerita tentang pandangan saya yang mirip-mirip sama kasus tadi tapi nanti jadinya ngalor-ngidul kemana-mana jadi semoga saja saya bisa menuliskan dan mempostingnya.

Sebenarnya masih ada pelajaran kehidupan yang saya dapatkan dari seorang teman tapi sepertinya kurang enak kalau saya tulis di sini haha.

(kami) funta

Banyak cerita terlewatkan. Banyak kejadian yang luput dituliskan di sini. Sebenarnya sudah pengen nulis entah dari kapan tapi gagal melulu karena sering lupa karena ini dan itu.

Kehidupan saya belakangan ini penuh dengan warna-warna suasana tugas akhir. Orang-orang yang (sepertinya) sering saya temui berpindah dari Fitri, Lovila, anak-anak PSTK, menjadi seorang Squidward dan Patrick wkwk.

Hari ini deadline pengumpulan Dokumen B100, B200 dan Video. Saya mau cerita. Kami sempat kebingungan menyusun dokumen-dokumen itu. Bingung karena topik kami (menurut kami) terlalu umum. Setelah minggu lalu mendapat sindiran karena di waktu itu kami baru membahas analisis bisnis akhirnya kami saat itu juga brainstorming mau kami apakan si teman baru kami. Wal hasil sekarang kami memutuskan untuk menjadikan teman baru kami pelayan restoran. Sampai saat ini kami masih berkutat dengan dokumen-dokumen itu hahahaa semangaat guys.

Setelah sekian lama, akhirnya kelompok kami punya nama juga. Beberapa hari yang lalu dengan  (setengah n) + 1 kami memutuskan nama kami funta. Ada ceritanya kenapa namanya itu. Tapi tidak akan diceritakan di sini haha. Well, apakah kami masih adaptasi? iya. Menyenangkan sekali bisa mengetahui apa yang selama ini saya belum tahu tentang mereka.

Sebenarnya di post ini saya mau fokus menceritakan anggota kelompok kami tapi kok ternyata pendahuluannya cukup panjang. Oke. Mari kita mulai.

Funta terdiri dari saya, Squidward dan Patrick. Setelah berinteraksi dengan mereka selama ini, saya menemukan betapa sangat berbedanya kepribadian kami hahaha.

Squidward
Saya memang sudah punya pengalaman "bersama" Squidward sejak semester 4. Semakin sering bareng di semester 6 dimana kami bersama di tiga dari empat praktikum. Itu pun karena satu praktikum itu memang tidak berkelompok. Meski begitu, ternyata banyak hal yang belum saya tahu dari seorang Squidward. Banyak. Bahkan beberapa kali saya dikagetkan oleh beberpa ekspresi dan reaksi yang dikeluarkan oleh Squidward. Hahaha. Squidward tergabung dalam kelompok kami juga karena saya yang (bisa dibilang) sedikit memaksa untuk bergabung. Saya iri sama Squidward. Saya melihat semangat juangnya jauh lebih besar daripada saya. Pembawaannya santai tapi gimana ngejelasinnya ya, dia rajin gitu sih kelihatannya. Entah dia sudah sit-in berapa kuliah. Setahu saya dua matkul haha.

Squidward sering menyebalkan dengan bagaimana ia menanggapi sesuatu. Itu menurut saya sih. Misal nih ya, kejadian ini. Saat itu kami mau ketemu di MIC. Masih saling nunggu dulu. Patrick masih di CC Timur. Squidward masih otw kampus. Saya menunggu di depan TU STEI. Sibuk ngapa-ngapain sama laptop sambil nungguin Squidward dateng untuk selanjutnya menghubungi Patrick kalau Squidward sudah datang. Akhirnya muka Squidward nongol juga naik tangga. Saya nyapa.

"Hai, Squidie." Selanjutnya saya masih lanjut lihat laptop. Ya lumrahnya orang kalau lihat kelompoknya nyamperin dulu lah yaaa, paling engga nanyain Patrick mana, gitu. Eh, dia nylonong aja tanpa njawab sapaan. Itu nyebelin dah hahaa.

Tapi kalau sudah akrab kayaknya dia seru gitu sih orangnya.

Patrick
Oke selanjutnya Patrick. Dia ngajakin saya buat sekelompok beberapa menit setelah saya ngontak Squidward buat jadi sekelompok. Mungkin Tuhan memang merencanakan kami akan menjadi kelompok yang super keren nantinya bahkan sampek ngajakin aja di waktu yang bisa dibilang bersamaan. Apaan sih Nal?

Well, Patrick orangnya lebih sedikit nyebelinnya daripada Squidward yang respon terhadap sesuatu langsung bikin diem. Patrick banyak ngomong juga walaupun masih banyak saya sih hahaa. Dia suka Bola. Suka banget sama sebuah klub sepakbola dari Italia. Haduh saya mah ga ngerti begituan. Squidward juga ga terlalu suka bola. Kalau anime, Patrick paling sukanya Naruto sama Conan. Dia ngomong gini ke saya pas saya nonton Boboiboy

P : "Haduh, Sponge. Inget umur."
Sp : "Lhah emang kenapa? Salah kalau aku nonton Boboiboy? Seru tau."
Sq : "Iya, Trick. Kenapa dah? Urang juga biasa nonton Boboiboy. Seru coy." (kurang lebih omongan Squidward begitu)

Yaaa Patrick dan Squidward suka Naruto, saya masih pengen nonton tapi belum keturutan. One Piece, saya sama Squidward yang ngikutin. Bola yang suka dan ngerti sih Patrick sama Squidward.

Kalau saya lihat sih Patrick yang paling panikan diantara kami. Panik itu perlu sih. Tapi kadang saya merasa bersalah kalau saya ga panik juga, kepikiran jangan-jangan saya kurang peduli. Di antara kami dia juga yang paling jarang pulang. Salut deh sama Patrick yang kuat jauh dari rumah untuk waktu yang lama.

Well itu sekilas tentang kelompok saya. Hahaha akhirnya keturutan nulis tentang mereka. Masih banyak hal-hal yang belum saya ceritakan. Banyak hal yang belum saya tahu tentang mereka :D Semoga saja mereka ga baca postingan ini. Kan saya ngata-ngatain mereka gitu.

PRS

14 September 2015 jadwalnya PRS (Perubahan Rencana Studi). Well, ini pertama kalinya saya melakukan PRS. Ceritanya mau ambil Robotika, ngedrop VLSI Design, ambil Etika Profesi & Rekayasa, ngedrop matkul Kerja Praktik.

Karena ini pertama kalinya PRS dan melihat pengalaman FRS kemarin yang ada antrian dan kelas Robotika yang Subhanallah jadi rebutan, saya excited sekali mau PRS ini :D Internet di kosan lemot sekali jadi saya berencana PRS di kampus yang internetnya jauh lebih cepat. Wheland dan Fitri pun diajak tapi pada akhirnya Wheland di kosan saja -_-

Tempat pertama di comlabs. Bersama Fitri dan Vani menunggu jam 12 malam. Ketemu partner TA, si Irfan, bersama (mungkin) pacarnya, (suaranya) lagi streaming nonton bola. Karena tempatnya outdoor, nyamuk pun berkeliaran wkwk. Mungkin Allah ingin melindungi kami dari nyamuk-nyamuk itu sehingga didatangkanNya pak satpam untuk mengusir kami dari comlabs. Kami bertiga kebingungan, mau ngisi PRS dimana. Mau ke McD (tulisan mekdi gimana sih?) cuma ada satu motor, masa kami bertiga (kata vani) mau kayak cabe-cabean wkwk. Mau ke HME males gitu tapi kalau di luar HME nanti ketemu pak satpam, diusir lagi. Setelah diskusi sebentar di musholla elektro, akhirnya kami memutuskan ke HME. Di sana ada sekitar delapan orang termasuk saya. Yang menyenangkan, nyamuknya jauh lebih sedikit daripada di comlabs *eh wkwk

Ujian pun tak hanya segitu saja. Saat pukul 00:00 yang kami tunggu-tunggu datang pun ol.akademik masih belum "mengupdate dirinya". Baru pukul 00:51 kami pulang setelah PRS-an. Alhamdulillah saya dapet kelas robotika dan etika tapi Vani sama Fitri belum dapet arsikompar, udah penuh duluan. Emm tapi pas udah sampek kosan Fitri dapet kelas arsikompar kok. Saat tulisan ini ditulis pun arsikompar juga masih ada slot, berarti Vani juga kemungkinan besar dapet juga hehehe Alhamdulillah. Robotika pun juga masih ada slot >10 orang -_-

Dosen Keren

Semester ini sepertinya menyenangkan. Salah satunya karena saya mendapatkan dosen yang menyenangkan di kelas mata kuliah yang harus saya ulang. Selain itu saya juga mendapatkan dosen yang menyenangkan di mata kuliah basic science yang saya ambil.

Bapak Kusprasapta Mutijarsa

Kami para mahasiswa memanggilnya Pak Soni. Entah beliau dipanggi Soni dilihat dari sisi namanya yang sebelah mana, saya masih penasaran. Beliau mengajar kuliah Arsitektur Sistem komputer. Ini pertama kalinya saya diajar pak Soni. Sebelumnya saya ambil kelas pak Yudi. Well sejak pertama kuliah ini pak Soni sudah membawa aura dan impresi yang baik di mata saya. Pembawaan beliau semangat tapi berwibawa. Subhanallah, beliau sabar sekali. Beliau mengajak kami menganggap mata kuliah ini menjadi gampang, biar kami mengerti katanya. Cara menjelaskannya juga menyenangkan dan jelas, kadang beliau menggunakan analogi yang lebih terlihat di kehidupan sehari-hari untuk menjelaskan. Misalnya transistor, kata beliau transistor itu seperti kran air. Kalau gate-nya diberi tegangan, arus bisa mengalir. Beliau baik sekali, kalau kami belum jelas beliau bilang silahkan tanya walaupun itu pertanyaan sepele sekalipun.Tapi pada kenyataannya sampai sekarang masih jarang yang nanya hahahaaa. Beliau bahkan mau menjelaskan tentang pointer pada kami, karena kami bilang pointer itu susah padahal itu bukan bagian dari isi kuliah arsikom. Intinya saya suka gaya mengajar pak Soni.

Bapak Muhammad Amin Sulthoni

Sebelumnya menurut ol.akademik dosen kuliah Material Teknik Elektro yang saya ambil adalah Pak Farkhad tapi ternyata sejak hari pertama pun yang datang pak Amin. Katanya sih memang diganti. Tapi tak menyangka beliau menjelaskan dengan menyenangkan. Kalau kata beliau, beliau di tengah-tengah antara Pak Basuki yang banyak hitungan banget dan Pak Irman yang banyak praktisnya. Memang sih, saya merasa begitu. Beliau menjelaskan sekalian dengan cerita mengapa yang ada di slide itu bisa terjadi. Kami jadi mengingat-ingat kuliah kimia dasar hahahaaa. Tapi so far, Pak Amin berhasil membuat matkul ini menarik bagi saya.

Bapak Willy Adriansyah
Well, beliau dosen prodi Teknik Mesin. Awalnya saya mengambil kelas Pak Jooned tapi ternyata semua anak elektro ditransfer ke kelas pak Willy. Beliau cukup cepat dalam menjelaskan tetapi sebagai kompensasinya, beliau selalu menggambarkan di papan tulis apa yang beliau jelaskan. Guyonan beliau juga ga garing gitu. Dan yang paling saya suka adalah beliau selalu mereview apa yang kami dapat di kuliah sebelumnya dengan singkat, padat dan jelas setiap awal perkuliahan. Sampai saat ini kuliah Rekayasa Termal dan Mekanika Fluida terasa menyenangkan.

Semoga saja kuliah yang lain menyusul menjadi lebih menyenangkan dan minimal selevel menyenangkannya dengan kuliah-kuliah ini :D

Kumpul Kelompok TA (1)

Hasil kompre memberikan kesimpulan saya dan kelompok TA bisa mengambil tugas akhir. Kelompok kami terdiri dari saya, Hilmi Fadli (Hilmi), dan Irfan Markus R. Simamora (Irfan). Well, bisa dibilang kami belum akrab satu sama lain. Akhirnya kami memutuskan untuk berkumpul terlebih dahulu sebelum topik keluar. Hari Rabu, 2 September kemarin menjadi hari pertama kami kumpul kelompok.

Kebanyakan saya yang ngomong. Hal-hal kecil sih. Tapi menurut saya itu penting. Intinya (karena saya yang ngomong) saya meminta kami menjadi lebih terbuka, lebih akrab, kalau ada apa-apa segera bilang, dan ga ada istilah ga enakan. Obrolan lain tentang topik TA juga strategi pemilihan topik TA nantinya. Intinya kami terbuka dengan topik apapun, asalkan (permintaan Hilmi) tidak terlalu software. Kami juga sepakat berusaha menghindari weekend untuk kumpul. Secara keseluruhan, kumpul hari itu menyenangkan. Sangat menyenangkan. Waktu itu saya ketawa melulu saking lagi good mood-nya.

Melihat state saat itu, saya optimis kami bisa menjadi lebih akrab, kompak dan solid. Semoga saja selanjutnya kami benar-benar menjadi kelompok yang "keren"

1st Week Kuliah

Well, finally the first week has passed. Alhamdulillah minggu pertama berjalan lancar. Ga telat sama sekali, ga ngantuk apalagi tidur di kelas. Sesuatu yang saya rindukan semenjak masa TPB saya berakhir. Hahaaa memang ajaibnya dulu pas TPB, pas semester satu saya ga pernah ngantuk di kelas, di semester dua sempat tidur di kelas beberapa kali tapi masih kurang dari sepuluh kali dalam satu semester, semester 3-6 kemarin gimana? emmmm *mringis*

Masih ingat cerita tentang ujian komprehensif? Akhirnya sepuluh hari setelah ujian, tanggal 24 Agustus 2015, di hari pertama kuliah muncul pengumuman resmi siapa-siapa saja yang lulus, lulus bersyarat dan yang harus mengulang kompre. I was the third group. Saat itu sedih, tapi ga sesedih merasa tak punya teman :v Tapi saat itu memang terdapat kejanggalan karena banyak kasus data yang ditampilkan di pengumuman bukanlah data last attempt kompre. Jadi perundingan dilakukan oleh perwakilan kami dan pihak prodi. Hasilnya kami harus sabar menunggu.

Well, hari pertama juga mendapat pengumuman tidak diterima menjadi asisten praktikum. Ini berarti satu hal yang ingin dilakukan di semester ini kesempatannya sangat kecil *ga mau bilang gagal :D* Tapi pasti ada hal lain yang lebih baik yang Allah ingin saya lakukan.

Semester ini saya mengambil mata kuliah yang saya harus ulang. Material Teknik Elektro dan Arsitektur Sistem Komputer. Satu kelas dengan angkatan 2013. Menyenangkan. Mereka menyenangkan. Alhamdulillah. Semoga kami semua bisa lulus mata kuliah ini di semester ini.

Akhirnya sampai di hari Jumat. Minggu pertama ditutup dengan kuliah TA. Kuliah yang menyenangkan. Kemarin pak Mervin mengatakan bahwa memang ternyata data hasil kompre kemarin salah dan akan segera direvisi, tunggu saja haha. Banyak wejangan disampaikan, yang intinya TA1 harus serius karena sebenarnya TA1 jauh lebih susah daripada TA2. Kalau TA1 sudah bener, nanti TA2 jadi gampang. Important dates was launched in this first class. Tak tanggung-tanggung, tanggal penting sampai semester depan berakhir.

Satu rezeki datang di hari Jumat pagi. Saya mendapatkan jarkom tentang pengumuman penerimaan pengajar. Alhamdulillah saya diterima. Alhamdulillah keinginan selama ini tercapai juga. Semoga saya bisa bermanfaat di jalan ini.

Satu rezeki datang di malam harinya. Revisi pengumuman hasil ujian kompre. Alhamdulillah saya, Hilmi dan Irfan lulus. Tanpa bersyarat. I think what I wrote about two months ago became real. Dulu saya menuliskan

"Tanggal 14 Agustus nanti aku akan mengerjakan ujian komprehensif dengan lancar.
Dua minggu kemudian aku mendapatkan kabar bahwa aku lulus kompre dan bisa ambil TA bersama Hilmi dan Irfan."

Pengumuman sebelumnya yang menyatakan saya harus mengulang ujian kompre muncul sepuluh hari setelah ujian. Dan ternyata dua minggu setelah ujian pengumuman mengatakan saya lulus ujian. Mungkin sebenernya ini cuma kebetulan :D

Before the start of the last | part 3

Well, it's my 4th year in campus, time to do the final project. Sebelum melangkah lebih jauh, kami mahasiswa yang akan mengambil tugas akhir harus menyelesaikan tantangan pertama. Yea, we have to pass an exam to be allowed to take the responsibility of final projects. We called it Comprehensive Exam -Ujian Komprehensif- *selanjutnya mari kita sebut dia kompre* sengaja dibuat mencolok dengan bold dan italic biar lebih terasa bagaimana "mengerikannya" ujian ini. Momen ini dijadwalkan tanggal 14 Agustus 2015 pukul 13.30

Saya memang sudah ada di Bandung tanggal 29 Juli 2015. Buru-buru balik dengan alasan ingin segera menyelesaikan laporan KP dan selanjutnya bisa “dengan tenang” mempersiapkan diri (baca : belajar) untuk ujian komprehensif. Well, you can say it was just a bullshit :v Hahahaa jiwa deadliner memang membahayakan. Seminggu lebih dari kedatangan saya di bandung saya menghabiskan sebagian besar waktu untuk internetan : baca manga, baca blog, buka sosmed, ketambahan legi seneng-senengnya nyari teman dari negara lain lewat situs penyedia jasa penpals. Akhirnya laporan KP benar-benar (baru) disentuh sekitar tanggal 4 Agustus 2015 dengan masih malas-malasan, masih disambi-sambi internetan.

Mungkin memang dasarnya saya susah move on *eh, berkali-kali saya mencoba mengajak diri saya untuk mempersiapkan diri belajar buat kompre tapi tidak bisa. Bahkan menyisihkan buku mana yang harus saya daki rasanya malas sekali. Saya baru benar-benar mempersiapkan diri setelah laporan KP selesai, setelah terhambat dengan bagian saran yang dipikir-pikir selama hampir seminggu baru ketemu.

Saya bingung belajar apa. Sumpah bingung banget. Bagaimana tidak, saya tak bisa menerka-nerka soal macam apa dari sekian banyak bab dari sebuah mata kuliah yang akan keluar dalam lima soal pilihan ganda, dengan soal teori dasar mempunyai probabilitas yang sangat tinggi untuk keluar. Akhirnya saya hanya belajar apa yang saya ingin baca. Sangat terbantu dengan soal “bantuan” yang dipost teman di grup.

Hari itu datang. Hari itu hari Jum’at. Malam sebelumnya saya menghubungi orang tua, mohon restu. Tak ayal, saya mohon kepada keduanya satu per satu. Ini pertama kalinya saya meminta doa langsung dari Ibu. Biasanya nitip disampaikan Bapak. Awalnya saya berencana untuk berangkat ke kampus sekitar jam 10, pengennya nongkrong di sekre unit dulu. Namun pada akhirnya berakhir wacana karena selain keenakan chattingan juga saya pikir saya memerlukan suasana yang sepi saat sholat dhuhur saat itu. Semakin dekat hari ujian, doa saya makin kenceng. Ditambah cita-cita masa depan semakin menggebu. Akhirnya pada suatu malam saya tuliskan beberpa step yang ingin saya lakukan sampai lulus nanti. Sekarang menempel dengan tenangnya di tembok kamar kosan.

Pada momen ini saya mendapat bagian ruangan di Labkom, Labtek VIII Lantai 2. Hari itu saya sengaja berangkat 30 menit sebelum ujian, padahal perjalanan kosan ke lokasi hanya sekitar 10 menit. Sampai di sana, sudah banyak yang berkumpul di depan lift. Sayang sekali mereka bukanlah orang yang akrab dengan saya *hiks*. Saat itu, jadilah saya orang yang merasa terkucilkan selama beberapa menit. Saya ga inisiatif tiba-tiba nimbrung, hopefully you know how it feels when you have to be bumped to other boxes. Kedatangan Lovila menyelamatkan saya. Waktu ujian semakin dekat, dag dig dug berkumandang dalam dada. Bingung. Khawatir. Merasa persiapan belum maksimal. Masih sangat jauh dari titik maksimum. Kehadiran kelompok orang-orang imba menambah kekhawatiran. Di menit-menit seperti ini mereka masih membahas pelajaran ini dan itu, teori ini dan itu. For me, it was really intimidating.

Kami sudah dipersilahkan untuk masuk ruangan. Saya mendapatkan tempat duduk nomor dua dari belakang di sisi paling kiri jika menghadap ke papan tulis. Seperti biasa, saya komat-kamit baca doa andalan sebelum ujian. Durasi ujian 2 jam 30 menit. Harus menyelesaikan 9 mata kuliah breadth yang masing-masing terdiri dari 5 soal pilihan ganda. You know, luck took the main role here, in my case. Jujur, saya ga ngerti apa-apa. Rasanya setiap soal mengintimidasi saya, membuat saya down dan berpikir “kok saya ga bisa sih, ini kan soal dasar banget” akhirnya saya asal pilih saja jawaban yang menurut insting saya benar. Apa yang saya pelajari selama persiapan, jujur, hanya sedikit yang keluar.

Well sekitar satu jam berlalu, Lovila dan Panji sudah keluar ruangan. Mereka sudah selesai. Saya yang masih belum memenuhi kriteria lulus harus mencoba peruntungan mengerjakan kembali beberapa mata kuliah. Akhirnya saya mendapati diri saya mecnapai kriteria lulus. Saya lihat hasil sudah lebih dari 50% benar, setiap mata kuliah juga sudah benar minimal 2 soal. Well, saya memang bukan orang yang ambis banget, setelah saya dapati hasil itu, saya keluar saja. Sampai saat ini sebenarnya saya tak tahu apakah saya benar-benar lulus atau tidak. Saya masih ragu apakah hasil sekecil itu bukanlah masalah untuk kelulusan ujian ini. Saya pun tak tahu apakah ada pengumuman “formal” tentang kelulusan ujian ini atau hanya berdasar data hasil yang keluar saat tes saja kemudian disimpulkan sendiri. Ah, entahlah. Tapi Alhamdulillah.

Malamnya saya dapati postingan teman-teman yang memberikan jawaban mereka. Orang-orang imba kebanyakan memberikan jawaban minimal benar 4 dari 5 soal. Lagi-lagi, it was really intimidating. Harap maklum, hasil saya super pas-pasan sekali. Benar-benar mepet batas lulus.

Tapi Alhamdulillah, InsyaAllah saya, Hilmi dan Irfan lulus ujian ini. InsyaAllah kami beneran akan jadi satu kelompok TA. God, please bless us, let our project done smoothly, and keep us solid.