Posts

Showing posts with the label Renungan

Bising

Sebenarnya dari dulu sudah saya pahami bahwa dunia tidak semulus, sebaik, dan seideal yang saya bayangkan. Namun, melihat kenyataannya tetap saja membuat saya amazed sendiri. Manusia ternyata begitu kompleks.

Yang paling membuat saya terheran-heran adalah bagaimana manusia cenderung lebih memilih untuk berasumsi dan menaruh prasangka buruk. Mengapa kita tidak melihat sisi baik segala sesuatu saja? Mengapa malah memilih untuk menggunjingkan dan memberikan label miring atas banyak hal? Mengapa kita malah cenderung membisingkan dunia dengan prasangka dan cara melihat dunia yang merendahkan? Mengapa? Mengapa? Mengapa?

Tidak bisakah kita berfokus pada hal-hal baik? Mencari-cari kebaikan beyond the flaws. Bukankah dengan melihat kebaikan kita jadi lebih mudah menghargai? Kupikir menghargai jauh lebih hemat energi daripada sebaliknya. Mengapa kita sering ikut campur urusan orang lain? Kalaupun ikut campur, sepatutnya kita ikut campur dengan cara yang baik. Mengapa harus membuat bising space orang lain?

Sejujurnya saya merasa betapa saya begitu polos dan bego melihat kenyataan dunia yang seperti itu. Saya terlalu naif.

Lagi, Lagi, dan Lagi

Berkali-kali diri perlu diyakinkan

Diingatkan kembali

Bahwa Allah yang membawa ke sini

Bahwa Allah yang memberi semua ini

Maka Allah pasti sudah siapkan solusi

Apapun yang terjadi di kemudian hari

Sudah Allah atur

Sudah Allah takar

Karena Allah begitu peduli

Begitu lembut

Begitu pengasih

Allah pasti beri yang terbaik

Maka diri juga harus beri yang terbaik

Juga berbaik sangka

Dan tak pernah lupa

Lagi

Lagi

Dan lagi

Melangit

Hidup ini misteri. Tak pernah bisa ditebak alurnya. Meski semua sudah tertulis, tak pernah sekalipun manusia punya kesempatan mengintip apa yang ada di sana. Beberapa hal mungkin memang berubah. Dari yang awalnya tertulis sedikit, menjadi banyak. Yang pendek waktunya menjadi lama. Ini semua berkat doa-doa, harapan, dan amalan yang dilangitkan.

Terkadang saya berpikir, buat apa saya selama ini ngoyo mengejar dunia. Mengejar mimpi. Menyelesaikan tanggung jawab duniawi. Saya sadar ini bukan hal yang salah sama sekali. Tapi ngoyo yang patut dijadikan prihatin. 

Sering asyik sendiri terkepung masalah. Mencari jawaban di sana-sini tak kunjung ketemu. Lupa bahwa ada Dzat Yang Maha Perhatian, Yang Maha Berkehendak. Yang bisa memberikan hint atas apa yang dicari, bahkan sekaligus solusinya. Sayang sekali sering hanya sekadar dikunjungi tanpa bercerita. Padahal bercerita bisa membuat lebih dekat. Bercerita, melangitkan urusan.   

وَلِلَّهِ غَيْبُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ ٱلْأَمْرُ كُلُّهُۥ فَٱعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. Q.S. Hud : 123

Mengapa Berpuasa

Warning! Saya cuma menuangkan yang ada di kepala saya. Sebuah ke-sotoy-an yang nyata.

Beberapa malam yang lalu saya kepikiran sesuatu. Bagaimana jika seseorang, terutama nonmuslim, bertanya pada saya mengapa saya berpuasa, atau mengapa Islam mengharuskan umatnya berpuasa pada bulan Ramadhan?

Well, selama ini saya hanya diajari bahwa puasa adalah hal wajib bagi muslim. Rukun Islam nomor 4. Tidak ada penjelasan lain. Disuruh belajar puasa ya manut-manut saja. Sudah besar, tanggung jawab atas kewajiban itu sudah tertanam tanpa bertanya mengapa Islam mengharuskan puasa. Lantas, apakah saya akan menjawab pertanyaan tadi hanya dengan "karena puasa adalah kewajiban"? Rasanya saya tak mau jika jawaban "kewajiban" ini malah diartikan bahwa umat Islam terpaska melakukannya. Kesannya terkekang gitu. Padahal kan engga.

Kemudian saya terpikir sebuah ayat terkenal tentang puasa,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Q.S. Al-Baqarah: 183)
"Agar kamu bertakwa". Poin itu kemudian menarik hati saya.

Yang saya tangkap dari poin ini adalah ada hal-hal yang terjadi pada diri kita yang 'menyeret' kita menjadi orang yang bertakwa. Seolah tanpa kita berusaha pun, puasa akan menarik kita ke arah sana. Lalu bagaimana bisa?

Awalnya saya tak punya jawaban. Tapi kemudian saya kembali ke pertanyaan pertama, bagaimana saya menjawab jika ditanya, terutama oleh nonmuslim, mengapa saya berpuasa. Sepertinya saya akan menjawab demikian.

Well, I never being told why. Yang saya tahu, puasa ramadhan adalah wajib, jadi saya melakukannya. But, along the way I find some positive effects. Bisa jadi ini adalah sebagian alasan mengapa Tuhan mewajibkan puasa ramadhan.
1. It cleanses our body and give our gut rest.
2. As we experience hunger and thirst, we appreciate our food more.
3. Dalam kasus pengalaman lapar dan haus ini, mungkin awalnya kita hanya memikirkan tentang diri kita. "Duh lapar banget, kapan buka? Duh haus, lemas, pusing, kapan buka?" But in the next step, most probably our mind shifts, not only in ourselves but we start to think about people out there who, sorry to say, economically, financially, are in a lower state than us. Those who find it's difficult to just getting a pinch of food every day.
4. The thought of others soften our hearts which then probably lead us to think about helping others, giving donations for example. Even if we end up not doing it, at least the deed is probably there.

Sesudah itu saya buntu. Apalagi hal positif yang terjadi karena berpuasa? Ujung dari pemikiran tadi, bertemu dengan "agar kamu bertakwa", membuat saya berpikir mungkin hal-hal yang terpikir tadi adalah salah satu bentuk takwa. Saya sendiri tidak tahu apa arti takwa sebenarnya :#

BTW setelah surfing, saya nemu ciri-ciri orang yang bertakwa:
1. Berinfaq
2. Menahan amarah
3. Memaafkan orang lain dan menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan
4. Bertaubat

Daaan keempat hal itu memang besar kemungkinan dilakukan orang yang berpuasa sih. Yang pertama mungkin pemikiran sebelumnya cukup menjawab. Tiga lainnya terjadi karena ajaran puasa bukan hanya puasa fisik tapi juga puasa mental. Poin 2 dan 3 memang dianjurkan bagi orang yang berpuasa, menahan diri, mentally. Poin 4 mungkin terjadi karena hati yang melembut membuat kita gampang ingat Allah kemudian bertaubat.

Saya juga nemu videonya Pak Nouman Ali Khan nih. Ngomongin topik yang sama. Poin tambahnya sih puasa ramadhan jadi ajang latihan hati untuk menjalani kehidupan nyata 11 bulan berikutnya. 

Sekian dulu ocehan saya. Maaf sotoy.

Tentang Niat

Beberapa waktu yang lalu, pada hari ketika semangat saya tidak begitu cerah, saat melewati gerbang tempat saya bekerja, sebuah pertanyaan muncul dalam benak.

Kenapa orang-orang ini mau bersusah-susah berangkat pagi-pagi, menghambakan diri pada tempat ini? Apa motivasi mereka?

Masing-masing orang pasti berbeda. Dugaan yang terpikir dalam benak adalah:
1. Memenuhi kebutuhan finansial
2. Bertemu teman
3. Mengisi waktu daripada nganggur di rumah
4. Aktualisasi diri, berkarya
5. Bentuk tanggung jawab atas tugas
6. Rutinitas saja

Lantas saya bertanya, mengapa pula saya yang lagi malas ini mau-maunya berangkat juga? Alasan paling pas bagi saya adalah rutinitas. Mungkin ada alasan yang terpendam lebih dalam, yang tidak disadari, yaitu tanggung jawab. Mungkin di alam bawah sadar sudah terpatri bahwa ini adalah sebuah amanah. Jika tidak dijalankan akan menyusahkan orang lain. Makanya di tengah kemalasan masih ada kemauan untuk berangkat.

Tak lama kemudian, saya menemukan ayat ini

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur. (Q.S. Saba' : 13)

Mental Manja

Permisi. Saya mau sambat di sini. Di sini kan ga ada yang baca lagi *eh haha.

Mental saya bukanlah mental yang saya impikan. Bukan mental sekuat baja. Saya rapuh. Mudah sekali patah. Selain itu, penakut pula. Mental saya hingga saat ini ditulis masih mental diajari dan disuruh. Masih mental disuapi. Perlu energi cukup besar bagi saya untuk membuat diri saya berani melakukan sesuatu yang mungkin bagi kebanyakan orang lain mudah saja. Bertanya, misalnya. Mudah kan? Tapi banyak kesempatan di mana saya benar-benar harus mengumpulkan keberanian hanya untuk bertanya.

Tapi saya tetap cinta diri saya. I don't want to blame her. I want to encourage her. I want to support her in every side of life. I want her to be a good person. I want her to be proud of herself and love her self more and more so that it makes her grateful for her life.

Treasure

Ketika satu orang tua tiada, hilang satu berkah dalam hidup kita. Hilang doa yang selalu dicurahkan untuk kita. Hilang salah satu tempat kita mengabdi. Hilang pula salah satu sumber nasihat-nasihat untuk kita.

Bersyukurlah jika masih diberi kesempatan untuk mengabdi kepada orang tua. InsyaAllah banyak rahmat Tuhan di sana. Apalagi jika keluarga adalah keluarga yang menyenangkan, menentramkan, dan penuh cinta. Treasure it! Treasure your parents, treasure your family.

Hidup Orang

Salah seorang teman saya melihat hidup saya lebih bahagia daripada miliknya karena saya orang yang bebas, katanya. Dia menginginkannya. Padahal saya melihat hidupnya lebih bahagia daripada hidup saya karena saya lihat dia sudah menemukan apa yang dia suka, apa yang dia mau, dan tempatnya tumbuh dan berkembang. Saya menginginkan itu.

Hidup, bagaimanapun ternyata sama saja. Rumput tetangga tampak lebih hijau dibandingkan milik sendiri. Padahal bisa jadi hal yang sama terjadi pada tetangganya.

Busy


People are eagerly doing their responsibilities while I am just doing unnecessary things, hardly dragging myself to finish mine.

Ya omae! Finish this first!

Renungan

Jika saja kamu dilahirkan dan dibesarkan tidak dalam keluarga muslim, apakah kamu akan dapat menerima Islam sebagai keyakinan yang kamu anut atau malah kamu akan menolaknya mentah-mentah?

Sungguh, dibesarkan oleh keluarga muslim adalah karunia yang luar biasa bagi kamu, Nal! Jadi, berbaktilah pada orang tuamu yang telah membimbingmu untuk belajar tentang agama Islam.

Teruntuk Hati

Teruntuk hati yang terlalu mudah terserang iri,
Setiap orang sudah punya porsinya masing-masing,
Sudah diberikan jalan hidup masing-masing,
Sudah ditulis hidupnya sejak zaman azali

Teruntuk hati yang masih sering kalah dengan rasa takut,
Apa yang kautakutkan?
Semuanya akan terasa menakutkan selama kamu belum melakukannya
Bermimpilah
Tuhan memeluk mimpi-mimpimu
Apapun hasilnya, sudah ditulis sejak zaman azali

Teruntuk hati yang reaktif menanggapi akal,
Sudahkah kamu meminta akalmu bersabar sedikt untuk memikirkannya dengan tenang?
Pikirkan baik-baik!
Terkadang keadaan sebenarnya tak seburuk yang kaubayangkan dengan pikiran sesak

Teruntuk hati yang mudah putus asa,
Sudahkah kau curhat kepada Yang Maha Mendengar?
Renungi hidupmu, refleksikan diri

Refleksi Diri

Barusan nemu sebuah tulisan di buku catatan saya. Ditulis sekitar 9 bulan yang lalu.

"I hate my self for almost always getting up late
I hate my self for being unconfident
I hate my self for being irresponsible
I hate my self for being easily bored
I hate my self for not having spirits to fight and struggle
I hate my self for leaving my obligation esp. sholat
I hate the fact that I haven't found any real-friend or intimate friend (Setidaknya sekarang InsyaAllah sudah menemukan)
I hate my self for not feeling comfort in doing du'a
I hate my self for always finding more negative sides than positive sides
I hate my self for not having willing to change seriously

But I love my self for being happy in helping others."

Ternyata selama 9 bulan itu hampir seluruh bagian I hate my self masih belum berubah kecuali tentang teman. Jadi selama ini saya ngapain?


Omku Keren

I am on the train right now, on my way home. Kali ini saya pulang membawa barang cukup banyak. Oleh karena itu, kali ini saya akan dijemput Om Ihsan. Om Ihsan adalah adik bungsu ibu saya.

Beberapa malam yang lalu, saya menghubungi Om via SMS.
“Om, kalau aku pulang Kediri trus nyampe sana jam setengah 10 pagi gitu, Om bisa jemput ga?”
“Lha kapan?”
“Rabu atau Kamis ini.”
"Kalau mau pulang woro-woro ya. Aku tak gak usah kerja.”
“Lhah, rapopo? Aku nyari kereta yang lebih mahal tapi nyampe Kediri subuh deh.”
“Podho wae. Tetep wae aku ga kerja senajan subuh. Golek rambane pora yo kawanen hayo. Awan gapapa kok.”
“Yowis deh. Hahaa aku bawa koper sih jadi ga tega nyuruh Mbak Pah yang jemput.”

Ada hal yang “jleb” banget. “Podho wae. Tetep wae aku ga kerja senajan subuh. Golek rambane pora yo kawanen hayo. Awan gapapa kok.” Omaigod, lihat, Nal, apa yang dilakukan keluargamu di sana! Mereka bekerja keras!

SMSnya waktu itu membuat saya mengingat lebih jauh tentang Om Ihsan. He is a hard worker. I admit it. Saat ini, Om Ihsan belum punya pekerjaan tetap. Setau saya, sekarang beliau bekerja sebagai kuli bangunan yang dalam pikiran saya, pasti sangat amat melelahkan, dengan upah yang menurut saya tak seberapa. Maklum lah, Kediri kota yang belum besar, begitu pula standar upahnya. Dan hari ini saya membuat beliau tidak masuk kerja yang berarti saya membuat beliau kehilangan income untuk hari ini. Maafkan aku, Om. Semoga niat ikhlasmu dibayar jauh lebih banyak daripada apa yang kau korbankan.

Om Ihsan hanya lulusan SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) yang di tempat saya disebut SMP Terbuka. SMP Terbuka bukanlah sekolah negeri, itu sekolah swasta. Di daerah saya, sekolah swasta kecil seperti ini dinilai tidak lebih baik dibandingkan sekolah negeri di daerah yang sama. Ya kecuali sekolah swasta yang sudah membuktikan prestasinya lah ya, tapi itu kan namanya bukan sekolah kecil lagi. Saat itu, SMP Terbuka hanya bersekolah dari jam 1 siang hingga jam 4 atau 5 sore, DAN TIDAK SETIAP HARI. Belum lagi lingkungan yang didapat, eum … untung saja Om Ihsan punya filter yang cukup baik. Dapat kalian bayangkan seberapa kurang layaknya pendidikan formal yang didapatkan Om Ihsan.

Beliau bekerja apapun yang bisa beliau kerjakan, kebanyakan beliau “menjual” tenaganya, kadang juga sedikit keahlian dari pengetahuannya. Mulai dari kuli bangunan, buruh tani, jualan, ngebenerin alat elektronik, ngebenerin bagian rumah yang rusak. Belum lagi mengurus sawah milik keluarga dan golek ramban buat makanan kambing.


Saya yakin, Om Ihsan pasti sering memikirkan kehidupan beliau : tentang pekerjaannya, tentang pendidikannya, atau mungkin yang lainnya. Beliau beberapa kali curhat ke saya, suka sama cewe tapi juga sekaligus nanya, si cewe yang notabene anak yang sekolah, apa iya mau sama dia yang ga sekolah tinggi, sekolah yang buat ngaji juga enggak (maksudnya sekolah ngajinya anak pondok). Ternyata masa lalunya mempengaruhi mental pencarian jodohnya.


Om Ihsan adalah orang yang, berdasarkan pengamatan saya, senang belajar. Beliau senang mengotak-atik barang. Beliau sering bertanya pada saya, misal rangkaian ini buat apa, kalau bikin rangkaian buat gini, saya bisa atau engga. Yah saya mah masih cupaks, ga ngerti apa-apa. Sepanjang hidupnya sampai saat ini, I guess, he never interact with computer. Terkadang beliau bertanya pada saya tentang bagaimana menggunakan facebook, gimana cara menggunakan komputer. Tapi ya, jahatnya, saya tidak memberikan semaksimal yang saya mampu.


Om Ihsan adalah orang yang kreatif. Dulu beliau pernah mengotak-atik radio rusak dan akhirnya bisa digunakan. Karena tidak punya casing untuk radionya (tinggal rangkaiannya doang), dibungkuslah rangkaian-rangkaian itu dengan triplek. Itu adalah radio ber-casing kayu triplek pertama yang saya pernah lihat. Beliau juga merakit alat sederhana untuk membantu orang-orang nggeblog pari*. It was simple, memanfaatkan barang-barang yang ada di rumahnya tapi manfaat dari barang simpel rakitannya dapat dirasakan hampir semua orang di sekitarnya. Di pasaran, mungkin sebenarnya sudah ada mesin untuk nggeblog ini tapi sepertinya cukup mahal. Usaha Om Ihsan yang hanya memanfaatkan barang-barang yang ada di rumah menurut saya hal yang keren. Lagian saya kan mau menggambarkan Om Ihsan yang kreatif. Selain itu, untuk mengurangi beban kerja emak (emak itu nenek saya), beliau mengubah sanyo** menjadi mesin untuk memarut. Ah saya cuma ingat itu.


*nggeblog pari adalah kegiatan memukul-mukulkan padi pada suatu alat yang saya lupa namanya untuk memisahkan padi dari pohonnya. Alat yang saya maskudkan masih meminta manuisa untuk memukulnya. Nah, Om Ihsan bikin alat buat nggeblog yang memanfaatkan putaran mesih diesel gitu jadi ga bikin capek. Saya belum lihat penggunaan alatnya secara langsung sih.
**mesin pompa air listrik di tempat saya lebih beken dengan sanyo. Ya semacem air minum kemasan yang lebih beken dengan Akua)

Melihat semua itu, saya yakin jika Om Ihsan diberikan kesempatan untuk belajar ke jenjang yang lebih tinggi, dia akan lebih hebat dibandingkan saya yang bocahnya kayak gini. Bayangkan saja, kombinasi hard worker, curious, dan kreatif. Bukankah hal yang hebat? Cukup berbeda dengan saya yang seperti ini.

Belakangan ini, sepertinya beliau ingin membuka usaha. Beliau tanya-tanya ke saya enaknya jualan apa. Tapi sayang sekali saya belum punya sense untuk bisnis. Kami juga terkendala modal. Tapi kata teman, kalau business plannya sudah jelas, modal akan datang sendiri. Ya karena sensenya belum ada, business plannya juga ga kebayang. Andai saja … Ah andai saja beliau diberikan kesempatan untuk belajar lebih tinggi, mungkin saat kuliah beliau sudah memulai bisnis seperti yang sudah beberapa teman saya lakukan.

Ah andai saja, andai saja …

Terkadang, bahkan saat saya kecil (pas Mbak saya SMA, brati saya masih SD), saya memikirkan bagaimana ya perasaan beliau melihat Mbak saya dapat sekolah di SMA Negeri di kota bahkan bisa kuliah sementara dia tidak. Saya sedih ketika memikirkan itu. Oleh karenanya (entah kenapa) saya merasa bersalah.

Om, maafkan keluargaku yang saat itu tak membantumu menuju pintu kesempatan untuk menikmati indahnya sekolah. Aku yakin, kau akan menjadi orang yang jauh lebih baik daripada sekarang in many ways, jika saja kesempatan itu datang. Aku tak tahu, apakah kau tidak melanjutkan sekolah karena masalah biaya atau memang kau tak mau. Tapi aku yakin alasan pertama lah masalahnya. Aku juga tak tahu, apakah saat itu keluargaku memang tak dapat membantumu atau tidak. Saat itu memang ekonomi kami sangat buruk, tapi kupikir seharusnya kami bisa mengusahakan untuk membantumu, bagaimanapun caranya. Seperti bagaimana bapakku memperjuangkan aku, mbakku dan adikku bagaimanapun caranya asal halal. Karena setelah kupikirkan di saat aku sudah di umur sekarang, saat itu harusnya ibu dan bapakku juga punya andil di sana. Oleh karena itu, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Untuk membalasnya, izinkan suatu saat nanti aku membantu menyekolahkan anak-anakmu nanti.

Kau mungkin tak akan pernah membaca tulisan ini tapi … biar saja. Aku sedang ingin.

Berkomunikasi denganNya


Sering saya berandai-andai untuk berkomunikasi dengan Allah. Sebenarnya sudah ada sholat yang seharusnya menjawab keinginan saya. Saya ingin berkomunikasi dengan Allah “in my way”. Padahal seharusnya bacaan-bacaan dalam sholat dapat mewakili segala yang ingin saya curahkan. Namun, jujur saja, saya masih belum sampai pada level dimana saya dapat menjiwai sholat dengan sepenuhnya. Saya ingin curhat pada-Nya seperti saya curhat pada teman saya. Makanya, terkadang saya masih berandai-andai, terutama ketika saya merasa mendapatkan sesuatu yang berat, jika saja ada aplikasi chat dengan Tuhan.

Misal saja seperti ini, ingin rasanya bertanya langsung pada-Nya. “Allah, sebenarnya Engkau meridhoi aku melakukan ini atau tidak?”

Atau mungkin “protes” padaNya (“protes” ini boleh ga sih?), “Ya Allah, kenapa tidak Kau berikan padaku? Aku rasa, aku jauuuh lebih membutuhkan daripada dia. Lalu selanjutnya bagaimana? Kupikir, Engkau harus bertanggung jawab atas keputusan membuatku masuk di sana."

Terkadang, di saat yang lain, ingin juga membujuk Dia, “Allah, mau jadi temanku? Tolong jadilah temanku agar aku lebih dekat denganMu.”

Atau mungkin berkomunikasi untuk memujiNya, “Subhanallah. Menakjubkan rasanya membayangkan berbagai hal menakjubkan yang terpikir, seperti : level waktu, atau mungkin hembusan angin dari negeri nun jauh di sana. Ah Allah, Engkau keren dan romantis sekali.”

Namun sebenarnya, dI saat yang sama saat saya berpikir demikian, saya juga mikir, saya dosa ga ya mikir begini?

Renungan


Pama wong pasa, iki wis arepe maghrib ngono kae kok arepe mokel. Kudu diempet, dipertahankan. Diluk engkas maghrib gek ndang buka.


-- 20170125 --

Berjuang



Ingat! Ini adalah perjuangan. Tidak ada ceritanya perjuangan itu mudah dan enteng. Pasti ada tantangan dan hambatan.

--- SMS 20170114 ---

Renungan

Niatnya nyari blog teman (barangkali dia punya blog). Eh nemu ini di blog orang yang saya pun belum kenal. I like it.


Jikalau Neil Armstrong dapat menancapkan bendera di permukaan bulan, siapa yang sanggup menancapkan iman di dalam hati, tempat yang jauh lebih dekat, kecuali Dia Yang Membolak-balik Hati?

dari ikhlasulamal.name "Penjahat Salat"

Renungan

Hi ... ohisashiburi desu ne ...

Kok rasanya sudah lama ga ngeblog. Hahahaa ternyata postingan terakhir baru tanggal 15 November lalu. Sejujurnya, saya ga tahu topik yang mau ditulis apa *mringis* Pengen nulis saja.

Ummm ...

Belakangan ini sudah beberapa kali bapak saya menceritakan keadaan beliau. Katanya, setelah beliau sakit, terjadi sesuatu yang cukup aneh. Entah kenapa, semenjak beliau sakit, anak-anak di sekolah jadi senang diajar beliau. Beliau jadi rebutan kelas. Trus pas kemarin beliau sempat ga masuk beberapa hari, saat masuk langsung ditanyain anak-anak, "Kemarin kemana, Pak? Kok ga masuk. Kangen." Saya aja heran murid beliau bisa-bisanya bilang kangen. Nah saya? hahaha. Beberapa waktu lalu katanya beliau juga dikasih hadiah sama anak-anak. Dikasih buku, bulpen gitu katanya. Beliau sempat tanya, "Kalian ga takut sama Bapak? Ora gilo? Kan Bapak udah tua gini. Sakit. Udah kempong." "Enggak," kata mereka. Dan beliau luar biasa senang akan kenyataan anak-anak menyukai beliau.

Nah. Kenapa itu baru terjadi setelah beliau sakit? Di saat keadaan beliau malah lebih not-good-looking? Saya masih penasaran. Kalau kata beliau sih mungkin salah satu hikmah dari beliau sakit.

Sebelumnya, saya juga sudah baca buku "#sharing 2" karya Handry Satriago. Beliau mengalami kesulitan yang sempat membuat beliau putus asa. Tapi sekarang ... if u know him, he is CEO of a multinational company in Indonesia. Lalu timbul pertanyaan dalam benak saya, bagaimana bisa orang yang saya sebutkan tadi sekarang mendapatkan such good condition di tengah "kesusahan" yang mereka dapatkan? Bagaimana bisa mereka sesemangat itu ditengah keterbatasan mereka? Mengapa saya yang cuma dapat sesuatu yang buruk yang jauuuuh lebih kecil dibanding mereka kok masih begini-begini saja?

A thought came up to my mind. Mereka menerima keadaan mereka. Mereka sudah ikhlas. Justru mereka mensyukuri segala yang mereka punya. Mungkin ini yang belum saya punya. Menerima. Mungkin saja kamu hanya setelah berbulan-bulan belum kunjung ikhlas menerima kenyataan itu, Nal. Mungkin.

Hidup

Ah saya jadi pengen nulis blog karena seorang teman. A friend of mine is in the "black hole" when I am writing this. Seems like a frustrated person. Dia bertanya, "gimana sih cara hidup dengan benar." (Idk if it's really a question since there's no question mark in the message haha)

Saya baru ngeh ada pertanyaan itu setelah saya menjawab pesannya. Saya jadi memikirkan pertanyaan itu dan tiba-tiba pikiran saya menemukan sebuah jawaban.

Gimana cara hidup dengan benar?
Dengan berusaha untuk bahagia dengan cara yang baik dan benar.

Setiap orang punya pemikiran sendiri tentang makna bahagia. Setiap orang juga punya cara masing-masing untuk mencapai kebahagiaan. Ada yang menurutnya bahagia adalah ketika dia mencapai impian terbesarnya. Ada yang bahagia hanya karena dapat memberikan bantuan pada orang lain. Ada orang yang bahagia untuk dirinya sendiri, maksud saya, dia hanya bahagia dalam dirinya karena pencapaiannya, tanpa menyadari apakah sebenarnya dia sudah membahagiakan orang lain dengan pencapaiannya itu. Ada juga orang yang bahagia untuk orang lain. Asalkan orang lain bahagia, dia akan bahagia. Ada orang yang bahagia karena dapat bersama teman dan keluarga. Ada juga yang hanya sendiri dan merenungi sekitarnya pun sudah bisa bahagia. Dan sebagainya dan sebagainya.

Bahagia itu tidak gratis. Hidup pun juga isinya tidak bahagia melulu. Makanya cara hidup dengan benar menurut saya adalah dengan berusaha untuk bahagia. Manusia akan selalu mengusahakan untuk bahagia, no matter how. Mana ada manusia yang betah-betah menjadikan depresi, putus asa, dan kondisi sulit lainnya sebagai zona nyamannya.

Namun perlu digaris bawahi, dibold sekalian, dengan cara yang baik dan benar. Dari sini saya menemukan beberapa poin dari baik dan benar, yaitu :
- cara yang halaalan thoyyiban,
- niatnya baik,
- tidak merugikan orang lain,
- tidak menyalahi norma, terutama norma agama dan susila,
- tidak membuatnya melupakan Tuhan, jika dia percaya Tuhan

Saya yakin, orang yang mengusahakan kebahagiannya dengan cara yang tidak baik sejatinya tidak merasakan kebahagiaan dalam hatinya.  Pasti ada ketidaknyamanan dalam hatinya. Sekecil apapun itu.

Poin terakhir perlu disoroti lebih lanjut. Frasa "mengusahakan bahagia" membuat seolah hidup ini selalu memandang ke depan. Selalu mengejar. Sebenarnya, ada kalanya kita perlu merenung. Percuma saja kita mengusahakan bahagia dengan cara yang sesuai dengan empat poin teratas namun membuat kita "menuhankan" dunia. Seolah kita tak berdaya tanpa dunia. Tak bisa hidup tanpa dunia. Dunia maksudnya ya segala sesuatu di dunia ini even if it's only a single and small thing. Poin ini yang akan menjadi rem kita.

Di sisi lain, di saat kita berada pada state negatif, poin terakhir tadi akan menjadi penyemangat kita jika kita mampu mengamalkannya. Akan membuat kita merenung kembali betapa beruntungnya kita dalam kehidupan ini, betapa banyak hal yang harusnya kita syukuri tapi malah terlupakan karena kita sebelumnya hanya terfokus meratapi nasib, dan menyadarkan kita bahwa masalah kita sesungguhnya masalah yang sangat kecil. Dengan begitu, kekuatan untuk bangkit menjadi terkumpul.

Jadi ... tidak ada cara saklek bagaimana menjalani hidup dengan benar. Hanya mengusahakan untuk bahagia dengan cara yang baik dan benar yang kemudian diturunkan menjadi milestones yang lebih spesifik. Jika sempat tersandung, usahakanlah lagi menjadi bahagia.

Ya semoga penulisnya ga omdo wkwkwk --> ini ngrusak flow banget deh hahahaa

Renungan





Will I be able to become someone who can do things for others?
-- Takashi Natsume, Natsume Yuujinchou