Posts

Showing posts with the label Kampus

Wisuda

Halo, Dunia! Perkenalkan, saya Dewi Nala Husna, sudah resmi lulus dari tempat kuliah yang berarti juga resmi menjadi masyarakat sipil (masih) pengangguran saat menulis ini. Waktunya memperbarui laman 'about'.


Yak delapan hari yang lalu saya menjalani sidang terbuka yang kedua. Rasanya biasa saja. Mungkin karena saya sudah terlalu 'tua' sehingga euforianya tak seperti euforia orang lain (dalam imaji saya).

Wis uda(h)
Ehm saya mau nyinyir eh mengungkapkan pendapat saja. Saya menemui beberapa orang yang me-mleset-kan 'wisuda' menjadi 'wis uda(h)'. Jujur, saya agak berat mengikuti hal tersebut. Lebih suka menyebutnya dengan sewajarnya saja. Saya melihat ungkapan baru itu seperti keputusan untuk berhenti sekaligus menyiratkan beratnya hal yang telah dilalui dan ingin membuang jauh-jauh semua itu. In my mind, it's like, "Akhirnya gue terlepas dari ini semua. Akhirnyaa penderitaan gue berakhir ... Udah deh. Gue ga mau mengulangnya lagi. Kapok." Parahnya lagi, saya menafsirkannya dengan niat berhenti belajar.

Menurut saya, apapun yang sudah terlewati adalah bukan hal yang sia-sia. Tuhan sudah capek-capek (Tuhan ga pernah capek sih) men-set-nya untuk meningkatkan level kita. Lagian paling ntar juga kangen semua itu. Plus, berakhir masa studi di satu lembaga bukan berarti berhenti belajar, bukan berarti ujian cuma di sana saja, malah sebenarnya kita dibawa ke tempat lain yang lebih menantang. Jadi kalau beneran 'wis uda(h)' itu berarti "penderitaan gue berakhir" sepertinya itu salah besar karena tantangan selanjutnya lebih menantang seiring dengan meningkatnya level kita.

Hahaaa cuma pendapat saya, pikiran yang nongol menanggapi istilah baru itu. Saya yakin kok orang-orang yang menggunakan istilah itu ya cuma iseng-iseng. Saya saja yang memaknainya terlalu dalam wkwk.

Anti mainstream
Sebenarnya saya merasa banyak bagian dari hidup saya ga sesuai dengan arus sekitar saya sehingga saya sering banget bilang "hidup saya anti mainstream amat sih -___-" Nah wisuda saya ternyata tak luput dari gremengan ini.

Pertama, tentu saja waktu wisuda saya yang telat setahun dari teman-teman seangkatan  pada umumnya.

Agak ke belakang sedikit, buat mencapai kelulusan TA, jalan saya juga agak berbeda dari yang lain. Bahkan berbeda dari teman satu tim.

Ketiga, biasanya wisuda di kampus saya diadakan pada hari Sabtu. Kalau membludak paling ngepol Jumat lah yang pernah terjadi sebelum ini. Di periode ini, saya dapat wisuda hari Kamis.

Empat, umumnya wisudaan di kampus saya diiringi dengan arak-arakan wisudawan oleh himpunan masing-masing. Nah kali ini, himpunan saya karena suatu hal, tak bisa mengadakan arakan. Jujur ya, hampa rasanya. Udah wisudawan himpunan cuma sebelas biji, wisuda hari kamis, ga ada arakan lagi. Sebenarnya apa yang salah dengan hari kamis? Itu weekdays, sebagian ortu bekerja (buat saya ga ngaruh sih), dan ada kuliah. Akhirnya, hari itu relatif lebih sepi daripada hari sabtu yang ortu ga kerja, semua mahasiswa free dari kuliah dan bisa nongol ke tempat wisuda. Ini juga berpengaruh pada kinerja LO.

Wisudawan yang datang syukwis himpunan pun cuma 3/11: saya, Ikhlashul, dan Mamang Gojek

Lima, ketidakjelasan kedatangan keluarga. Orang tua yang tak bisa datang wisuda bukan hal yang anti mainstream menurut saya. I think, there would be many people whose parents couldn't come. Wisuda saya direncanakan untuk didatangi Mbak dan Om. Semuanya sudah saya persiapkan jauh-jauh hari untuk hari Sabtu. Jadwal hari kamis yang tetiba nongol tentulah mengubah segalanya. Karena keterbatasan, ada wacana mereka tak jadi datang. Saya dirundung kesedihan, kegalauan, atau mungkin sebenarnya iri melihat orang lain keluarganya bela-belain datang, sampai ada yang beli tiket wisuda dengan harga muahal (bagi saya) demi melihat upacara sekali seumur hidup itu, sementara saya? hahaaa tapi H-2 akhirnya mereka memutuskan membeli tiket kereta baru demi Om dapat menyaksikan upacara wisuda saya -- Mbak tak bisa masuk karena bawa balita. Akhirnya saya bahagia ada mereka


Enam, Nominasi Best Female Graduates
Pada tanggal 03 Oktober 2017 sore, saya dibangunkan oleh telepon dari Bapak Kaprodi. Kaget dong. Beliau menawari saya untuk dinominasikan menjadi best female graduates yang merupakan event dari Ericsson. Saya hanya perlu mengumpulkan esai berbahasa inggris tentang suatu tema. Saya terima tawaran tersebut. Kapan lagi saya bisa kecemplung di beginian.

Sungguh itu adalah sebuah keberntungan. Saya bisa kecemplung di sana karena saya adalah satu-satunya wisudawati dari jurusan saya. Kalau ada wisudawati lain, mungkin saja saya tak dipilih.

Ga menang sih. Pemenangnya anak S2 kalau ga salah. Tapi berkat event ini saya jadi riset, jadi belajar tantangan apa saja yang akan saya hadapi nanti jika saya menelusuri jalur yang sama dengan yang saya titi di kampus.

Saya sempat berkecil hati karena dua teman saya yang datang syukwis himpunan itu maju ke depan saat syukwis STEI karena cum laude. Saya kan engga. Dan rasanya senang sekali, berkat event ini, ada giliran saya dipanggil ke depan saat syukwis STEI. Ditambah salaman dengan perwakilan dari Ericsson dan kaprodi (?) pemenangnya (pemenangnya ga datang jadi diwakilkan ke kaprodi).

Terakhir, yang datang ke syukuran wisuda fakultas saya bukanlah ortu, mbak, ataupun om saya tapi malah ibu kos lama saya, Teh Ros saya memanggilnya.

Sebenarnya itu saja sih cerita wisuda anti mainstreamnya.

Anyway, saat syukuran wisuda STEI, saya menyadari, orang tua akan begitu bahagia dapat mendatangi acara semacam itu untuk anaknya, bagaimanapun hasil belajar anaknya. Sekedar melihat bagaimana sosok tempat yang dititipinya anaknya selama ini saja sudah bahagia apalagi melihat anaknya mendapatkan hasil yang baik dan diapresiasi di kala itu. Malam itu, saya berandai-andai. Andai saja bapak saya datang, andai saja bapak yang duduk di samping saya, bukan Teh Ros.

Daaan terima kasih untuk semua teman yang menyempatkan waktu untuk membahagiakan saya, merayakan kelulusan saya. Terima kasih untuk masih mengingat saya. Saya bersyukur atas wisuda ini. Saya bersyukur masih bisa wisuda bareng sebagian kecil teman seangkatan kuliah. Saya bersyukur dapat 'wisuda bareng' beberapa teman sekolah dulu : teman SD dan MTs. Semuanya membuat saya merasa boku wa hitori janai (bodo amat ini kalimatnya bener atau engga).

Engca Story (2)

Hari Kelima

Hari kelima jatuh di pada tanggal 09 Juni 2017. Hal paling berkesan di hari kelima adalah bertemu "orang baru". Namanya Mark, orang Filipina. Kesan pertama saya terhadap Mark adalah serem. Iya, serem. Dia kata-katanya agaknya langsung cas-cus, jlab-jleb gitu. Saya sebagai orang yang sensitif takutlah jadinya. BTW dia orang pinter. Dia masuk kuliah S1 di sini pas umur 15 tahun. Trus sekarang dia bilang, dia udah capek belajar, pengen segera selesai. Nanti abis ini mau kerja walaupun keluarganya hampir semua ngerih-ngerih buat lanjut studi. Trus waktu itu dia bilang dia masih buanyak proyek yang harus diselesaikan, sekitar 30-an proyek. BUSEEEEET. Ampun deh ampun.


ini yang namanya Mark

Trus ada yang special lagi di hari Jumat. Hari itu pertama kalinya ada yang minta kopi ke saya. Hahaaa ada dramanya juga sih soalnya kopi di engca tinggal black coffee alias kopi pait, ada gula sih, tapi ga ada sendok buat ngaduk, air buat bikin kopinya belum diisi ulang. Lu doang deh, Nal, yang bikin ini jadi drama.

Mereka yang minta kopi. Saya lupa nama mereka. Cuma inget satu, cowo berbaju krem namanya kalau ga salah Lee Daeho

Hari Keenam

Senin, 12 Juni. Nothing special. Literally. Maklum nunggu engca jam 10-12am memang biasanya sepi.

ga sepi-sepi amat sih, cuma pada sibuk semua

Hari Ketujuh

Selasa, 13 Juni. Saya seneng-seneng gimana gitu, ada orang yang memperlakukan saya secara spesial. Spesialnya gini. Ada orang namanya Jae Yeong. Nah, dari pertama ketemu sampek sekarang, dia selalu nglakuin .... "Thbpbpthpt" tiap ketemu saya. Duh gimana nulisnya ya. Yang kayak gambar ini lho, tapi lidahnya ga keluar.


Dan semua itu karena pertama kali saya ketemu dia, dia diminta Liyana berkali-kali nyebut nama saya sampek bener. Maklum, kebanyakan orang korea kalau nyebut nama saya jadi "Nara", bukan Nala. Banyak orang korea heran gitu pas pertama kali denger nama saya, "nara?" "nara?" Hahaaa semua itu karena "nara" adalah sebuah kata dalam bahasa korea, artinya "negara". Makanya kalau saya bilang "Jae ireumeun Nala imnida,"  kemungkinan mereka nangkepnya, "nama saya negara."

Yaaa gitu deh, nama saya unik juga yak. Ada Empu Nala yang saya pernah nemu di buku IPS SD Kelas 5 (lupa itu siapa). Ada tokoh singa cewe namanya Nala di kartun Simba. Trus ada juga Nala Gareng (kalau googling "gareng", kemungkinan besar bakal muncul link ke Wikipedia dan disana disebut, nama aslinya Nala Gareng) -_- Gapapa, walaupun Gareng kedengeran agak ndeso, tokoh ini perangainya baik kok. Tokoh wayang asli Indonesia lagi. Trus ada juga di tembang sulukan yang dinyanyiin Pak Bram, sering saya denger lirik yang mengandung kata "nala", artinya hati. Trus ada juga Nala sebagai salah satu tokoh di kepercayaan hindu, entah kepercayaan hindu daerah mana. Trus nemu juga di google, ada Dinasti Nala yang pernah ada di India sana.

Tapi nama saya itu Nala dari bahasa arab loh. Itu fi'il maadhi (kata kerja bentuk lampau), artinya mendapatkan. Jadi, kira-kira nama lengkap saya itu artinya, orang yang mendapatkan kebaikan. Kok jadi ngomongin nama sih -_-

Jadi deh dia latihan ngucapin "L" berkali-kali dan berakhir ber-thbpbpthpt ria tiap ketemu saya. Awalnya saya pikir dia ngledek lho. Tapi saat ini malah saya menganggap itu sebagai tanda bahwa saya unik dan itu semacam "ungkapan sayang" atau mungkin "penanda pertemanan" buat saya wkwk. Dan tentunya membuat saya berpikir itu sebagai tanda bahwa Jae Yeong menganggap saya sebagai teman yang lebih dari sekedar tahu nama doang. Ada keinginan untuk menjadi teman baik yang saya tangkap dari thbpbpthpt itu.

Engca Story

Hari Ketiga

05 Juni 2017, saya kerja lagi di engca, pukul 10-12 am. Nothing special sebenernya. Kali ini, saya beneran datang paling pertama karena jadwal jaga saya di jam awal buka engca. Hari itu saya baru sadar lagi, ruangan-ruangan di kampus sini kebanyakan ga pernah dikunci. Ruang kelas netpro, bisa dipakai 24 jam, perpustakaan yang tempat belajar gitu bisa dipakai 24 jam juga kata Miji, teman sekamar saya. Trus saya juga baru sadar kemarin itu kalau kampus ini menyediakan ruang-ruang diskusi yang bisa dipakai mahasiswa buat belajar bareng. Sepertinya juga bisa dipakai 24 jam asalkan reservasi dulu. Kalau di ITB ruangan-ruangan kayak gitu dimana ya? Kayaknya yang bisa 24 jam cuma ruangan buat ngerjain TA. Itu pun penghuninya jelas "tetap". Ah sayang sekali di ITB ga 24 jam kayak dulu.

BTW setelah lihat instastories temen, ternyata walaupun kampus itu kelihatan sepi, orang-orangnya pada di dalam ruangan semua gitu. Kemarin pas weekend, ruangan belajar di perpus penuh. Ngambis tenan to di akhir-akhir kuliah. Nah lu gimana, Nal?

Hari itu, saya kenalan properly sama Gio. Dia ketawa pas saya bilang kalau pertama kali saya lihat dia, saya kira dia orang Jepang. Hahaha trus apa lagi ya di hari ketiga? Saya lupa.

Hari Keempat

Hari keempat, 08 Juni 2017, jaga jam 10-11am saja. Jadwal saya yang satunya diisi Joha yang mau payback minggu lalu saya nggantiin dia dua jam. Seperti biasa, jam-jam awal itu sepi. Tadi cuma ada Jiha. Akhirnya ngobrol dikit dengan dia. Datar. Yea. Itu kesan pertama saya buat dia.

Sebenernya sih, saya in the middle of project gitu. Tadi mau minta Jiha dan Cheolhun untuk berpartisipasi membantu proyek saya but unfortunately mereka menolak wkwk. Yaudah deh. Objek target proyek, maaf ya kalau nanti hasilnya ga maksimal. Saya masih cupu minta-mintanya. Yaampun ini proyek apaan sih kok minta-minta -____-


Getting Along with Everyone

Assalaamu'alaikum!

Tak terasa, tinggal tiga minggu lagi saya numpang di sini. Masih ada beberapa tugas akhir mata kuliah yang belum dikerjakan. Masih belum masuk minggu-minggu uas sih. Time flies so fast. Kok jadi tiba-tiba gini sih.

Ngomong-ngomong, Umi, mantan teman sekamar saya, sudah berangkat ke Maluku. Semoga barokah apa yang dia lakukan. InsyaAllah we will meet next time, Um. Sekarang juga saya sudah kangen dia. Sudah lima bulan tak bersua. Terakhir bertemu pun hanya pertemuan singkat di minggu awal Januari.

Saya pernah bilang, saya punya target getting along with everyone di bulan terakhir saya di sini. Tampaknya Allah mendukung keinginan saya ini. Setelah saya menulis blog yang mengandung keinginan itu, tiba-tiba manajer English Cafe (selanjutnya mari sebut saja engca) menghubungi saya, Taehun namanya. Dia menanyakan apakah saya bisa dan mau bekerja di engca. Saya kaget tetiba mendapatkan pesan seperti itu. Padahal sebelumnya saya pernah ngobrol dengan Liyana, teman dari Malaysia, bahwa Taehun karena sesuatu hal tak mau menghire Indonesian lagi. Dan saya pun tak pernah secara langsung meminta pada Taehun untuk dipekerjakan di engca. Pernah secara tak langsung meminta, dan itu pas bulan April lalu. Saat itu dia bilang ke saya, "kamu main-main ke engca saja." Tapi saya tak melaksanakan permintaannya karena setiap kali saya ada niat untuk berkunjung ke engca, muncul dialog dalam diri saya yang kurang lebih seperti ini,

"OK, Nal, hari ini ke engca yaaa. Biar dapet kerja. Biar ga ansos juga."
"Hmmmm ... Nal, yakin kesana?"
"???"
"Di sana mau ngapain? Ga bisa ngerjain tugas di tempat ramai kan? Masa mau nonton anime? Kelihatan banget gabut. Lagian yakin kesana ga ada temen? Entar merasa sendirian di tengah keramaian lagi. Trus sedih."
"Iya juga sih ya. Di sana mau ngapain coba? Takut juga ih kalau di sana ga ada yang ngajak ngobrol."
"Nah kaaaaaaaan. "
"Yaudah deh, mending di kamar, mencoba mengerjakan tugas. Kalaupun ga ngerjain tugas, yutuban atau nonton anime kalau sendirian kan ga malu-malu amat. wkwk"

Yah begitulah ceritanya tiap kali saya akan ke engca in the past.

Saya merasa, tawaran kerja di engca ini adalah jalan yang diberikan Allah untuk membantu saya. Kan kalau ada kerja di engca, saya jadi ada alasan ke engca. Saya jadi ada alasan buat main dan ngobrol-ngobrol dengan orang-orang di sana.

Dan seperti apa?

01 Juni 2017 adalah hari pertama saya bekerja di engca. Jadwal saya jam 10-11am dan 2-3pm. Namun, saya dimintai tolong Joha, teman dari Equador, untuk menggantikannya hari itu karena dia harus ke Seoul. Jadwal dia jam 12-2pm. Ada slot kosong sejam sih tapi nanggung. Jadilah hari pertama saya, saya 5 jam di engca. Serem? Ternyata engga sama sekali. Ya Allah, terima kasih^^ Ditambah lagi, kemarin atau dua hari yang lalunya gitu saya sempet main ke engca juga. Sempet kenalan sama beberapa orang baru meskipun lupa namanya.

Salah satu hal yang berkesan di hari pertama adalah ngobrol dengan pengunjung pertama, Cheol Suk namanya kalau saya ga salah ingat. Dia ambil Electronic Engineering. Trus dia sedang tugas akhir. Mengejar wisuda Februari nanti. Semangaaaat^^ Dia ke engca sebelum engca buka. Engca buka jam 10, dia datang setengah 9.

Hal yang paling berkesan adalah ngobrol bareng Hye Yeong. To be honest, saya cukup tertarik dengan Hye Yeong. Dia terlihat tertarik dan semangat banget belajar Bahasa Inggris. Waktu itu dia nyamperin saya sambil bawa buku bahasa inggris. Rupanya dia mau latihan ngobrol sesuai yang diajarin di buku. Kami juga ngobrol bareng dengan Liyana. Seru banget. Bahasa inggris saya masih cupaks sih, ga terlalu bisa membantu dia.




Tiba-tiba nih, tiba-tiba banget,saya penasaran apa yang dilakukan teman-teman yang ga beragama ketika mereka berbahagia atau bersedih. Trus kepikiran nanyain ini ke Hye Yeong. Semoga saja diberikan lebih akrab dan kesempatan sehingga bisa nanyain.

02 Juni 2017 saya kerja lagi di engca. 6-8pm. Tapi ini ga dihitung kerja, dihitung voluntary. Sempat ketemu Hye Yeong yang mampir sekitar 5 menit, katanya dia dari rumah. Trus dia nanya bahasa inggris yang saya ga tahu. Mungkin pembaca ada yang tahu (ada yang baca gitu?)

Jadi gini. kalau kita sedang di suatu tempat, sekre unit misalnya. Pas teman kita datang, biasanya kan kita tanya "Barusan darimana?" Nah, cara mengungkapkan ungkapan itu dalam bahasa inggris gimana ya? Let me know, please ...

Di hari kedua, saya agak canggung. Banyak waktu yang di engca saya ga akrab, ga kenal malah. Bahkan, sempat engca itu kosong momplong, isinya saya doang soalnya jam 6-7an gitu jam makan malam orang korea.


Tadi saya juga sempat ngobrol dikit dengan Taemin. Dia ternyata juga tingkat akhir. Sama kayak Cheol Suk (eh ternyata setelah kepo instagram untuk memastikan nama, namanya Cheol Hoon *mringis*) but somehow Taemin lebih terlihat dewasa hahaaaa.

Trus tadi saya juga ngebersihin engca di tengah keramaian canggung-ly. Tiba-tiba di tengah saya "ngevacum", seseorang yang saya dengar namanya Gio, ngasih saya thumb up. Kalau ga salah denger, Taemin juga sempat nggremeng "hardworking". Bukan apa-apa sih, heran aja. Ini kan emang salah satu tugas kerja di engca. Saya merasa agaknya ngebersihin engca dianggap sesuatu yang terlampau baik. Atau mereka ngegituin saya biar saya ga canggung ya? Hahaaa

Well, semoga saja di waktu yang tersisa ini, semuanya bisa terselesaikan dengan baik, semua target tercapai dengan baik dan lancar. Aamiin.

Cerita Saja (17)

Hai! Apa kabar?

Rabu dan Kamis barusan ini saya seneng banget. Hari Rabu, saya ada kelas, sebut saja netpro. Setelah kelas, saya banyak ngobrol dengan Agung, mulai dari ngomongin agama, sampai utang orang-orang terkenal. Saat itu ada seorang cowo masuk ke kelas dan ternyata dia ketua proyek Smart Farm di kampus sini. Trus kami kenalan, ngobrol dikit walaupun sekarang saya lupa namanya. Maaf.

Lalu saat akan masuk gedung digital menuju kelas bahasa korea, teman-teman (James, Joha, Kamel, Darvish, dan Fabian) menyapa dari lantai 4. Rasanya seneng banget. Padahal sesimpel itu. Saat itu saya kembali sadar, hal simpel pun bisa bikin orang lain seneng ya. Pas saya sampai di lantai 4, saya hampiri mereka. Trus saya ditanyain Fabian, "udah ngerjain pr?" Seneng, Coy. Padahal cuma ditanyain gitu doang, dan mungkin itu basa-basi. Trus di kelas juga Joha tanya sekali atau dua kali gitu ke saya. Sepulang kelas, kami jalan bareng ke dorm. Beberapa menit kemudian mereka semua jalan ke festival. Saya pengen ikut, tapi saya bilang ke Joha, "I really want to but I need to wait for my prayer time so I will not skip." Dan yaaaa saya ga ikutan.

Selepas makan malam, saya jalan-jalan sendiri ke festival. Ketemu Juwel (bener ga ya?), Faisal, dan maaf, lupa namanya yang satu lagi. Trus saya ngobrol dikit dengan Juwel. Kami berpisah di area konser. Saya memutuskan jalan-jalan keluar kampus jam 8 malam itu, demi beli roti tawar yang saya sudah ngidam entah sejak kapan. Penjaga tokonya baik banget. Beruntung sekali beliau mengerti saya sekalian mau tukar uang 500an jadi lima uang 100an tanpa saya ngomong (ga tau ngomongnya gimana juga). Melihat keriuhan sekitar di malam hari menyenangkan juga. Saya senyam-senyum sendiri sambil jalan. Hari itu sangat membahagiakan karena saya merasa ada yang menganggap saya ada dan mau bersosial dengan saya. Jarang-jarang saya bisa merasa sebahagia ini di sini.



Jarang-jarang jalanan ini dipake tempat parkir mobil 


 Tempat parkirnya dijadiin stand nongkrong sih. Dipake makan dan minum-minum.


Pengen deh makan ayam di Mom's Touch 

Orang Jualan Ayam 



Nih di tempat parkir standnya banyak kan

Sampai di kamar, saya makan roti tawarnya. Habis beberapa potong. Saya pikir, paling baru habis sekitar lima hari kemudian. Ternyata setelah dicek, tanggal kadaluarsanya adalah hari esoknya. Penyesalan melanda. Kenapa ga dicek dulu sebelumnya. Akhirnya saya makan dua atau tiga potong sambil nonton. Juga berencana untuk mengolah roti itu esok pagi agar paling tidak nanti kalau harus dibuang, ga terlalu banyak gitu. Asumsi saya, kadaluarsa hari itu tuh, hari itu masih cukup oke untuk dikonsumsi, kalau hari itu sudah habis baru mungkin bermasalah kalau dimakan. Dan ternyata saat saya memandangi roti tawar itu, sadarlah ada keterangan bahwa roti itu diproses dengan mesin yang sama untuk memroses daging babi. Ngek ngooook. Dilema melanda. Satu sisi bilang harus dibuang, satu sisi bilang sayang, masih banyak. Dan akhirnya diputuskan untuk dibuang. Mungkin Allah sengaja kasih yang kadaluarsanya esok hari agar lebih ga sayang buat ngebuang. Hahahaaa kok jadi ngomongin makanan.



Kamis, entah kenapa ada sesuatu dalam diri saya yang ngajak keluar. Kepikiran buat ke English Cafe, temat yang selama ini saya pengen banget nongkrong di sana tapi belum cukup berani ke sana. Sama kayak ke sekre baru gitu lhooo. Perlu ada temen kalau mau ke sana. Akhirnya saya jalan-jalan ke festival sendirian. Aneh banget jalan-jalan ke festival sendirian. Akhirnya saya jalan-jalan sambil ngefoto-foto. Setelah selesai, saya agak memaksa diri ke English cafe. Ternyata ke English Cafe sendirian kala itu tak semenyeramkan yang saya bayangkan. Beruntung ada Joha di sana. Ada teman lah.






Ga tau ini orang-orang lagi ngapain. Mungkin guess star nya artis idolanya dan mereka nungguin. 



Itu soda kok

Saya bantuin Joha menyiapkan tools untuk dia presentasi tentang Ekuador ke anak sekolah. Trus saya mengantar dia beli permen cokelat. Kami juga mampir ke festival, lihat-lihat doang. Sepanjang jalan, kami banyak ngobrol. Dia cerita tentang malam sebelumnya dia dan teman-teman berakhir minum-minum tapi dia ga minum banyak. Dan dia baru balik jam 5 pagi. Trus dia juga cerita kalau Kamel dan Fabian ternyata punya pacar yang baru ketemu di Korea ini. Cerita juga kalau saat mereka minum-minum itu ada pacarnya fabian, dan mereka sempat ciuman di sana. Katanya seru dan crazy sangat lah malam itu. 

Senang. Seneng banget bisa tahu cerita mereka.

Selanjutnya kami kembali ke English Cafe. Lalu saya beralih ke Liyana. Kami ngobrol banyaaak banget tentang Islam. Mungkin juga banyak ghibah. Dan hari itu saya juga ngobrol dikit, bukan ngobrol banget sih soalnya itu obrolan dengan peserta siapapun yang ada dan mau terlibat gitu wkwkw. Ya sok ngakrab gitu dengan beberapa orang di English Cafe. Belum kenalan properly sih tapi seneng banget.

Ohiya, dalam tiga hari festival itu, ada beberapa artis kpop yang jadi guess star di sini. Dan spring festival tidak hanya di sini, di kampus lain juga ada. Dan kemarin ada Mamamo, Psy, dan ga tahu apa lagi di Gumi University. Di sini, yang saya tahu, ada Lee Hi (bacanya yihai), Gugudan, entah apa lagi. Btw saya sempet menikmati konser Lee Hi beberapa saat. Saya suka suaranya. Haha. Dan akhirnya saya tahu, musim spring festival, artis korea banyak duit wkwkwk.

Ya gitu deh. Saya merasa dua hari itu Allah memberikan banyak kebahagiaan (yang sebenarnya simpel) untuk saya. Terima kasih, Allah.

Cerita Saja (12)

Hai. TA GUE KELAR, MAAAAN!!! Yeah.

Setelah TA beres, beberapa hari ini malah disibukkan beberes kosan biar nanti pas akan meninggalkan tidak terlalu repot. Sebenarnya masih ada tanggungan bikin paper. Hahahaa



anyway, gambar di atas tulisannya "open when u've graduated" tapi maksudnya sih bukan wisuda

Sudah jam segini. Belum juga bisa tidur. Dari kemarin pikiran saya melayang. Masih ga percaya kalau saya udah lulus TA. Aneh rasanya. Gara-gara postingan renungan tentang perumpaan seperti puasa, saya jadi sadar, ini rasanya mirip kayak lebaran, ada yang aneh setelah sekian lama puasa. Ahaaaaa .... Trus kepikiran abis ini mau ngapain. Kepikiran ternyata jadi murid itu enak banget. Hahahaa

BTW nanti saya mau ke Jakarta untuk pertama kalinya. Sendirian. Saya mau mengurus visa ke Korsel. Harus mandi dini hari. Kepikiran bangun dini hari, mandi dini hari dan berangkat dini hari membuat teringat akan Bapak. Ah sudah bertahun-tahun berlalu semenjak saat-saat dimana Bapak mengantar saya ke Surabaya atau hanya sampai rumah Bu Agus dan selanjutnya saya ke Surabaya bareng Bu Agus dkk. Ah masa lalu memang terlihat indah jika sedang feeling nostalgic. Dan ternyata pikiran saya tidak berhenti sampai di sana. Dia mengajak saya kembali ke masa kecil. Ah siapa yang menyangka kalau saya yang masih kecil itu akan punya adik, padahal biasanya kalau njenguk orang abis nglahirin sering diledekin , "Adek bayinya kamu bawa pulang aja po?". Siapa yang sangka saya yang masih kecil itu akhirnya harus pergi jauh dari rumah. Siapa yang sangka ternyata saya bakal jadi anak kosan. Siapa yang sangka kalau sekarang saya akan ke Ibukota negara untuk pertama kalinya dan sendirian. Siapa yang menyangka ... Ah Tuhan romantis sekali, membuat mekanisme nostalgia seromantis yang ada di pikran saya saat ini.

Allah, Thank you for the good life I have.

Belakangan ini saya barengan Fitri melulu -_- sampek bosen. Sepertinya semenjak abis balik kemarin saya hampir selalu makan bareng Fitri. Saya kan waktu itu makan sehari sekali jadi tiap makan bareng Fitri dong -_- Sebentar lagi dia akan sidang nih. Semoga saja persiapan dan sidangnya lancar.


2016 part3 - ceritanya keterima exchange program

Yay sudah ketiga. Terakhir cerita tentang daftar exchange ya.

Semester lalu di tengah terpuruknya saya, saya membuat sebuah hipotesis bahwa saya baru akan bersemangat jika kegiatan selanjutnya sudah jelas. Karena saya memimpikan untuk exchange ke luar negeri sebelum lulus dari ITB, maka saya mencoba merealisasikan mimpi tersebut. Saya riset sejak bulan agustus. Saat itu saya masih belum memutuskan mau exchange ke mana. Waktu itu yang saya pikir, yang penting exchange, kemanapun, ga masalah. Nah akhirnya diri ini dipertemukan dengan drama Korea yang membuat saya dan teman sekamar telat puber. Saya jadi seneng sama Korea-an. JAdi tertarik sama South Korea. Gara-gara PYC nih. Dan tiba-tiba keinginan saya untuk exchangenya ke Jepang seperti tergeser. Jadi pengen ke South Korea. Pengen ketemu PYC.

Jadi saya nglirik juga tuh pengalaman temen seangkatan yang dulu pernah ikutan program ke Korea. Setelah sekian lama berpikir, menimbang ini dan itu, saya yakin bahwa saya beneran pengen exchange ke sana. Nama kampusnya 금오공과대학교 selanjutnya mari kita sebut KIT.  Saya sempat menghubungi kampus tsb via e-mail, tanya tanya. Ceritanya, waktu itu belum ada pengumuman apa-apa dari ITB (sebelumnya juga teman saya daftarnya langsung ke sana, ga lewat ITB). Namun e-mail saya tak kunjung dibalas. Dan ternyata periode ini pendaftarannya lewat IRO. Daftarlah saya ke sana.

Anyway, jika pembaca di sini ada yang anak ITB dan belum lulus, kalian harus tahu apa itu IRO. Terutama kalau kalian masih muda dan ingin memanfaatkan kesempatan internasional. IRO adalah kantor internasionalnya ITB. Kantornya di sebelah timur KKP depan parkiran sipil. Di sana kalian bisa menemukan berbagai kesempatan internasional seperti exchange, summer program, pelatihan bahasa, konferensi, dan juga melihat partner universitiesnya ITB. Websitenya ada di sini. Dan kalau kalian mau update terus, sangat direkomendasikan follow twitternya di @IRO_ITB atau kalian cukup sering-sering buka saja webnya.

Saya mantap hati mendaftar. Saya juga berhasil mempengaruhi seorang teman untuk daftar juga. Haha dia mau. Tunggu ditunggu akhirnya ada tiga orang dihubungi sama Mbak Ciptani, staff IRO, salah satunya saya. Wuoh bahagia banget hati ini. Teman saya, Ilma juga dihubungi, dan satu lagi Nadia dari Fisika Teknik. Semuanya 2012. Wew. Kami dihubungi untuk ditanyai apakah kami tetap akan mendaftar program ini karena tidak ada beasiswa untuk biaya hidup. Saya sih karena sudah mantap, ambil saja. Soalnya berdasarkan cerita teman yang sebelumnya di sana, hasil part-time job yang disediakan cukup untuk hidup di sana. Jadi karena saya sudah terlanjur pengen, saya iya iya saja. Waktu itu saya yakin, kalau saya mau, Allah pasti kasih jalan.

Berkas kami bertiga dikirim. Menunggu pengumuman selanjutnya lamaaaaa banget. Nah karena diterima di level ITB ini nih saya jadi ada sedikit semangat buat mengerjakan TA, yang saya bilang cuma bertahan tiga minggu di post sebelumnya. Ya karena itu. Tapi waktu itu saya mengerjakan tidak di lab. Saya masih takut ngelab. Takut ketemu orang-orang di lab.

Lamaaa banget nungguin pengumuman dari KIT. Saya sama Ilma sampek gantian nanyain ke Mbak Ciptani. Hingga pertengahan bulan Desember saya baru mendapatkan kabar resmi bahwa saya dan Ilma diterima program exchange di KIT.  Seneng? BANGET. Nadia karena sesuatu dan lain hal di prodinya, aplikasinya di withdraw. Sayang sekali :(



Selanjutnya saya e-mail2an sama Ms Lee buat nanya-nanya. Kami nanya banyak banget. Tentang kesempatan beasiswa dan detail program. Karena ga ada beasiswa, kami menyiapkan proposal (awalnya sponsorship) permohonan bantuan dana ke prodi dan perusahaan-perusahaan. Jadi waktu itu bukannya ngerjain TA biar cepet kelar, saya mikirin itu dulu. Hahahaa.

Ternyata kepikiran ga punya duit itu bikin stress juga wkwkwk. Waktu itu rencananya saya ga pulang pas liburan akhir tahun, namun ternyata ga kuat. Ditambah ternyata Ilma mengundurkan diri. Beuh kehilangan teman berjuang. Masih juga kepikiran TA belum kelar. Saya rapuh. down. ga kuat. saya pulang mendadak di tanggal 31 Desember 2016.

Cuma lima hari di rumah tapi worth it sanget. Bapak saya tahu, masalah utama saya sebenarnya adalah ketakutan dalam diri saya. Saya terlalu rapuh. Sebelum saya kembali lagi ke rantau, bapak saya ngomong (seperti biasa, bukan ngobrol yang kami duduk bareng. Waktu itu saya lagi bikin teh, beliau barusan dari kamar mandi),

"La, nanti kalau udah balik, kalau sendirian jangan takut ya. Kancane Gusti Allah. Nanti kalau ke lab juga jangan takut lagi. Kancamu Gusti Allah. Ga usah peduli orang di sana. Sama Allah aja. Hatinya diisi Gusti Allah"

Saya hampir mbrebes ndenger itu. Nyess banget. Jleb jleb jleb. "Kancamu Gusti Allah.". Sebelum balik, saya punya keinginan, SAYA HARUS KEMBALI HIDUP SEBELUM SAYA BERANGKAT KE KOREA. HARUS.

Saat saya balik, tiba-tiba saya dihubungi dosbing, nanyain TA. Langsung stres mau gimana. Soalnya beliau menghubungi saya karena beliau dihubungi kaprodi. Beuh langsung stress. Hari itu juga saya ketemu dosbings. Pikiran saya penuh awan kegelapan. Saya takut. Takut banget. Selama ini, jangankan ke labtek 8 lantai 2, labtek 8 saja udah serem buat saya selama satu semester.

Hari itu pertama kalinya saya memaksa diri saya untuk mengunjungi labtek 8 lantai 2 setelah terpuruk sekian lama. Takut banget. Sepanjang jalan, mata saya pedas, bekas nangis yang juga masih pengen nangis. Sepanjang jalan, saya bilang ke diri saya, "tenang, Nal. Kancamu Gusti Allah. Kancamu Gusti Allah. Ga ada yang perlu dikhawatirkan." Saya tak tahu kenapa ketakutan saya terhadap labtek 8 lantai 2 separah itu padahal kalau dipikir-pikir, sebenernya saya tinggal dateng, duduk, ngerjain. Yah, orang lain mungkin bisa tapi psikologis saya waktu itu belum bisa.

Saya ketemu dosbings dengan pikiran berkecamuk. Muka saya pasti sangat muram. Saya banyak menunduk. Saya bingung menjawab pertanyaan dosbing selama ini saya ngapain aja. Saya ceritakan bahwa masalah saya yang utama adalah masalah psikologi dan kontrol diri. Responnya ... Haha. Hari itu juga saya menyadari bahwa di dunia ini tidak ada orang yang peduli bagaimana keadaan saya. hanya Allah yang mengerti saya. Hanya Allah yang peduli saya. Orang terdekat seperti keluarga memang peduli namun mereka tidak bisa peduli secara real-time seperti Allah. Iya. Hari itu saya mendapatkan pelajaran yang berharga.

Saat bertemu dosbing, saya punya dugaan beliau menduga saya mahasiswa yang dari dulu-dulunya gagal, perangainya buruk, prestasinya sangat kurang. Soalnya beliau juga menanyakan IP saya. Hahaa. Saya berdalih, "Saya ga inget, Pak". Saya juga ditanyain, kira-kira bisa ga ini selesai dalam dua minggu. State negatif memang sangat menyebalkan. Jawaban yang saya utarakan, "Saya tidak berani menjanjikan bahwa saya bisa." Saya menjawab sambil melihat meja, bukannya eye-contact dengan beliau. Saya tahu beliau kecewa. Mau gimana lagi, saat itu saya sedang negatif, itu yang muncul di pikiran saya dan keluar begitu saja. Akhirnya saya keluar ruangan beliau dengan murung, wajah tertunduk.  Intinya kerjakan saja sebisanya sampai akhir Januari. Harus selesai akhir Januari karena kalau sampai waktu PRS nilai saya belum berubah, nilai TA 2 saya jadi E which is saya ga lulus dan harus ngulang. Kalau jadi ke Korea bakal terbelenggu beban lagi tuh kalau sampai E.

Ternyata salah satu penyumbang state negatif saya adalah PMS -_- Esoknya, sudah terasa lebih baik. Mulai hari itu saya ke lab. Masih sepi karena belum masuk jadwal perkuliahan. hari pertama itu, saat berangkat, sepanjang jalan saya kembali meyakinkan diri saya, "kancamu Gusti Allah. Tenang. Gak perlu wedi. Kancamu Gusti Allah." dan hari itu sepanjang di lab, karena masih pertama (lagi), ketakutannya masih sering muncul. Tiap kali muncul, kembali saya menenangkan diri dengan "kancamu Gusti Allah." dan juga segera ngechat teman sekamar apa yang saya rasakan, bahkan isi chatnya seolah saya sedang menasehati diri saya sendiri. Begitu pula hingga berhari-hari berikutnya. Sampai saat ini saya merasa lebih biasa saja untuk datang ke lab. Hari itu saya belajar menyembuhkan ketakutan saya kepada lab.

Kalau ga salah hari kedua, ada Mas Hendy. Waktu itu saya sedih banget selama ada beliau. Saya tahu, cara beliau melihat saya adalah pandangan kasihan. Saya tak suka dikasihani dan saya tidak nyaman dengan itu. Tapi saya harus maklum sih, keadaan saya memang sangat memprihatinkan. Jadi hari itu saya belajar menerima kenyataan bahwa orang lain mengasihani saya. Perlahan saya mulai biasa dengan itu. Saya pikir, kalau saya bisa biasa saja menghadapi ini, mereka juga akan biasa saja melihat saya.

Pernah saat ke lab, udah ada partner di sana. Kami cuma berdua. Ketakutan saya masih belum hilang. Apa yang terjadi? TIGA JAM SAYA GA NGAPA-NGAPAIN. Saya takut ngerjain TA karena ada dia. Astagaaa. Tapi selanjutnya saya memaksa diri dan berakhir saya ngerjain selama satu jam. Lumayan. Pulangnya, saya pamitan juga sama partner. Dan saya bilang ke diri saya, "Dia ga ngapa-ngapain, Nal. Apa yang ditakutin?" Saat itu juga, saat saya pamit ke partner, secara tak sadar saya memulai belajar overcome ketakutan saya pada partner.

Dan sekarang? barusan saya ke lab. Ada partner. Dan rasanya biasa saja. Saat ini, saya sedang stuck ngerjain. Tolong doakan saya. Tinggal beberapa hari lagi :(

2016 part2

Saya sedang suntuk. Suntuk dari kemarin kok ga kelar-kelar. Oke oke. Trus saya bisa apa kalau semurung ini? Setelah baca-baca tulisan teman, saya jadi mau move dari kasur dan sampai saat ini, pikiran negatifnya hilang. Saya pikir, bangun, mungkin setelah kamu menulis kamu jadi lebih rileks. Jadi, mari kita lanjutkan tulisan kemarin, Nal.

Ada momen yang sangat saya ingat. Waktu itu hari deadline pengumpulan kelengkapan sidang : poster, makalah, buku TA, slide presentasi. Malam sebelumnya, saya mimpi cukup menakutkan, dan saya cerita ke partners.

N : "Tadi malem aku mimpi serem."
P1 : " ... "
P2 : "Apaan, Nal?"
N : "Aku mimpi, aku kalian tinggal sidang."
P1 : "Hah?"
P2 : "Hah? Nal, ini aja belum kelar, udah sidang aja."
N : "Ya kan mimpi."
P1 : "Udah, ini kelarin dulu."

Ternyata itu pertanda pertama untuk nasib saya selanjutnya. Haha. Saya ingat, saat pembuatan poster, semangat sekali saya bikinnya. Siang hari, partner 1 inisiatif bikin gitu tapi, maaf ya, menurut saya kurang menarik. Teman sekamar saya juga bilang begitu. Jadi saya bikin deh poster semalaman sampek gak tidur. Esoknya diprint sama partner 1. *ini ga penting deh, Nal*

Semester itu adalah semester yang banyak keluhan. Saya tidak suka dan tidak kuat dengan kondisi lapangan. Kalau kemarin saya bilang bahwa hubungan internal tim saya membaik hingga sidang, ya memang lebih baik, tapi tidak seperti kondisi yang saya harapkan. Dan kondisi yang seperti itu : kurang komunikasi dan "ketakutan" membuat saya terlalu sering stress. Semester itu menjadi semester yang saya paling sering jalan dengan pikiran kosong (eh apa justru karena terlalu mikir ya?). Sampek ga menyadari kalau ada orang yang dikenal, trus pas disapa agak kaget dan membalas, "Ah, hai." dengan senyum agak maksa. Semester yang membuat saya murung. Hahaa. Saya ingat, suatu hari saya bertemu Fitri dan Mentari di Masjid Salman. Mentari menyapa saya, dan entah waktu itu seperti apa intinya yang saya tangkap, kata mereka muka saya murung banget, serem. Dan hari itu saya menyadari saya terlalu lemah dan sudah keterlaluan stress-nya.

Kerjaan bagian saya di TA sebenarnya simpel namun entah kenapa kok saya susah banget ngerjainnya. Mungkin saya bodoh tapi ga nyadar, jadi sok merasa kalau itu simpel (gara-gara novel Laskar Pelangi, tertohok juga saya. Jadi takut kalau saya beneran bodoh tapi ga nyadar). Kenapa ya, kok kerjaan yang seharusnya bisa menyenangkan dan simpel itu bisa menjadi begitu susah saat itu. Kerjaan bagian saya belum sempurna hingga saat sidang. Dan lagi, kerjaan kami bertiga belum diintegrasikan. Karena belum siap, saya makin stress di hari sebelum EE Days. Saya ingat, hari pertama, Kaprodi nyamperin booth kami.

"Kenapa?"
"Hah? Kenapa apanya, Pak?"
"Kok kayaknya takut, tegang begitu. Belum sempurna?"
"Iya, Pak."
"Jangan tegang. Kan ga ada yang tahu."

Dan hari pertama saya tetap tegang seharian. Kepikiran besoknya sidang gimana kalau ga siap. Akhirnya setelah EE Days hari itu berakhir, saya lembur di lab, mencoba memperbaiki kerjaan saya. Saat itu, masalah baru muncul. Motor kaki kiri robot nao yang dipakai bermasalah. Ditambah, waktu itu tiba-tiba ga bisa streaming gambar dari robot lewat server yang biasanya. Beuh panik dong. Saat itu saya ga berhasil. Saya pulang tengah malam. Saat itu hujan tapi saya nekat karena kalau saya ga pulang nanti malah gawat. Saya ga berani nunggu angkot caheum-ledeng yang jam segitu pasti hampir ga ada jadi saya berencana lewat jalan dago. GA ADA ANGKOT. Saya jalan sampek McD lanjut naik angkot caheum-ciroyom. Hujan-hujanan (pake payung sih tapi tetep aja basah). Kok waktu itu saya ga pake angkutan online gitu sih? Bego emang.

Di kosan sebenernya ga tidur sih, ngebenerin slide presentasi. Selain itu juga ga berani tidur karena saya berencana ke kampus pagi-pagi. Hari itu hari sidang saya, 08 Juni 2016. Dengan kehujanan di malam sebelumnya dan tanpa tidur semalaman.  Hari itu rasanya saya tak ingin berangkat. Saya takut. Rasanya ingin lari saja. Akhirnya sebelum berangkat, saya menelpon keluarga di rumah. Siapa lagi yang selama ini jadi perantara pengadem hati saya?

"Apa yang akan terjadi nanti sudah tertulis dari sononya. Jadi jangan lari. Ga usah khawatir. Semuanya udah ditulis."

Berangkatlah saya jam 6 pagi. Ternyata di lab sudah ada partner 1. WOW. Di hari sidang itu malah suasana dalam tim kami jadi tidak mengenakkan. Ada kesan salah satu di antara partners ngambek. Diem2an deh. Duh, itu tuh saat dimana sebuah tim seharusnya saling menguatkan. Ditambah kami dapat kabar kalau salah satu penguji kami diganti dan setahu kami perangai pengganti ini tipe dosen yang "susah". Makin dag dig dug deh. Tapi hari itu saya bahagia. Kami ga janjian pakai baju warna apa. Tapi baju kami matching. Hahahaa seneng karena hal agak ga penting.

Suasana tidak enak hingga kami akan menuju ruangan sidang. Sidang kami hanya ditonton 3 orang : adeknya hilmi, pacarnya Irfan, dan Fitri. Saya sangat berterima kasih pada Fitri yang memilih melihat sidang saya karena ada dosen senior, bukan sidangnya Lovila. Kalau tidak, kok kasian banget saya ini.

Dan ternyata sidangnya sangat menyenangkan. Saya bisa senyum-senyum setelah sidang dan tidur nyenyak di kosan. Alhamdulillah.

Saya sudah cerita atau belum ya kalau semester itu karena keadaan ekonomi, saya punya plan setelah sidang saya mengisi liburan dengan magang. Iya. Akhirnya saya beneran magang di Tritronik. Dan pas EE Days, pembimbing saya mampir. Hahahaa.

Setelah sidang kan revisi tuh. Sebelum lanjut, saya akui bahwa saya ini terlalu lemah dan bego. Kami bertemu dosbings. Beliau meminta kami melanjutkan kerjaan sampai wisuda Juli 2016. Buku TA sih sesuai yang ada saat itu saja gapapa. Tapi saat pertemuan itu juga, saya mendapatkan pertanda kedua nasib saya selanjutnya. Apa yang terjadi? Saat pengumpulan buku TA, saya belum siap. Saya terlalu down dengan pertanda yang saya dapatkan. Kami tidak mengerjakan hingga nilai TA keluar. Saya sih terlalu down dengan tidak lulus. Selain itu juga kan saya lagi magang. Pas saya cek, apa nilai saya? TA2 saya A. Saya ga percaya dan tanya dosbing. Dan katanya, ada kesalahan entry. Dan akhirnya? Nilai TA2 saya T. Alasannya? Saya terlalu bego. Saya tidak menemui untuk meminta kejelasan lebih lanjut. Saat itu yang saya tangkap : saya masih ada satu semester lagi untuk menyelesaikan SKS, kami belum mengerjakan yang disuruh hingga tanggal wisuda, entah di pertemuan kapan gitu saya pernah bilang ke dosbing kalau yang terjadi di tim saya itu salah satunya ya salah saya, saya belum ngumpulin buku TA, makanya itu saya dapet T. Dan yang saya tangkap, saya harus mengerjakan lagi. Bego emang bego.

Down? YA IYA LAH. Down-nya ga tanggung-tanggung. Lebih dari satu semester ga bangkit.

Ohiya di tengah magang, saya masih kepikiran keinginan untuk exchange. Tapi saya terlalu bingung untuk memikirkan TA belum lulus, semester selanjutnya udah ga dapet beasiswa, mau minta dari rumah kok gimana. Jadi suatu hari saya pernah menemui dosen lain untuk curhat dan konsultasi. Mungkin saat itu bu dosen tidak melihat semangat sama sekali di mata saya. Saya juga ditanyain, "kamu masih semangat kan?" Haha ceritanya kembali waktu itu saya pengen daftar YSEP yang periode spring. Masih belum kapok juga haha. Tapi kali itu gagal daftar karena saya takkunjung bisa membuat motivation letter. Haha ini kayaknya niatnya kurang gedhe sih, Nal

Di awal semester lalu, saya menemui dosbing. Memohon maaf karena saya menghilang. Saya lebih memilih menyelesaikan magang saya karena kan sudah kontrak. Saya cuma ketemu dengan satu dosbing. Saat itu katanya saya diminta melanjutkan mengerjakan kembali. Saya diminta memikirkan apa yang akan saya lakukan. Di pertemuan selanjutnya, masih dengan dosbing itu, saya menjelaskan apa-apa yang saya rencanakan. Dan iya iya saja.

Kenyataannya, ternyata saya belum bangkit dari keterpurukan. "Ketakutan" saya masih ada. Semester lalu saya tidak berhasil menguatkan diri saya untuk berani ke lab. Di lab ada apaan sih, Nal??? Saya takut ketemu orang-orang, terutama partner yang masih di lab. Malu kali, Nal. Iya deh, malu, tapi takut juga.

Yah begitulah. Selama satu semester saya terpuruk tanpa kejelasan. Sering saya sok menganalisis kok saya begini sih. Ternyata tidak lulus TA membuat saya terlalu drama. Saya selalu ga bisa mengajak diri saya mendatangi sidang teman-teman. Haha, maaf guys. Denger kabarnya saja membuat saya kembali meratapi nasib. Selama itu juga setiap teringat teman-teman lain yang TAnya masih berkelompok, saya iri. "Enak ya ada temen. Andai ada teman yang bisa ngajak saya dan membuat saya ga takut." Selalu saya berpikir begitu. Saat itu saya sangat mendambakan sosok Arai.

Ohiya, masalah keuangan semester lalu dapat terselesaikan karena saya mendapatkan beasiswa dari IOM dan juga nyambi ngajar. OK kembali ke plot sebelumnya.

Saya terjerumus terlalu dalam ke dalam lingkaran setan (halah bahasanya). Saya bingung karena tidak ada motivasi sama sekali untuk segera menyelesaikan ini semua. Saat itu, sering sekali saya menyalahkan Tuhan. Kenapa sih kok saya ga lulus. Dulu saya sampek segitu stressnya lho. Mau sidang pun sampek hujan-hujanan. Kenapa harus ga lulus dan harus ngerjain lagi? Saya ingin bebas dari belenggu itu. Saat itu saya sadar dengan sesadar-sadarnya, belenggu yang memberatkan hidup saya waktu itu ya TA ini. Namun, aneh sekali saya menyadarinya tapi tak punya motivasi untuk mengerjakannya.

Mengingat orang tua tidak mempan bagi saya. Dasar anak kurang ajar. Omelan teman sekamar juga tak mempan. Melihat teman sekamar yang semangat NeA bersama teman-temannya malah membuat saya kembali iri dan mendambakan Arai.

Saya terlalu lemah. Bapak saya memang orang yang jauh lebih baik dibandingkan saya. Lebih optimis, lebih pantang menyerah, positive thinking, lebih "adem", sering inget bersyukur. Namun, sayang sekali sifat seperti itu tidak diturunkan melalui gen. Manusia mendapatkan sifat-sifatnya berdasarkan pengalaman hidup yang telah dilaluinya. Jadi ya beginilah saya, masih lemah hingga sampai saat ini saya mendambakan ketahanan mental at least setangguh bapak saya.

Akhirnya semester lalu saya hanya berhasil memaksa diri saya mengerjakan sangat sedikit sekali. Hanya bertahan 3 minggu kalau tak salah. Dan sekarang setelah saya memulai kembali pun juga stuck begini.

Keinginan untuk exchange masih ada. Masih ada, coy. Saya terpikir, mungkin seperti yang dulu dulu, saya perlu pendorong berupa target selanjutnya yang sudah fixed. Makanya saya masih pengen exchange. Saya pikir, kalau saya keterima exchange, saya akan lebih semangat untuk segera melepas belenggu ini. Jadilah saya mendaftar exchange. ...

Anyway, di bulan Juni-Juli gitu saya juga ikutan kegiatan student summit yang diadain NUS tapi sepertinya euforianya ga sebahagia jika saya lulus TA saat itu. Haha

Cerita Saja (9)

Hallo, minna-san.

Hari ini sepertinya hari yang cukup membahagiakan.

NeA 
Mungkin Allah sedang mengingatkan saya. Sejak beberapa hari yang lalu, Allah seperti mengingatkan saya akan TA melalui beberapa orang. Pas ke PSTK, disambut Ridhos dengan pertanyaan, "Mbak, gimana kabarnya? Sudah TA atau masih TA, Mbak?" Bagus juga tumben banget ke sekre, "Eh, Mbak Nala. Kita kaosnya samaan lah. Kamu gimana kabar? kamu udah wisuda kan?" (Waktu itu dia nanyain wisuda atau apa ya, saya lupa, pokoknya bikin saya inget TA aja.) Trus pas ke kosan Rully, diperlihatkan Rully yang mulai ngurus TA. Dia terlihat senang begitu menemui pembimbingnya bareng teman-temannya ke PT DI. Malamnya, dia belajar bareng temennya buat ujian (seru deh liat mereka belajar bareng), besoknya ujian lagi, trus selanjutnya dia mau ngedraft TA1. Ah dia semangat sekali. Trus chattingan sama temen sekosan, ditanyain, "TAmu gimana, Nal?" Oh maaaan.

Dan kemarin ada kabar cukup bagus (tapi belum ada bukti pastinya) yang membuat saya ingat bahwa saya harus segera menyelesaikan TA secepatnya sebelum rencana selanjutnya harus dieksekusi.

And guys, hari ini aku ngerjain TA. WOW. Ya ga ngerjain serius banget gitu sih. Buka-buka buku neural network dan fuzzy doang soalnya mau bikin neuro-fuzzy. Dan itu membuat saya mikir, "hellooo, dulu maneh kuliah ngapain aja, Nal?" Tadi ngerjain bareng Lovila, maksudnya mengerjakan ditemani Lovila, bukan Lovila ikut bantuin mikir. Lovila tadi sedang mengerjakan persiapan presentasi untuk seleksi kerja.

Dosbing
Lamaaa sekali saya tidak menghadap bapak-bapak dosen pembimbing. Hari ini, Allah mempertemukan saya dengan beliau berdua. Bukan. Bukan saya yang menemui tapi Tuhan yang mempertemukan kami.

Saat saya dan Lovila kembali dari pasjum buat beli cilor, saya melihat kedua dosbing, dipisahkan oleh Pak Pranoto, berjalan bersama (mungkin) menuju Salman untuk Sholat Jumat. Deg. Kepala langsung noleh ke Lovila. Dalam hati, "Duh, ada kedua dosen pembimbing. Aku kudu piye?" Dan bagaimana??? Saya menyapa dan beliau menjawab sapaan saya.
"Apa kabar ..." bodohnyaaa ternyata beliau belum selesai ngomong, saya udah jawab. Saya kira emang literally nanyain kabar hidup saya.
"Baik, Pak." barengan dengan beliau ngomong "... itunya?" maksudnya TAnya, Naonya -_-
Saya cuma senyum agak bingung. "Aa nanti saja ya."

Saya ga menemui beliau hari ini. Secaraaa ini saya mau ngelaporin apa? Sejujurnya, saya bingung harus jawab apa jika saat bertemu beliau ditanyai kenapa kok saya takkunjung selesai. Masalah utamanya adalah psikologi dan kontrol diri. Saya tahu itu. Apa iya, alasan psikologi dan kontrol diri dapat diterima? Ah karena kejadian yang menimpa saya, beberapa waktu yang lalu saya jadi kepikiran kalau ternyata takdir saya jadi dosen, saya ingin jadi dosen yang peduli, yang juga memperhatikan kondisi psikis mahasiswa saya. Bukan berarti dosbing saya bukan orang yang sama sekali tidak memperhatikan kondisi psikis orang lain. Mungkin selama ini saya saja yang kurang terbuka. Ya gitu deh. Kok jadi kemana-mana.

Mungkin ini salah satu cara Allah membantu saya untuk keluar dari masalah ini. Semoga saja bantuan-Nya selalu diberikan sehingga semuanya lancar hingga akhir.

K-Lounge
Hari ini pertama kalinya saya mengunjungi K-Lounge di CC Timur ITB. Sayang sekali saya sendirian. Di sana ada buku-buku (sepenglihatan saya isinya novel (iya gitu?), fashion drawing, textile. Saya gak liat2 lebih detil wkwkwk) dan beberapa DVD album artis Korea Selatan dan DVD drama. Dilengkapi dengan musik KPOP, lengkap sudah. Saya seneng banget nemu DVD album Just-Us-nya JYJ. Omaigod, nemu DVD doang kok bisa seseneng itu sih, cuma pegang doang juga. Kayaknya sih sebenernya DVD-DVD itu boleh di-play soalnya ada DVD player dan monitor di K-Lounge ini tapi saya ga sok inisiatif nyoba ngisengin gitu sih haha.

Salah sih, ke K-Lounge sendirian. Jadi ga fokus. Mungkin sekitar 15 menit awal saya cuma senyum-senyum sendiri sambil chattingan sama HME Bebs PSTK Girl dan mantan teman sekamar kosan.

Ketrima LPDP
BUKAN SAYA! Bukan saya yang ketrima LPDP sekarang. Daftar aja belum pernah. Temen saya yang dapet. Candra namanya. Dia tinggal nunggu LoA dari TIT nih. Omaigod! Tokyo Institute of Technology, maaaan! Saya ikutan seneng. Sepengetahuan saya sih dia kemarin sudah ngobrol bareng calon senseinya. Ah semoga lancar ya, Can. Selamat, akhirnya bentar lagi kau bisa kuliah di kampus impianmu.


Terima Kasih

Saya barusan baca-baca file yang saya tulis di masa lampau. I found this. I intended to post it but for several reason I postponed it. Somehow I want to post it now (of course with comments) wkwkwk. It was written on Feb 17, 2016

***

lu·rah[1] n 1 kepala pemerintahan tingkat terendah; kepala desa; 2 kepala atau pimpinan suatu bagian pekerjaan

Ketua PSTK punya sebutan Lurah. Berarti ini keempat kalinya saya merasakan sebagian proses bagaimana pemimpin di unit saya terpilih. Barusan hearing calon lurah PSTK di Labtek VI. Terima kasih hearing, kalian memfasilitasiku juga untuk bertemu kawan-kawan dan melupakan “sakit hati” yang baru melanda (barusan disindir anak muda. Nau’dzubillaahi min dzaalik. Semoga tak terjadi lagi dan semoga anak cucuku nanti berbudi pekerti yang baik). *BTW saya lupa ini sakit hatinya karena kejadian yang mana wkwk* Setelah sekian lama, akhirnya hari ini saya ketemu Mita, Mince, Tata dan Brod  yang jarang ke sekre. Wahaaa akhirnya tadi saya ketawa. Alhamdulillaah.

Yang nyalon namanya Imung. Itu lhooo keluarga bonang, anak EL’14. Somehow, I proud of him. Dia sudah melangkah jauh untuk menjadi orang keren versi dia. Seperti biasa, pemilu begituan ada timses kan ya. Nah, timsesnya ditanyain nih sama senior, sama angkatan saya maksudnya, kenapa mau bantuin? Keluarlah jawaban yang tentunya (menurut saya) bukan default. Feels like it came from their heart. And I wonder, Do I have that kind of friend? *apaandahNal

Pas mau pulang, Mince, Tata, sama Candra ngomongin Imung. Saya nimbrung. Sungguh ini sepertinya terlalu berlebihan dan terlalu membesarkan hati.

C : “Ciee, Nala.”
M : “Nal, kayaknya semuanya "jadi" deh, Nal. Anak-anak didikmu. Yang satunya sebenernya "jadi" juga kan ... Cuma kemarin ada masalah.”
T : “Cie, best couple PLE.”
N : “Teman-teman, kan dia bisa jadi gitu karena dia sendiri. Dia mau belajar.”
C : “Kan kamu first impression-nya mereka di PSTK, Nal.”

Well, saya sungguh bangga, “anak-anak didik” saya bisa jadi orang keren. But sometimes, it makes me envy them hahaaa. Penyakit hati yang masih sulit dihilangkan -_-

***

Sebenernya ga cuma Imung yang keren. Saya merasa semua yang pernah saya ajarin main bonang sudah jauuuuh lebih keren daripada saya. Mereka sudah jadi ini-itu, sudah ikutan ini-itu, sudah berkarya ini-itu, sudah menjadi pribadi yang hard working, pokoknya udah yang keren-keren deh.

Guys, terima kasih atas kebersamaan selama ini. Saya bahagia dapat mengenal kalian. Saya bahagia dapat menjadi bagian dari "hal pertama" kalian di dunia kampus. Terima kasih sudah memberikan contoh yang baik, terutama untuk saya. Terima kasih sudah pernah mengisi momen bahagia saya :)

--OOT
BTW saya jadi kepikiran untuk membuat semacam rubrik khusus berisi ucapan terima kasih untuk orang-yang-saya-ingin-mengucapkan-terima-kasih-kepadanya. Dibikin ga yaaa? wkwkwk

Bahagia

Waaaaa saya bahagia. Tadi malam adalah momen pertama saya menginap di kampus bersama Squiddie dan Patrick, dan tentunya Nao


Gambar di atas : Hilmi as operator, Irfan as a customer, me (?) as tukang pegang kamera :D
*harus nulis gini. Setting default templatenya (Smart Blog Template), gambarnya muncul di paling atas :( Mager melototin html

Waaa saya bahagia walaupun saya juga hectic karena deadline yang emmm. Deadline nya sih ga bermasalah. Yang dikerjain dan yang ngerjain aja yang bermasalah haha.

Terimakasih Ya Allah. Kami memiliki momen itu. Terima kasih. Haha saya bahagia. Lihat penduduk LSKK. Ada yang belum difoto sih haha





Dilema

Saya diserang penyakit. Namanya cukup keren. Dilema. Dilemma sebutan asingnya. Nah beberapa hari ini saya punya sebutan baru karena penyakit itu. Saya menjadi dilemmatist. Sebutan yang saya temukan dalam pikiran saya. HAHAHA

Semuanya berawal dari saya yang masih tahu diri. Saya ngaca, semester kemarin seperti apa, bagaimana performa saya, dan bagaimana hasilnya. Kemudian disandingkan dengan realita yang harus saya hadapi, masih berapa banyak tanggung jawab yang harus saya penuhi. Sebuah dilema yang benar-benar dilema. Disandingkan lagi dengan keinginan hati. Disandingkan lagi dengan keinginan orang-orang yang selama ini benar-benar tanpa tanda jasa, siapa lagi kalau bukan orang tua. Ah dilema yang semakin menjadi.

Saya perlu bantuan. Saya perlu orang untuk diajak bicara. Hal seperti ini harusnya dibicarakan dengan dosen wali tapi selama ini saya belum pernah sekalipun berinteraksi ngomongin beginian dengan beliau. Biasanya rencana studi saya langsung disetujui beberapa jam setelah saya mengisi. Tak ada “Semester kemarin gimana? Tidak ada masalah kan? Rencana kamu ke depannya seperti apa?” Tak ada, Kawan. Kubilang tak ada. Akhirnya saya malah minta izin menemui dosen pembimbing untuk membicarakan ini. Ah, dosen pembimbingku baik sekali, mau membantu urusan yang seharusnya bukan tanggung jawabnya begini. Akhirnya kami ngobrol kesana-kesini.

“Kurang berapa SKS?”
“Hah? Kok masih banyak. Kamu ambil apa aja?”
“Bentar, dua mata kuliah ini aman sih.” Beliau melingkari dua mata kuliah, mengelompokkannya.
“Tapi ini, ini sama Pak ITU (jangan sebut nama deh) ya? Tuntutannya banyak sih, banyak waktu yang harus disisihkan.”
“Kalau ini, ini juga berat sih. Kalau kata yang sudah ambil gimana?” “Oh yaudah berarti ga terlalu berat ya.”
“Kalau ini, saya kurang tahu. Bentar, ini isinya apa sih?” Beliau buka silabus.
“Saya ga tahu sih kayak gimana kuliahnya tapi dari silabusnya harusnya isinya ya kayak yang dulu sudah pernah diambil tentang sinyal. Dosennya siapa sih?”
“Ooh Pak ITU2. Saya belum pernah diajar beliau sih tapi orangnya tegas.”
“Trus ini, mata kuliah dari prodi mana? Kuliahnya berat ga?”
“Trus rencana kamu yang kemarin gimana?”
“Ya kalau menurut saya sih segini SKS berat. Tapi coba tanya-tanya lagi ke yang udah ambil. Kalau kamu bisa menyisihkan minimal 5 jam, eh tambah 1 jam deh buat ngerjain TA ya gapapa.”
“Teman-teman yang lain ngambil berapa SKS?” Beliau menanyakan Squiddie sama Patrick.

Beberapa obrolan yang masih teringat. WOW! For the first time in my life, saya mendiskusikan masalah beginian sama dosen. Senang rasanya hahaha. Keluar dari ruangan beliau saya masih belum sembuh tapi saya jadi punya opsi plan baru untuk strategi pengambilan mata kuliah ini. Saya menyebut opsi yang saya punya, plan nekat dan plan tidak nekat versi baru.

Beberapa hari dilema, beberapa hari pula saya berdebat dengan orang tua. Mungkin kalian illfeel gimana gitu mengetahui saya buat ngambil SKS aja dirundingin sama orang tua. Ya gimana ya, yang ngebiayain saya kan orang tua saya. Kalau saya ambil keputusan yang ga disetujui dan beliau ga mau ngebiayain kan repot juga. Naudzubillah. Ya sebenarnya lebih ke tanggung jawab moral sebagai anak sih.

Hingga hari rabu rencana studi saya tak kunjung disetujui. Tumben sekali. Saya tanya teman sedosen wali, katanya dia sudah. Waduh, ini jangan-jangan beliau ga setuju saya ngambil banyak-banyak nih. Gimana dong? Kemarin saya memutuskan untuk menemui beliau tapi gagal. Beliau sudah pulang. Tapi hari ini saat saya akan berangkat menemui beliau, tiba-tiba ada notifikasi persetujuan rencana studi. Ada pesan dari beliau, “kalau ada yang akan diubah nanti saja saat prs.”

Saya masih saja dilemma. Saya bingung haruskah saya senang atau sedih, ah bukan, yang ini sepertinya lebih ke pesimis bukan sedih. Di satu sisi jika saya berhasil studi saya ga molor, di sisi lain diri saya masih ragu akankah saya mampu.

Siangnya bapak menelpon karena paginya saya SMS beliau tentang bagaimana keputusan perdebatan kemarin. Apakah proposal ide lulus molor saya di-approve? Tidak. Hahaha. Saya cuma nanggepin “ya” doang sambil nahan nangis biar ga kedenger. Lagian sudah disetujui dosen wali.

I wonder how my, InsyaAllah, LAST SEMESTER will be.

Pulang Kampung Dadakan

BUKAN SAYA YANG PULANG KAMPUNG. Serius.

Cerita latar belakangnya dulu. Mungkin saya sudah pernah cerita, kalau di Lumen ada satu kelompok dari Universitas Bandar Lampung (mari sebut saja UBL). Mereka masing-masing disebut Ari, Alan, Julian. Mereka mengerjakan TA-nya di Lumen, ikut dosennya, yang kata mereka dipanggil Pak Uki tapi saya dan teman-teman memanggil beliau Pak Marzuki.

Kami lumayan akrab sih. Mereka sangat mencairkan ketegangan yang menguap di udara lab. Hahahaa bahkan saya merasa saya lebih akrab dengan mereka daripada kelompok TA saya sendiri *eh haha. Banyak ilmu yang belum saya minta ke mereka.

Kamis kemarin, 10 Desember 2015, saya ke lab cuma ngambil payung. Melarikan diri karena merasa atmosfer di sana sedang tegang. Mereka bertiga sedang menghadap laptop masing-masing, ditungguin Pak Marzuki dan Bu Maria pula. Yaudah, bye. Saya melarikan diri, ngurusin kerjaan lain, Ternyata kata Alan, mereka kemarin lagi nyiapin presentasi buat hari itu. Presentasi sama Pak Egi.

Alan texted me that evening. Pamitan. Pamitan di saat mereka sudah naik bus. Dasar! Hello, kita belum merealisasikan nonton film di lab bareng ya. Wacana! Pulang-kampung-nya dadakan banget lah. No farewell.

Hahahaaa melankolik dikit ah. Haha merasa kehilangan mereka. Biasanya kalau ke lab, mereka bertiga lagi di sana. Maklum sih, mereka ga ada kuliah jadi bisa mencurahkan jiwa dan raga sepenuhnya di Lumen. And now, they're gone. Biasanya di lab bisa ketawa-ketawa karena mereka. And now, they're gone. Biasanya mereka (belakangan ini) nginep di lab, jadi temen begadang nginep di lab. And now they're gone. Etapi ada isu si Alan balik lagi sih. Ada pendatang baru ga ya? haha. Tapi ini belum pasti. MASIH ISU.

 Hahaa I'll miss you, coy! Semoga kita tetap berteman, sampai nanti. Maaf deh, nanti ga bisa datang di wisuda kalian. See ya!

Awal Desember

Tiba-tiba semuanya menjadi tiba-tiba. Minggu ini sudah tak ada kuliah. Hanya ujian dan tugas besar.

Minggu lalu saat mengisi daftar presensi yang terakhir di semester ini, saya dapati kolom saya banyak yang kosong. Kebanyakan bolos ahahaa. Entah kenapa saya merasa saya akan merindukan kuliah-kuliah ini.

Kuliah Material Teknik Elektro ditutup dengan kuis. Pak Amin juga memberikan penjelasan tentang posisi dimana yang kami pelajari. Selanjutnya juga kami akan belajar apa di posisi mana jika mau melanjutkan ilmu tentang material ini. Kenapa penjelasan ini memberikan kesan bahwa ilmu ini sangat menarik? Tapi kenapa dalam kenyataannya ini emmmm susah sekali?

Kuliah Sistem Kendali Digital juga begitu. Banyak kolom yang kosong. Ngenes sih, sudah pernah menulis tentang ilmu kehidupan yang didapat di kelas SKD tapi pengamalannya cups. BTW saya sepertinya suka dengan maksud yang diinginkan Pak Iyas dalam pembelajaran. Ya tapi ya itu. Diri ini masih lemah.

Kuliah Arsitektur Sistem Komputer juga begitu. Banyak kolom yang kosong. Ditutup dengan latihan soal. Latihan soal yang membuat saya dekat di akhir dengan orang-orang itu. Bagus, Aziz, Rina, Raden, Ulfah dkk. Kenapa mesti di akhir? karena saya tak memulainya dari awal. Kadang saya kepikiran, mereka di praktikum elka 2 diasisteni oleh orang yang satu kelas arsikom dengan mereka ahahaa.

Lagi-lagi banyak kolom kosong di daftar hadir kuliah Rekayasa Termal dan Mekanika Fluida. Di sesi 2 pasca-UTS ini saya merasa belum ikutan kuliah apa-apa. Belum dapet materi apa-apa eeeeeh tiba-tiba kuliahnya sudah selesai. Sepertinya saya akan kangen cara ngajar Pak Willy.

Kuliah etika malah saya bolos. Dasar!

Kuliah robotik sih masih menyisakan tugas besar ini.

Trus jadi cerita bolos yang terlalu banyak.

Awal Desember juga ada InDMF yang katanya Lumen akan ikutan menampilkan sesuatu. Nyatanya, kami yang terlihat di lab tak mengeluarkan apa-apa. Dan perasaan selama mengerjakan kerjaan ini lah yang membuat saya terpaksa tercebur ke Black Hole. Sempat senang karena minggu lalu penanggung jawab lab mengeluarkan isi hatinya yang kebetulan sangat mewakili unek-unek saya. Akhirnya yang maju ke InDMF Mas Hendy. Orang keren, menurut saya. Apa mungkin nanti saya buat postingan khusus nyeritain Mas Hendy? kalau saya sudah tahu banyak saja deh haha

Selebihnya, sesuatu yang sepertinya tak perlu untuk diceritakan di sini. Cukuplah orang-orang itu dan Tuhan yang tahu.

(Seharusnya) Cerita Akhir Bulan - part 2

Hai, postingan ini masih cerita akhir bulan juga. Masih serumpun dengan part 1.

SELAMAT DATANG PSTK-ITB 2015 ^^
Selamat menempuh perjalanan menuju ke-keren-an masing-masing.
You're still young, you have many chances to do many things here, in the campus, the playground. Beda ceritanya kalau sudah "tua" macam saya begini.

Pelantikan dilaksanakan tanggal 21-22 November kemarin. Ah, masih banyak yang belum saya kenal. Masih banyak wajah-wajah asing. Paling tahunya baru keluarga bonang ahahaa. Sini-sini kenalan sama saya wkwk.

Sebelumnya mereka mengadakan Presentasi Budaya, pertunjukan yang menyajikan hasil pembelajaran mereka. Bedanya dari yang sebelum-sebelumnya, mereka tidak membungkus penampilan itu dalam bentuk cerita.

Beruntung pelantikan kemarin tempatnya berbeda dari lokasi sebelumnya. Hampir saja PSTK 3 strikes pelantikan di lokasi yang sama.

Saya yang awalnya galau apakah akan ikut atau tidak, akhirnya memutuskan untuk ikut. Nebeng mobil yang dibawa Sita, entah mobil siapa. Disopiri oleh Aflin yang berangkat dan pulang pun kehilangan sandal terus. Akhirnya dia selama itu memakai sandal yang kanan dan kirinya beda jenis sandal, beda merk, beda warna, beruntung masih muat ahaha.

Selama perjalanan ghibah, ngomongin ini-itu. Kebanyakan PSTK sih. Dan sempat bikin introspeksi, apakah cara berpikir saya sudah layak, maksud saya sesuai dengan kondisi dan posisi saya sekarang? Jangan-jangan cara berpikir saya masih sama saja dengan anak yang baru lulus SMA. Semoga tidak se-ekstrim itu. Maksud berpikir disini adalah berpikir logis, kritis, solutif.

Kadang dalam hati bertanya-tanya. Memang bagaimana cara kita untuk mengkuantisasikan perkara-yang-kualitatif secara obyektif? *kami membicarakan tentang itu juga* mungkin suatu saat saya akan benar-benar mengerti setelah mengambil mata kuliah prodi Teknik Industri (dulu Mince pernah bilang anak TI belajar ginian tapi saya ga tahu apakah akan mengambilnya hahaha)

Saya gabut sih di pelantikan ehehee. Menyerahkan bagian bicara saat evaluasi kepada Mita saja ehehee. Sempat ikutan jaga pos berpikir kritis juga. Seru lihat mereka menyampaikan pendapat masing-masing, kadang juga menyanggah pendapat yang lain. Dan saya temui cara pandang "anak baru" memang berbeda dengan yang sudah lebih tua. Mungkin dulu saya juga seperti mereka.

Di forum evaluasi gabut, malah mainan lampu hp yang difungsikan sebagai senter sama Maul. Langitnya indah. Jauh lebih banyak bintang yang terlihat dini hari itu *daripada di kampus haha*. Beruntung Tuhan memberikan kamera yang keren, jadi saya bisa menyimpannya dalam memori saya. Dingin, kami malah mainan kabut. Sungguh seperti bocah. Terlalu excited dengan udara dan uap air hangat yang keluar ketika bicara. Mungkin kami mendambakan bisa ke luar negeri suatu saat nanti hahaha.



Itu gambar kami beberapa menit sebelum resmi terlantiknya 2015. Kedinginan membuat kami berebutan dekat-dekat dengan obor. Itu di bawah ada Koh wheland yang megangin. Sempat pula dengan konyolnya kami berimajinasi dan menirukan ritual suku pedalaman seperti yang kami lihat di TV, ehehee memang bocah.

Sayang sekali saya tak mengikuti acara sampai akhir. Pulang duluan. Biar kelihatan sibuk gitu. Aih, apaan dah. Padahal kan karena yang ditebengin juga mau pulang. Di perjalanan pulang pun tak kalah konyol. Sempat dua kali dalam beberapa menit mobil kami bikin macet gara-gara rem tangan yang susah untuk dikembalikan ke posisi awal. Hahahaa sayang sekali sehabis itu saya harus kembali ke lab. Dan kau tahu, saat itu posisi saya sudah dekat, hampir nyemplung, ke Black Hole.