Posts

Letter to Bapak (6)

Assalaamu'alaikum! Bapak, apa kabar?

Ini Ramadhan kedua tanpa sampean. Mendengar orang-orang di kos telponan dengan keluarganya membuatku ingat masa lampau saat kita sering berjumpa via telepon. Kita justru lebih dekat ketika fisik kita terpisah kota.

Aku ingat dulu aku pernah begitu antusias bercerita seberapa baik Allah hari itu padaku. Memberiku ini-itu di luar dugaanku. Berkesimpulan Allah baiiik banget. Sama seperti hari ini, hari ini banyak pemberian Allah berupa makanan untuk kami satu kos. Sama sekali tak terduga padahal komponen pendukung adanya makanan seperti biasa sedang kurang. Tapi Dia memberi dari jalan yang lain. Allah memang Maha Baik, Pak.

Bapak saiki lagi ngapain? Semoga Bapak diberikan tempat yang baik. Semoga Bapak bahagia.

Dadaaaaah
Wassalaamu'alaikum

A Letter to Bapak (5)

Bapak, semoga bapak bahagia. Jika memungkinkan, tolong titipkan pesan-pesanmu untuk kami pada Allah, semoga Dia sampaikan melalui alam. Entah kejadian, kehidupan sehari-hari, atau alam itu sendiri tanpa terjadi sesuatu. Mungkin ini kurang ajar, tapi aku yakin bertukar sapa dan berkirim pesan via Allah mungkin untuk dilakukan. Bukankah dulu bapak sering bilang, doa itu layaknya pesan. Jika sinyalnya kuat dan pemancar dan penerimanya baik, maka doa itu bisa sampai ke tujuan. Kuharap itu berlaku dan masih berlaku untuk kita. Semoga kami sendiri mampu membuat pemancar dan penerima sinyal yang baik dalam diri. Agar pesan kami, agar pesan bapak (jika memang ada), sampai ke tujuan. Karena mungkin, sebagai orang tua, banyak hal yang belum sempat bapak sampaikan. Pun dari kami, masih banyak hal yang ingin kami tanyakan dan obrolkan. Bahkan kami bertiga, anakmu, sepertinya belum sempat mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa kami mencintaimu.


Pernah diposting di lapak tumblr. Direpost di sini agar surat-surat (gaib) ini terkumpul di satu tempat

A Letter to Bapak (4)

Assalaamu'alaikum.
Bapak, maturnuwun. Dulu aku belum sempat menyampaikan satu ungkapan ini. Terima kasih atas semua hal baik yang kau lakukan untukku. Terima kasih sudah sabar membimbing kami. Terima kasih sudah berjuang untuk kami. Terima kasih atas hal-hal kecil yang membuat kenangan manis atas momen dan nasihat-nasihat hidup.

Hari ini mulai Ramadhan. Aku kembali tidak di rumah. Setelah 5 tahun, akhirnya tahun lalu aku puasa sebulan penuh di rumah. Itu pun ternyata tanpamu. Sekarang di rumah pasti sepi. Hanya ada ibu dan adik. Semoga di sana meski sepi tak membuat hati kesepian.

Kapankah terakhir kali kita sholat berjama'ah? Apakah itu 2 tahun lalu? Aku bahkan lupa. Tarawih pertama seorang diri di kota baru ini membawa ingatanku padamu. Pada saat kita sekeluarga sholat berjama'ah. Juga pada saat kau tak bosan-bosan mengingatkanku di rantau untuk tarawih meski sendiri, meski hanya 8 rakaat.

Bapak, terima kasih atas semuanya. Sepertinya terlalu banyak hal darimu yang seharusnya kuberterima kasih atasnya. Terima kasih.

Salam,
Nala

Ramadhan Sebentar Lagi. Sudah Siap?

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Jujur, saya miris melihat diri saya sendiri yang malah nggleyor. Belakangan saya merasa secara spiritual terjadi kemunduran padahal seharusnya saya menata hati, mempersiapkan diri untuk Ramadhan.

Karena kontemplasi beberapa tahun belakangan membuat saya sadar, Ramadhan bukan hanya sekadar puasa fisik. Kontemplasi yang akhirnya mempertanyakan apakah Ramadhan saya cukup berarti ataukah saya merugi?

Kontemplasi saya dimulai dengan melihat kenyataan banyak kompensasi-kompensasi yang diberikan ataupun saya lakukan karena sedang puasa. Contoh: bermalas-malasan. Memang puasa mungkin cenderung membuat badan lemas karena tidak mendapat asupan secara terus menerus, lantas apakah ini berarti wajar untuk menjadi bermalas-malasan?

Lalu urusan makan. Kalau saya pikir-pikir, puasa atau engga bagi saya sama saja dalam hal makanan. Karena saya biasa makan sehari dua kali. Kalau puasa jadi cuma geser jam makan saja kan? Lantas apa artinya semua ini kalau cuma geser jam makan? Pasti ada sesuatu yang lain.

Selanjutnya melihat perilaku banyak orang yang saya lihat termasuk diri saya sendiri saat waktu buka. Makanan yang disajikan sering dibuat spesial, tak seperti biasanya. Banyak orang berjualan ini-itu yang menurut saya akhirnya mengundang konsumerisme. Ditambah tak sedikit yang makan banyak-banyak selama waktu diperbolehkan makan. Jika demikian, apakah puasa yang kata orang untuk membersihkan fisik jadi menghasilkan hal yang sama? Apakah puasa yang katanya menahan diri hanya dilakukan pada saatnya lantas di saat berbuka kita mengumbar pemuasan nafsu?

Sebenarnya bermunculannya penjual spesial Bulan Ramadhan bukanlah hal yang negatif. Banyak orang mendapatkan rezekinya dari jalan itu dan itu bukanlah hal yang haram dilakukan. Memberikan hal spesial untuk diri sebagai hadiah atas perjuangannya juga bukan hal yang salah sama sekali. Hanya saja, mungkin kita perlu merenungkan diri apakah yang kita lakukan masih wajar atau sudah terlalu melenceng dari esensi utama.

Satu hal lagi yang menurut saya cukup berpotensi menjebak: persiapan lebaran. Gini. Entah pemikiran saya benar atau tidak, saya merasa ada yang salah dengan persiapan lebaran. Saya melihat di lingkungan kita sudah seperti sebuah keharusan untuk sementara "bermewah-mewah" untuk menyambut lebaran. Seolah-olah harus untuk membeli jajan lebaran ini dan itu, pakaian ini dan itu, ngasih parsel ini dan itu, dsb. Semua itu sama sekali bukan hal yang salah. Malah sebenarnya baik sebagai bentuk menghargai diri, orang lain, dan bulan suci itu sendiri. Tapi "seolah-olah harus"nya ini loh. Saya merasa miris ketika orang-orang harus memaksakan diri bekerja keras bagai quda sampai rela meninggalkan ... Sholat tarawih misal yang hanya ada setahun sebulan yang tidak akan ditemui selain di bulan dia bekerja keras bagai quda ini demi sebuah "adat" lebaran harus baju baru, jajanan enak terhidang, dan memberi sangu bocah-bocah. Apalagi kalau kerja keras bagai quda demi adat keharusan ini sampai membuatnya meninggalkan puasa. Sangat disayangkan kan? Padahal semua itu bukan keharusan. Itu hanya seolah-olah harus karena orang-orang umumnya melakukan hal yang demikian. Again, hal-hal tadi sama sekali tidak salah, hanya sepertinya rugi jika sampai melencengkan kita dari hal yang esensial.

Hal lain dimana saya sering merugi dalam bulan Ramadhan adalah gimana saya menjalani hidup seperti biasa saja. Kurang ada atau malah tak ada peningkatan kualitas diri dalam sebulan itu. Bulan yang harusnya di sana banyak agenda pdkt, banyak merenung, refleksi diri, berdoa, belajar, malah dilalui dengan biasa-biasa saja padahal kesakralan bulan itu luar biasa. Bahasa lainnya sih pahala lagi promo gedhe-gedhean.

Ketika Ramadhan berganti menjadi Syawal lantas bertanya-tanya apa yang meningkat dari diri. Dan apa yang ditemui?

Makanya menata hati menyambut bulan spesial ini perlu agar saat tiba, kita siap untuk tidak melewatkan promo yang ada. Pun siap untuk menyelam dan mendapat mutiara esensi dari kegiatan bulan ini.

The Weird Me: Pernikahan

Belakangan saya sadar ada satu hal lagi yang agak ga umum dari diri saya. Dari pengamatan saya di lingkungan, orang-orang seumuran saya rata-rata sudah memikirkan pernikahan, sudah ada keinginan untuk menikah. Ga jarang saya nemu mereka baper kalau ke mantenan atau sekedar dapet undangan ke nikahan.

Nah saat saya ngaca, kok yang saya dapati diri saya tidaklah demikian. Di beberapa kasus kehidupan memang entah kenapa saya antimainstream makanya agak susah nyari yang klop sepemikiran. Tak terkecuali kasus ini.

Saya sendiri seringnya merasa saya masih 16-17 tahunan. Ini ngomongin kelakuan dan psikologis loh ya. Saya sering lupa bahwa seumur-real saya sebenernya sudah menjadi hal yang biasa untuk memikirkan dan membicarakan perihal jodoh dan pernikahan.

Sekarang diri saya lebih mending loh. Sekarang saya sudah sadar bahwa hal tersebut wajar. Sebelum wisuda, saya masih merasa nikah itu urusan orang gedhe. Masih terasa memalukan untuk saya saat itu untuk membahas masalah jodoh.

Meski sadar bahwa sudah wajar, saya ga yang baper pengen nikah. Mungkin belum sih haha. Saya hanya sadar bahwa suatu saat saya akan menikah. Bahkan meski belum ada calon entah dapat wangsit dari mana, saya punya feeling saya akan nikah ga lama setelah kontrak kerja sekarang berakhir. Saya justru tertarik pada hal yang dilewati setelah pernikahan: tentang punya anak. Saya lebih tertarik dengan bahasan tentang bagaimana perasaan punya anak, bagaimana anggapan orang pada umumnya terhadap anak dan harusnya bagaimana, bagaimana cara mendidik anak, bagaimana orang tua berpengaruh terhadap anaknya, gimana rencana kegiatan (pekerjaan) saya kalau sudah punya anak, dsb. Intinya sih tentang gimana dealing dengan amanah yang namanya anak.

Di situlah anehnya saya. Menurut saya ketertarikan pikiran saya ini agak ga umum. Kayak loncat gitu soalnya. Sempet nanya ke satu orang sih apakah pas dia memutuskan punya anak sudah memikirkan konsekuensi bahwa harus begini begini, harus persiapan begini begini, harus berubah begini begini. Dan jawabanya: dia baru kepikiran setelah punya anak. Sementara saya malah ga baper nikah, ga mikirin nanti harus gimana ke suami, ... Harus mikirin apa sih soal pernikahan??? Saya malah lebih tertarik sama yang berhubungan dengan menjadi orang tua. Gatau sih kalau ternyata fenomena saya ini biasa aja. Hahaha