Posts

GSoC (Terpaksa)


Hallo, minna-san. Kemarin saya janjian sama, sebut saja Kak Hendy. Minta tolong buat ngesolve masalah di program orang yang keluarannya saya perlukan. Harusnya saya bisa solve sendiri sih. HARUSNYA. Makanya, Nal, belajar lah! Jangan mager melulu.

Sempat ada beberapa kata yang seharusnya jleb sih tapi entah kenapa ga seseram jika itu diucapkan oleh dia-yang-saya-pernah-ceritakan-saya-takuti di post cerita saja yang edisi pertama.

Tiba-tiba ditanyain ... "Nala, kamu ga ikutan GSoC?", "Enggak. Sebenernya saya belum ngeh itu apaan dan ngapain sih, Kak."

Akhirnya dijelaskan dikit. Trus dipaksa buat sign up. Selanjutnya dipaksa buat baca list organisasi. Trus dipaksa milih organisasi yang menurut saya menarik. Trus dipaksa buat bikin proposal. Dan selanjutnya dia pamerkan ke grup -_-

Jadi GSoC apaan? Googling saja kepanjangan dari GSoC apa. Intinya dia adalah salah satu sarana untuk mengisi liburan dengan lebih berguna (jika terpilih). Membuat kita bekerja dan belajar selama liburan tapi juga dikasih sesuatu yang setimpal dengan itu. Kayaknya sih ini (salah satu) bentuk CSR nya Google. Kayaknya lho. Ini cuma tebakan saya.

Nah, ngerjain apa? ngoding. Ngoding apa? ngoding yang tujuan dan spesifikasinya sesuai dengan ide-ide project dari organisasi-organisasi yang mengikuti GSoC. Ceritanya organisasi itu perlu orang buat mengerjakan ide-ide project itu, dan para mahasiswa bisa menjadi orang yang terpilih untuk mengerjakannya. Dan Google ada sebagai jembatan antara keduanya dan memberikan segenap uang kepada organisasi dan yang mengerjakan ide itu. Kegiatan ini didesain untuk dikerjakan pas liburan summer jadi berasa kayak KP gitu cuma KP nya ga harus datang ke perusahaannya dan perusahaannya pun nun jauh di sana. Kalau penasaran, googling saja sendiri haha.

Trus jadi promosi.

Cerita Saja (5)


Ehm. Kemarin saya makan bareng Fitri dan Lovila. Cukup banyak ngomongin "kerjaan" pascakampus. Well, Saya merasa mereka sudah tahu kemana mereka akan melangkah. Ya begitulah.

Trus niatnya pulang karena kebelet buang hajat *maaf ya, ga sopan* tapi ga jadi. Di sekre ketemu Albertus *BLAH* Ferdiansyah. Sepertinya dia sedang melepas penat dari TA nya. Yah gitu deh. Memang PSTK pas banget buat tempat ketawa. Kalau di lab ketawa-ketawa ga penting terlalu banyak emmmm gimana ya? haha gapapa sih kayaknya tapi ga enak gitu ga sih? mengganggu yang lain. Oke back to the plot. Kata Ferdi sih, "TA ku ga berprogress nih." trus kami berdua yang mempunyai masalah yang sama toss dan ketawa hahaha.

Akhirnya cuma youtube-an di sekre. Kepo lagu-lagunya Sukima Switch. Bukannya pulang buat memenuhi panggilan alam atau ngerjain TA. BTW lagunya bagus-bagus. Tapi masih tetep yang kerasa paling bagus Hello Especially.

Latihan TW
Setelah sekian lama, akhirnya saya nonton latihan lagi heheeee. Trus baru sadar ini tanggal 21 Maret. WOW. Pengen deh ngajakin temen2 TA : Hilmi, Irfan dan Ari (andai saja Alan dan Julian juga sering ke Bandung kayak Ari) buat nonton pagelarannya nanti haha tapi saya ga mau nonton bareng mereka. Cuma pengen mereka nonton haha. Saya pengennya nonton bareng temen2 Satria Pramudhita. Entah kenapa. Hahaa. Ya kan ini "momen terakhir" sebagian Satria Pramudhita di PSTK. Dulu kan bareng-bareng. Di "momen terakhirnya" kalau bisa bareng-bareng dong.

Tapi pas lihat latihannya, saya sambil mikirin hal yang lain.

Selfish atau malah Egois?
Saya bukanlah orang yang peka. Saya sering tak sadar bahwa sekeliling saya bermasalah. Saya sering salah bertingkah, maksud saya, kelakuan saya tidak sesuai dengan situasinya. Bentar, Nal. Kalau kamu tahu bahwa kamu bertingkah yang tidak sesuai dengan situasinya, bukannya berarti kamu peka? maksudnya kamu tahu bahwa itu salah di situasi tersebut. Ya kan sadarnya setelah aksinya dilakukan. Kadang heran sih sama teman-teman yang bisa menemukan ada sesuatu yang salah dalam suatu kegiatan, konsep, yah something like that, hanya dengan mengalaminya selama beberapa menit. Ada yang bisa sadar bahwa seseorang sedang punya masalah hanya dengan melihatnya sekilas. Yah begitulah. Begitu tidak peka, selfish atau malah egoisnya saya.

"Peringatan" dari teman
Tadi malam sempat ngobrol sama Ferdi. GBH. Ghibah kalau di PSTK lebih beken dengan GBH. Sebenarnya ada perkataannya yang memberikan pelajaran untuk saya (yang sebenarnya tidak ditujukan untuk saya).

"Kalian sudah ngelakuin ini? Belum"
"Kalian sudah ngelakuin itu? Belum"
"Kalian udah ngelakuin ini-itu? Belum"
"Lah selama ini kalian sudah melakukan apa?"
"Kalau kalian melakukan hal yang sama lagi dan sama lagi, ya kalian ga bisa (saya lebih seneng ini diganti kalian ga berhak) mengharapkan keluaran yang berbeda."

Makasih, Fer, secara tidak langsung kau sudah mengingatkanku.

Cerita Saja (4)


Haduh. Kok kalau cerita saja dikasih nomor nanti bakal kelihatan banyak banget gitu ya. Mending ada nomornya biar kelihatan ada berapa atau ga usah ada nomornya aja ya? Hahaa ga penting banget.

Hohooo sekarang sudah tanggal 21, coy. Kenapa seminggu itu cepet banget? Perasaan barusan selasa tapi besok sudah selasa lagi. Tapi kalau nungguin waktu pulang rasanya, MasyaAllah, lamanyoooo. Jadi "relativitas" waktu itu tidak hanya terjadi seperti pada paradoks kembar yang dialami oleh dua orang atau lebih tapi dapat juga dialami dalam seorang individu saja. macam saya ini. Aih, apaan sih Nal? Ga penting

Pelajaran kehidupan dua eh tiga hari ini, pelajaran kehidupan nomor tujuh : Jangan sakit di perantauan, ben gak homesick. Siapa juga yang bisa menghindar kalau sudah dikasih sakit? Menghindar dengan pencegahan mungkin bisa.

Weekend cuma baca "Dunia Sophie". Ternyata novel itu kalau dibaca terus seru juga. Banyak pengetahuan di sana. Kalian, pembaca yang suka filsafat atau sejarah dunia, sepertinya perlu membaca novel ini. Sayang sekali, novel itu mayoritas bahkan hampir hanya menceritakan sejarah Eropa saja. Emmm itu sejauh saya membaca separuh bukunya sih. Hahaa baru baca separuh.

Masih baca buku yang cetakan lama nih haha. Duh theme ini default gambarnya gedhe. padahal pengen ga gedhe ukuran imagenya


Kadang bacanya ga langsung ngerti sih. Kalimatnya agak muluk, menurut saya haha. Tapi beneran deh, seru. Tapi pas saya baca, terutama bagian setelah abad pertengahan, entah kenapa saya kasian sama orang-orang yang diceritakan. DI zaman itu mereka memikirkan tentang Jiwa, darimana ide itu, lalu bagaimana sebenarnya aturan Tuhan berjalan. Bahkan ada gagasan bahwa Tuhan itu alam itu sendiri. Sayang sekali. Padahal di zaman itu sudah berabad-abad setelah adanya agama. kalau dari sudut pandang saya sih, padahal itu sudah sekian lamanya setelah Islam ada, dan mereka masih mempertanyakan tentang eksistensi, keberadaan dan wujud Tuhan.

Haha well, bukannya memang ada beberapa hal yang akal kita tak mampu mencapainya dan kita hanya perlu mengimaninya. Hanya perlu mengimaninya. Hanya perlu percaya.

Hahaaa TA tuh, Nal, kerjain.

Insomnia


Entah kenapa diri ini kalau disuruh melek malem gampang banget. Melek pagi hingga siangya, masyaAllah, susahnyaaa wkwk. Ini post ga penting sih. Ga penting banget. Cuma pengen ngasih tahu lagu yang enak banget buat didengerin--versi saya. Sejak sebelum nulis ini juga ngedengerin satu lagu ini yang dilooping haha.

Soundtrack endingnya Gin no Saji. BTW animenya Gin no Saji juga menyenangkan. Menurut saya lagunya pas banget sama tema animenya. Kalau denger musik intronya, berasa lagi main harvest moon haha. Gin no Saji ceritanya tentang sekolah peternakan dan pertanian gitu. Setingkat SMA. Di Indonesia sudah ada belum ya sekolah yang kayak gitu? Sepertinya belum.

Ini lho lagunya.


Hidup Ini Mudah


Tadi tumben banget Yaka cukup lama menetap di sekre. Tadi gara-gara apa ya kami bisa ngobrolin hal yang akan ditulis ini. Oh iya, berawal dari saya yang iseng ngintip dia lagi ngerjain apa di laptopnya trus saya curhat dikit ke Yaka. Satu kalimat doang curhatnya. Trus kami jadi ngomongin ini,

Hidup ini tuh sebenarnya mudah. Yang bikin kita merasa susah adalah kita melibatkan hal yang susah. Yang susah itu apa? Manusia. Bukan, lebih tepat kalau diksinya adalah mengharapkan manusia. 

Trus jadi ngomongin pelajaran yang didapat dari pengajian yang pernah diikuti, tentang kisah-kisah yang pernah didapat. Semuanya intinya tentang manusia zaman sekarang yang mungkin banyak berharap pada selain Tuhannya.

Kalau dilihat dari cerita-cerita yang diceritakan Yaka, muncul pertanyaan, kenapa zaman dulu bisa ada hal yang luar biasa seperti itu sedangkan zaman sekarang tidak? Karena kita imannya masih ecek-ecek. Mindset kita sekarang juga terbatasi oleh pemikiran kita sendiri. Kalau dapat masalah bingung sendiri. Lupa bahwa Allah Maha Berkehendak. Padahal Allah itu sesuai dengan prasangka hambaNya. Kalau dari awal prasangkanya sudah terbatasi, ga yakin, ya gimana?