Posts

Honestly, I don't know how to express what I feel right now. Merasa bersalah. I just came to latihan TW44. Some of niyaga (niyaga is penabuh gamelan) pergi duluan. So I had a chance to play gamelan. Hahaha. Menyenangkan but still not enjoying. Hehe maklum, masih awal.

In TW44, I decided not to join any group neither Karawitan nor Tari nor Tokoh. My first reason : My heart said that I want to play karawitan. Padahal karawitan itu tiap TW dimainkan oleh angkatan terbawah. I think keinginan untuk main karawitan buat TW masih ada and it won't be kelakon. Okay. I can't play karawitan, so I can join Tari or Tokoh. But I'm not interested. Haha. 2nd reason : news from pak olak had made a conversation between me and my dad, and he requested, he asked me not to karawitan terus. Keinginan yang mengganjal. Ya gimana ya. I still want to enjoy this TW, included in the process. But but but ...

And I had been asked twice by the PJ Tari to join Tari group. She told me the condition. Honestly, I want to help but I'm sorry, I had promise.

Masih saja jadi Galauer

Hari gini, masih saja galau. Haha yaudah lah yaaa. Galau kan tak selalu salah. Ah pembelaan hahahaa. Ingat zaman TPB dulu. Zaman masih menjadi peserta PLE, pas PLE funday. Di pos di lapangan SR, ada mas-mas yang mengatakan "Galau itu perlu, asalkan galau yang bener." Nah, loh, tuh kan, galau itu boleh asalkan yang bener. Saya merasa galau saya ini bener kok. Lhoh hahaha.

Kemarin saya dan keenam teman saya mengunjungi PT Dirgantara Indonesia. Ceritanya kami kemarin inigin melamar kerja praktik. Hehehe. Masih harus menunggu sambil sholat dan dilanjutkan duduk santai karena ternyata pas kami sampai di sana pas jam istirahat. Hahahaaa harus menunggu satu jam.

Akhirnya setelah dari mbak-mbak respsionis, kami bertujuh pergi ke bagian training canter dan kemudian kami diminta untuk ke gedung kantor bagian IT. Wuuuu sepi. Iya sepi. Hanya satu kantor yang kami kunjungi yang tidak sepi.

Kami memasuki beberapa bagian. Pertama bagian lupa namanya intinya lebih mendalam tentang software, sedang ada proyek pembuatan simulator. Hohohoho. tak tahu terlalu banyak karena manajernya masih rapat.

Kedua, kami mengunjungi bagian rancang bangun dan bla bla bla. Manajernya juga mau rapat jadi kami tak berbicara terlalu banyak. Kami malah dimintake bagian sebelah.

Ternyata itu adalah bagian sistem analisis. Lagi-lagi manajernya juga sedang rapat. Wooow. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu. Sekian lama akhirnya bapaknya bisa ditemui. Orang yang sepertinya seru. Kami kemudian ditinggal sholat dulu sebelum penjelasan lebih lanjut. Dalam penjelasan beliau dijelaskan bagian-bagian yang ada di sistem analisis itu dan tiba-tiba kami ditanyai tertarik ke mana. Ya kali, mana bisa kami memutuskan secapat iru.

Saya pun diterpa kegalauan. Bingung suka yang mana. Belum kebayang nanti KP nya bakal ngapain. Gabut atau ga. Supervisornya gimana. Yang flight control sudah diisi lagi. Aduh banyak yang terlalu saya permasalahkan.

Sampai saat ini juga masih bingung memilih apa.

1st time for Sawarna

Untuk pertama kalinya Sabtu kemarin saya main bareng teman-teman dari divisi pengmas HME-ITB. Ceritanya mau ganti kepengurusan jadi maunya main dulu sebelum kegiatan kuliah yang lebih berat menerpa. Hahaha. Tujuan diputuskan ke Sawarna.

Berangkatlah kami jam 7 malam ke Banten, ke Desa Sawarna. Ternyata di sana itu ada beberapa spot yang bisa dikunjungi, sembilan kalau si Ismail tak salah hitung. Kebanyakan Pantai. Menurut saya itu sebenarnya ya masih satu pantai tapi dengan point of interest yang berbeda. Dengan berdesakan di bertiga dengan Rahmi dan Nanur di kursi belakang mobil avanza rentalan, hampir di sepanjang perjalanan kami tidur. Tak ada yang spesial, orang saya tidur.

Semuanya melek saat Sawarna tinggal beberapa kilometer lagi. Tracknya masih cukup bagus tetapi sempit dan tidak ada penerangan. Kalau di tempat saya sih disebut "bulak". Kata orang-orang di mobil yang saya tumpangi sih itu jalannya ngeri. Saya mikir. Ngeri dari mana, bukannya biasa saja. Ya maklum, saya kan cukup sering lewat jalan macem hutan tanpa penerangan begitu. Hehe

Rasanya seperti di kampung halaman

Ada beberapa daerah yang ada rumahnya, trus hutan lagi, trus rumah warga lagi, trus huatan lagi, entah berapa kali hingga akhirnya ketemu rumah warga terus. Melewati ini semua serasa melewati daerah barat sekolah dasar saya. Wuuuu hanya saja rumah-rumah yang saya lewati beberapa hari yang lalu itu rata-rata lebih bagus. Maklum, kan dekat tempat wisata dan sumber daya alamnya masih banyak jadi taraf hidupnya relatif lebih tinggi. Ini hanya analisis saya.

sampai di sana sudah jam setengah 3 pagi. Tidak langsung parkir begitu saja. Masih survey buat penginanpan dulu. Setelah repot-repot survey ternyata kami memutuskan tidur di mobil saja. Dan perkir di tempat yang sama di temapat berhenti yang awal tadi. Dekat dengan Alfamart. Dan seperti biasa, di mana ada Alfamart, di dekatnya ada Indomaret. Hahaha merasa aneh di desa seperti ini ada minimarket. Hahaha namanya juga daerah wisata.

Ya sepertinya semenjak Sawarna booming, penduduk sekitar alih profesi dan taraf hidupnya meningkat.

Ternyata cowo-cowo merencanakan untuk melihat sunrise. Tapi apa daya, digagalkan oleh kami para cewe yang persiapannya lama sekali. Hahaha  maafkan kami. Tapi ga rugi kok, orang mendung. Hahaha.

AKhirnya kami berangkat. Tidak seperti yang direkomendasikan kak Uya buat naik ojek ke tempat wisatanya, kami malah sewa guide dan jalan ke tempat wisatanya. Sebenernya saya mikir, kenapa kami ga bertualang saja asal jalan gitu hahaha. Tapi ya sudahlah. Untuk menuju tempat pertama, kami melewati tegalan. Bikin inget rumah deh, beneran. cukup jauh juga, berasa jadi bolang. Bocah Petualang bukan Bocah Ilang. naik turun, lewat "galengan" alias jalan setapak, juga melewati jembatan semi purba, jembatan gantung (semi purba, karen masih lebih primitif di dekat rumah saya hahaha). Dari tempat bayar uang masuk pun ternyata masih jauh juga. Hahaha. Hiingga di suatu area mulai terdengar suara gemuruh ombak. Wooow sebentar lagi.

Ternyata kami sampai di Pantai Lagon Pari. Pantainya luas, pasirna halus, masih berwarna cokelat. Airnya terliat biru. Menyenangkan sekali berjalan di pasir, nyeker, terkena ombak. Wuuuuu senangnya main-main.


Ini pantai Lagon Pari. Gambarnya tak sebaik kamera yang professional hahaha

Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke spot selanjutnya. Ternyata itu adalah spot karang. Hahaaa


Ini spot karang yang pertama, tak tahu apa namanya. Spot selanjutnya lebih wow


Spot selanjutnya juga masih karang, tetapi lebih tinggi dan ombaknya lebih terlihat wow karena tertampar ke karang yang besar. Sayang sekali kamera saya tak bisa diandalkan karena resolusi yang kecil. Dalam perjalanan ini saya juga mendapat sebuah pelajaran bahwa tidak semua hal bisa kita abadikan dengan kamera. buatan manusia itu ada batasnya. Tak ada yang mengalahkan pengabadian momen dengan sentuhan rasa yang spesifik dengan alat alami pemberian Allah. Pengabadian dengan alat buatan manusia nantinya hanya akan menstimulus rasa yang sudah termemori oleh pikiran kita. Saat melihat ciptaan Allah, Jika kita meresapinya, merasakan dengan hati, kita akan merasakan Betapa amazing-nya Allah, menciptakan semua ini dengan WOW. 

Okay, ternyata kami harus kembali ke spot awal. Kami akhirnya bermain-main di pantai pertama yang kami jajah. Hahaha. Banyak karang yang dilewati, juga banyak kerang yang ditemui haha ini salah satunya


Ternyata di sisi yang lain masih ada spot yang bisa dikunjungi. Akhirnya kami sampai di suatu spot dimana kami bisa melihat karang besar nan jauh di sana yang terkena ombak dan airnya sampai melewati karang. Terlihat seperti air terjun tapi pendek hehe.
Lihat! keren kan ...

Di spot ini kami tak bisa mendekat ke karang yang keren iini karena makin siang ombak makin besar. haha. Kami hanya main-main di karang yang 'cethek' sambil menikmati pemandangan beberapa ikan yang mau muncul karena masih surut hahaha

Ternyata sudah jam 10, semakin panas. Kami pun belum makan. Kami akhirnya memutuskan untuk makan di warung dekat spot itu. Tidak ada menu lain selain mi instan. Indomie. ya apa boleh buat. Perut kami sudah meminta makan. Hahaha

Lanjut ke spot selanjutnya, kami ternyata melewati pantai yang berbatu. Sempat terpisah dengan mang-mang guide. Ternyata mamang nya ga lewat pantai, tapi lewat kebun. Untung saja ketemu. Kata mamangnya, karena mulai pasang, ga berani nyisir pantai buat ke spot selanjutnya. Akhirnya kami kembali melewati tegalan. Kali ini lebih penuh perjuangan. Jalannya lebih ekstrim. Lebih curam, lebih licin, lebih bernuansa tegal, lebih berlumpur daripada tegalan yang pertama. Wow tapi seru sekali.

Kami sempat berhenti di sebuah spot untuk berfoto karena backgroundnnya yang bagus. Backgroundnya adalah pantai berpasir putih yang tidak kami kunjungi karena keburu sore dan ombaknya terlalu besar. Hahaha


Waaa perlu perjuangan melewati track ini. Sandal saya pun penuh dengan tanah liat. Terasa lebih berat. Hahaha akhirnya semua orang membersihkan sandal di pantai. Wakakakaaaa

Spot selanjutnya ternyata pantai dengan dua batu besar yang menjadi point of interest nya.


Beberapa dari kami termasuk saya menyebrang ke batu itu. Wow menyenangkan sekali. Rela membasahi kerudung yang ternyata saya ga bawa serep. Jalan ke sana licin. Kaki saya pun kena karang. Hahaha ya sudahlah. Ternyata di balik batu itu ada karang besar pemecah ombak sama seperti di spot karang air terjun. Keren seklai apalagi ombaknya makin gede. Wuuuuu.

Menyenangkan sekali jalan-jalan ini. Mendekatkan diri dengan ciptaan Allah dan menyadari betapa kerennya Allah menciptakan ini semua. 

YUI - Tokyo

Hahaaa ini sih judul lagu. Iya. Ini salah satu lagu yang special bagi saya. Mungkin kalian menyadari bahwa beberapa lagu memiliki kesan dan kenangan tersendiri bagi setiap orang. Ya kayak lagu ini.

Bermula dari keisengan nyari soundtrack Bleach, akhirnya nemu lagunya YUI - Life. Dan akhirnya iseng nyari lagunya YUI yang lain dan ketemu lagu berjudul "Tokyo" ini. Dari sini akhirnya iseng-iseng terus dan berakhir dengan nge-fans sama YUI. Hahahaaa

Lagu ini special. Mengingatkan saya pada masa semester dua. Masih di asrama. Sering nyanyi bareng Renita. Saat itu kami sedang sering bersama karena sering ngerjain tugas Tata Tulis Karya Ilmiah. Akhirnya tahu bahwa kami juga punya mimpi yang sama. Kuliah ke Jepang.

Juga sempat bertemu orang lain yang juga suka YUI. Si Wheland. Entah bagaimana ceritanya hingga kami juga menemukan bahwa kami juga punya impian yang sama. Kuliah ke Jepang. Beberapa kali di sekre kami membicarakan (yang pastinya sambil membayangkan), mengungkapkan betapa inginnya kami ke Jepang. Trus juga nyanyi-nyanyi lagu ini dengan gitaran dan suara yang false. Wkwkwkwk.

Iya. Lagu ini sering mengingatkan kembali diri saya akan impian saya yang terkadang terlupa. Mungkin ditelan  kesibukan (Kok bisa i lho).

Ada panggilan "keluarga"

Konyol sekali judulnya. That's what i said when i was asked why i came to latihan pagelaran pertama last night. Iya. Tadi malam saya kembali bertemu dengan "keluarga" saya. Diminta buat ngajarin main bonang. Katanya sih ga usah dateng dulu gapapa. Tapi pada akhirnya jam 8 malam saya di-sms, diminta buat dateng. Alhamdulillah Allah menghilangkan mager saya. Jadi ya saya mau berangkat. Demi "kaluarga" hahaha.

Ternyata saya merindukan alunan musik itu, kawan.

Saya memlewati lapangan sipi, aula barat hingga sampai di selasar gedung kuliah teknik sipil yang dekat dengan HIMAFI. Di sepanjang jalan dekat HIMAFI itu, alunan musiknya sudah mulai terdengar. Indah. Rasanya sudah lama tak mendengar musik karawitan apalagi secara langsung.

Tanpa mampir sekre terlebih dahulu, saya langsung turun menuju RLB, tempat latihan. Pintu tertutup. Saat membuka pintu, jeng jeeeeng. Disambut teman-teman. Adik-adik saya sih. WOW. Saya masih dianggap di mata mereka. Sangat kontras dengan keadaan saya ketika kuliah ya. Hahaha. Senyum. Semua tersenyum. Menyenangkan. Disambut pula dengan toss keluarga bonang. Toss kebanggaan kami hahaha.

Alhamdulillah. Masih diberikan orang-orang yang peduli dengan saya. Yang bisa menghibur tanpa mereka berniat menghibur saya. Orang-orang yang mungkin kebersamaannya akan saya rindukan. Ceileh. Ini udah kayak apaan dah. Ya pokoknya intinya seneng lah ya. Kalau kata saya di tahun yang lalu : Saya senang, saya masih dianggap di mata orang sekitar saya.

Kalian harus tau, kawan. Dianggap ada adalah sebuah nikmat. Syukurilah.