Posts

Disini kita belajar banyak hal

Tak terasa, sekarang sudah H-19 pagelaran dies unit saya. acara workshop membatik kemarin pun telah usai, ditutup dengan wayangan yang keren. Namun, semua kesenangan pemberi semangat itu kemarin seolah terserap energi negatif bak black hole mini dalam diri saya. 

karena satu acara telah usai, kini tinggal mempersiapkan pagelaran, biar jadi keren, kece, apapun itu lah. karena sudah H-segini, latihan pun makin intensif, makin banyak rintangan, semangat sisa kemarin pun baru terpompa sedikit, tetapi debit keluarnya lebih tinggi daripada kecepatan pompanya. kini tinggal mengais-ais semangat yang ada. Andaikan ada suatugenerator semangat, saya mau 'menyolokkan' kabel macem infus ke tubuh saya. Andaikan ada suplemen semangat, saya juga mau makan itu.

Saya seendiri bingung, bagaimana bisa saya dibuat pusing hanya karena orang-orang yang ga dateng? ga konfirm? toh ini bukan pagelaran saya, tapi ini pagelaran kami bersama. pekerjaan orang kurang kerjaan memang. haha.

yang ada di pikiran saya sekarang adalah, bagaimana bisa hampir semuanya egois. egois di batas antara menengah dan tinggi menurut saya, Kita semua sama-sama punya tugas, kita semua sama-sama punya PR, kita semua sama-sama punya ujian ini-itu, praktikum ini-itu. saya cuma pengen mereka saling menghargai satu sama lain. ada yang mengorbankan waktunya, mengurangi waktu tidurnya demi ini. ada karawitan yang harus main dari awal hingga akhir, saya yakin mereka CAPEK. capek fisik dan pikiran karena sebal dengan yang lainnya. Bahkan saya pun tak tega melihat mereka sambil mengerjakan tugas sementara mereka latihan, apalagi harus meninggalkan mereka, belajar, mengerjakan PR, mengerjakan laporan?? saya akan senang di atas penderitaan orang lain dan saya yang meminta mereka melakukan itu. mungkin ini keluhan. ya, mungkin ini keluhan.

saya pun ga jelas, ga ngerti apa yang saya tulis di sini. judul dan isi pun ga nyambung sama sekali.

entahlah, mungkin saya saja yang menanggapi ini semua dengan berlebihan. semoga semuanya menjadi lebih baik. Aamiin

Betapa udiknya saya. hahaha

Saya tidak tahu sebutan apa yang lebih tepat dengan yang ada di pikiran saya saat ini. Selarut ini dan saya belum bisa tidur. Akhirnya saya mengisi waktu hanya dengan membuka facebook dan kepo. hahaha.Seperti biasanya orang kepo (sebenarnya saya juga ga tau sih orang lain keponya gimana), saya melihat-lihat foto-foto orang yang saya kepo. Walaupun sebelumnya sudah berkali-kali saya kepoin, saya baru tau ada foto-foto yang belum saya lihat

foto-foto berisi gambar orang yang saya kepo bersama teman-temannya tengah mengisi waktu luang dengan main ke sebuah tempat wisata, sebut saja Tangkuban Perahu. Masih ada beberapa tep[at lain juga. Akhirnya saya berpikir, sekian lama saya di Bandung ini saya belum pernah main-main macem itu. Melihat itu saya merasa menjadi orang ansos. dan akhirnya semuanya membuat saya pengen banget main, main bareng teman-teman, biar saya lebih menikmati masa muda saya, haha. . . biar saya ga merasa ansos begini. hahaha.

Masih ada foto yang terlewat, foto masa SMA-nya yang eye-catching banget, bawa piala. Langsung saya buka semuanya yang setipe, bukan lihat orangnya, tapi lihat spanduk di belakangnya. dan Subhanallah, ternyata orang yang saya kepo ini juara olimpiade kimia. Membuatnya terasa lebih waw bagi saya. Ya, bagi saya orang yang suka, apalagi hobi dan menguasai kimia itu waw banget, karena menurut saya kimia itu membingungkan. hahaha rasa iri juga sempat mampir setelah melihat foto membawa piala itu. Yah, mungkin harus saya katakan, saya belum pernah menang tiap ikutan lomba gituan, paling ngepol semifinalis. hahaha. .

tapi entah mengapa melihat foto-foto itu (dengan pensuasanaan lagunya YUI. hahaha) rasanya sedikit membakar semangat saya. Saya tau dia sebenarnya orang yang cerdas, dia pernah juara olimpiade, dia bagus dalam pengalaman organisasi, dia ga ansos dan dia punya mimpi yang menurut saya tergolong kuat baginya. saya coba bandingkan dengan diri saya, betapa jauhnya. Saya merasa ciut. Saya merasa seperti orang desa udik. Saya berpikir, apakah mimppi saya yang sama seperti mimpi orang yang saya kepo bisa tercapai? mencobe melihat diri saya. pengalaman organisasi hampir nol, cenderung tergolong tertutup dan sedikit ansos, pinter? ga juga, bahkan saya merasa terpuruk, merasa saya ini paling bodoh di kelas, Kembali terlintas, apa iya bisa?

Sebenarnya saya juga bingung mengungkapkannya bagaimana. pertanyaan barusan terlintas di pikiran saya berulang kali, tapi entah bagaimana foto itu ditambah dengan dramatisasi lagunya YUI mengingatkan dan memberi saya semangat bahwa saya ini punya mimpi. Mimpi yang belakangan ini hampir terlupakan (ah, bagaimana bisa sebuah mimpi terlupakan).

Saya ingin, ingin sekali untuk selanjutnya lebih baik lagi.  saya ingin sekali saya bisa menikmati semua ini bersama teman-teman saya. Saya ingin mimpi say terwujud.

Bisa Apa?

Kesempatan kali ini saya dan teman-teman saya seangkatan di unit memiliki kesempatan memegang kepanitiaan dies unit kami, Tanggap Warsa kami menyebutnya, lebih tepatnya Tanggap Warsa 43. Kebetulan saya masuk divisi pagelaran, divisi yang awalnya saya pilih memang, dengan harapan saya bisa 'memuaskan diri' membayar keinginan saya yang sepertinya tak mungkin terwujud : main bonang pas TW.

Tapi kenyataannya lain, kawan. Saya merasa selama ini peran saya kurang. Saya tak bisa memberikan solusi apapun. Sebenarnya jobdesk saya pun juga ga jelas. hahaha . . . setiap rapat, membicarakan konsep, saya tak bisa memberikan apa-apa, hanya mendengarkan. Tak bisa memberikan apa-apa karena saya pun tak tahu apa-apa mengenai masalah beginian. Saya pun mulai berpikir, percuma saya ada disini tapi saya tak bisa memberikan apa-apa. Sampai sekarang saya masih berharap saya bisa memberikan sesuatu untuk TW ini. 

Saya tak tahu apakah perasaan saya yang merasakan saya sedang 'jauh' dari angkatan saya yang membuat saya kurang 'ngeh' di TW ini atau sebaliknya, karena saya kurang 'ngeh' karena saya ga ngerti apa-apa saya, saya merasa kurang kontribusi sehingga saya merasa 'jauh'. Atau mungkin ini semua karena saya yang ansos? saya tak tahu.

Jujur, sebenarnya saya ingin sekali bisa menikmati ini semua, menjadi momen-momen yang tak terlupakan bersama teman-teman saya, tapi saya belum merasakan itu. Sekarang yang saya pikirkan adalah bisa apa saya? bisa apa saya buat TW ini? bisa apa saya sehingga saya bisa menikmati semua prosesnya?

Semester ini berakhir juga

Ya, begitulah kawan, hari ini semester 3 ku berakhir, ditutup dengan ujian Sistem digital. Ujian yang menurut saya persiapannya paling ga siap banget setelah probstat. Rencana belajar malah mainan Harvest Moon, yah, saya pikir itu karena belakangan ini udah ga ada kuliah dan juga rasa ingin pulang yang semakin membukit. hahaha. . .

Ya, semuanya telah berakhir. Bagaimana hasilnya? kita lihat saja nanti, pasrahkan saja semuanya. Toh, tinggal berdoa. setelah semua berakhir rasa pengen pulang malah bertambah, saya masih harus menunggu lima hari lagi untuk berangkat pulang ke Kediri. Saya pikir lima hari akan terasa lama karena saya menunggu. Mengingat masih ada lima hari itu rasanya saya pengen tidur, hahaha. Hhhh, bahkan rencana saya untuk mereview performa saya semester ini sepertinya belum bisa saya lakukan karena pikiran dan perasaan masih merengek-rengek untuk pulang. Yah, apa boleh buat, orang tua saya juga tak keberatan tidak bertemu saya dari tanggal 12 Agustus 2013 sampai 28 desember 2013 nanti.

Pulang. . . Pulang. . .

Yaa akhirnya saya merasa bisa mengingat-ingat kembali masa-masa suram saya di semester ini. Saya merasa semester ini adalah semester tersuram yang pernah saya lewati. Bagaimana tidak, hampir tidak ada kuliah yang saya ikuti tanpa tidur di kelas. Hampir semua mata kuliah belum saya mengerti sebelum ujian, jadi saya ujian dengan bekal yang sedikit. Hampir menyerah juga karena tidak juga mngerti pelajaran, apalagi probstat. Tak bisa menyalahkan apapun siapapun selain diri sendiri yang niat berubahnya gampang goyah. Semester ini juga semester pertama saya sering bolos kuliah. Semester ini juga semester pertama saya jadi deadliner super deadliner, lebih parah dari sebelumnya. Bahkan pernah saya menuliskan "akankah hidup jadi lebih parah?", saya masih ingat itu saya tulias tanggal 20 November saat kuliah probstat. Yaaa saking sudah bosannya saya. Bahkan saya sering berpikir, ah, pasti di kelas saya yang paling bodoh.

Tapi banyak juga pengalaman-pengalaman seru dibalik terpuruknya saya semester ini. hahaha.. semester ini pertama kalinya saya menjadi asisten. Jadi asisten itu menyenangkan lhooo walaupun lama-lama juga membosankan. hahaha. Semester ini pertama kalinya jadi pelatih, trus melewati kisah-kisah seru yang cukup mewarnai batik kehidupanku. hahaha. bahkan juga mendapat sesuatu yang lebih sering kusebut hal konyol. hahaha.

Yaaa semoga hasil semester ini tetap baik. bagaimanapun hasilnya. hahaha. bukan cuma hasil tertulisnya, tapi juga pemahaman dan semoga saya bisa mengambil semua hikmahnya. aamiin.

Semoga selanjutnya semakin baik. Aamiin.
Pikiran saya masih belum lepas dari sebuah pertanyaan, yang saya coba mengalihkannya tapi tetap tak bisa. "mengapa orang mau membuang-buang uang hanya untuk makan di tempat makan mahal dengan menu yang menurut saya biasa-biasa saja rasanya pun sama saja seperti biasanya?" pertanyaan konyol memang, tapi itu pertanyaan serius untuk orang seperti saya.

 Apa yang saya rasakan mengenai pertanyaan tadi membuat saya kembali teringat 26 Mei 2013, pertama kalinya saya bertemu seorang anak bernama Juanda. Seingat saya saat itu dia masih kelas 4 SD. Anak ini adalah satu dari banyak anak-anak yang tinggal di rumah singgah tempat saya dan teman-teman satu fakultas mengadakan pengmas. Hal pertama yang membuat saya prihatin adalah dia masih anak-anak dan dia keseharian harus ngamen, membantu ibunya. Ibunya sudah tua, dia masih punya beberapa adik. Mereka tinggal di sebuah kontrakan, rumah singgah hanya tempat dia menambah ilmu selain di sekolah. Bahkan dia juga mengatakan dengan polosnya, celana jeans yang dia kenakan saat itu adalah celana baru, nominalnya pun juga disebutkan. dia juga menceritakan dia biasanya ngamen di mana. Sehari uang ngamen cuma cukup buat beli makan, bahkan kadang tak cukup. Belum lagi masih ada tanggungan uang kontrakan. dia memiliki cita-cita pengen punya pesantren sama panti asuhan, katanya biar kayak pak ustad (maksudnya orang yang ngurusin rumah singgah tempat dia belajar), bisa ngebantuin yang lain. tersentuh juga saya mendengar dan melihatnya menuliskan impiannya di sebuah kaos pemberian panitia. Saat kami mengantar anak-anak target pengmas kami kembali ke rumah singgah naik angkot, si Juanda pun bertanya pada saya, sedikit protes sih. . "kenapa kita naik angkot? kenapa ga jalan saja? kan mahal. sayang uangnya." saya bisa  jawab apa? saya cuma jawab "kan kakak-kakaknya pengen kalian selamet sampai tujuan, jadi dianterin naik angkot" "kan deket, aku udah biasa kok jalan sampek sini buat ngamen" bisa jawab apa saya? Pertemuan itu berakhir, saya belum pernah bertemu dia lagi. Semoga saja dia menjadi anak yang baik-baik, seperti yang saya pesankan kepadanya. Semoga saja dia menemukan kesuksesannya bagaimanapun jalannya.

Bagaimana bisa selama ini saya tetap kurang bersyukur, kurang merasakan betapa beruntungnya saya, kurang menyadari betapa berlimpahnya kenikmatan yang saya nikmati setiap hari. Bahkan sampai saat ini, setelah bertemu Juanda yang saat itu menyadarkan saya betapa selama ini saya telah kufur nikmat, kembali saya terlena, tertelan kesibukan, yang ada keluhan "ah, kok ga bisa sama sekali", tak memikirkan sebenarnya saya ini sangat beruntung. semua yang saya rasakan ini sudah "enake wis pitung penyukur" begitu bapak saya sering mengatakannya. Saya berpikir, mau jadi apa saya nantinya dengan sifat dan kelakuan yang masih begini-begini saja?