Posts

Belajar

Belakangan obrolannya seputar-putar nikah melulu ya wkwk. Kalau ditanya apa bedanya sebelum dan sesudah nikah, ga terlalu kelihatan sih menurut saya karena sejauh ini sih tidak terlalu terasa perubahan yang signifikan. Tapi bukan berarti ga ada sama sekali sih. Ada aja penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan, misal sesimpel kalau mau keluar kudu pamitan dulu. Tapi kurang lebih mirip lah dengan penyesuaian saat harus sekamar sama orang lain pas dulu ngekos. Ga tau nanti kalau sudah pindah ke rumah kontrakan apakah akan sangat berbeda atau tidak. Who knows.

Makin ke sini jadi kepikiran banyak hal yang masih saya belum tahu. Perlu banyak belajar. Baik yang urusannya dengan pengetahuan umum, misal seputar kehamilan dan parenting, maupun urusan yang menyangkut kehidupan sehari-hari seperti melatih empati, komunikasi, ngatur waktu dll. Yang kedua mungkin ga kerasa belajar kali ya, lebih ke membiasakan diri.

Sejauh ini yang kepikiran itu sih. Udah bingung mau nulis apa lagi. Ini nulis dalam rangka biar nulis lagi aja heheheee.

Nulis Lagi, Sambat Lagi

Rasanya sekarang greget nulis tu kayak menghilang gitu. Bingung mau nulis apa. Karena sudah ada tempat sampah baru kali ya. Hahahaaa

Kini saya kembali ke sini mau sambat lagi. Sekalian biar "yeah nulis lagi!"

Jadi gini. Yang pertama, tentang kerjaan. Belakangan ini saya mulai kembali malas bekerja. Bawaannya kepikiran bahwa pekerjaan ini terlalu berat. Ga kebayang kalau saya harus kerja kayak gini terus apalagi kalau sudah hamil atau punya anak. Tapi di sisi lain, saya mikir, kalau saya ga kerja gini, saya kerja apa ya? Misal milih kerj adari rumah, apa iya yakin bakal istiqomah tanpa trigger dari luar? Apa iya yakin bakal ga malas-malasan kayak sekarang? Misal milih ga kerja, milih di rumah aja fokus buat anak-anak, serius ingin begitu ta? Dari dulu sampai sekarang, sulit banget nentuin pilihan ini.

Trus satu lagi urusan kerjaan. Saya tu kayaknya kebiasaan kerja keras bagai quda. Kadang saya jadi merasa bersalah gitu karena kebiasaan mendahulukan kerjaan. Mas Darmo tu kalau WFH ya di rumah, disempetin ngurusin kerjaan rumah tangga. Lha saya mau WFH atau WFO, tetep aja ke kantor. Saya males makan hati karena niat untuk WFH, atau at least niat masuk abis dzuhur, digagalkan karena dicariin atasan. Lagian saya sering merasa bersalah kalau di jam kerja saya leha-leha. Ya kadang menyantaikan diri sih pas udah penat gitu tapi ya masih kerja kan.

Perkara WFH dan kerjaan domestik ini lumayan membebani perasaan sih. Soalnya saya jadi merasa ga bantu apa-apa gitu buat keluarga baru. Apalagi malah saya banyak ngrepotin Mas Darmo kan. Sesimpel ambil handuk yang lagi dijemur atau ambil alat makan di kamar sebelah, saya sering terpaksa merepotkan Mas Darmo karena daripada repot harus ganti pakaian dulu buat keluar kamar. Udah ngrepotin, ga terlalu ngopeni pula. Sedih ga siii.

Sejauh ini rasa paling ga enak itu sih. Merasa malas kerja tapi di sisi lain merasa bersalah karena sepertinya terlalu serius kerja.

New Age

Sejak hari Kamis, 24 Maret 2022, rasanya hari-hari saya padat banget. Sebenernya ga terlalu banyak yang dikerjain sih tapi kepala tu kadang rasanya penuh. Ada aja yang digupuhin. Kalau ga gitu, ga mikir apa-apa tapi yang dilakukan cuma menghabiskan waktu nyantuy sama keluarga gitu. Bener-bener kayak ga ngerjain apa-apa.

Setelah huru-hara yang terjadi beberapa waktu ke belakang terkait dengan persiapan dan eksekusi acara pernikahan, akhirnya sejak kemarin sore saya sudah kembali ke Madiun. Sama suami. Gyahaha sekarang saya sudah punya suami rasa temen. Manten anyar kemarin sore nih. Baru akad tiga hari yang lalu.

Masih belum terbiasa manggil dengan panggilan baru (rencananya sih "Mas"). Kalau manggil masih sering pakai "Al" kalau ga gitu "Cuy". Pun kalau pas ngobrol sama orang lain dan nyebut suami, masih keceplosan "Alan" instead of "Mas Alan". Etapi tunggu dulu. Nama suami saya Darmo sih HAHAHA.

Yah semoga saja suami saya ga merasa saya friend-zone-in 😆😆😆

Saya ga kebayang bakal kayak gimana nanti kehidupan saya. Wajar sih. The future kan remains unknown ya. Ada saja kekhawatiran saya tidak dapat memperlakukan suami dengan selayaknya soalnya saya kan kebiasaan temenan sama dia. Khawatir dia ga keurus, euy. Ya emang dia nyari istri sih bukan pembantu. Khawatir juga saya malah jadi beban hidupnya. Entah apa lagi yang muncul di pikiran. Dasar overthinker.

Yah mari berdoa bersama semoga era kehidupan baru saya diberikan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Barokah dunia akhirat. Aamiin.

Belajar Ikhlas

Blog ini udah ga ada yang beneran baca selain diri sendiri kan ya? 

Jadi gini. Trigger curhatan ini muncul karena barusan saya mengalami penolakan. Simpel sebenernya tapi membekas.

Entah mengapa beberapa hari ini saya merasa kesepian. Di satu sisi, saya merasa kehilangan teman-teman dekat di kantor (maksudnya di divisi). Di sisi lain, saya beberapa hari tidak berjumpa geng baru saya. Dengan kondisi seperti ini, rasanya sepi. Kesepian lebih tepatnya. Kangen pun melanda.

Ada ajakan untuk makan bareng di kos saya. Saya setuju tapi satu orang lebih memilih nonton pertandingan sepak bola. Emyu. Ide makan bersama tadi dibatalkan.

Saya kecewa. Saya yang biasanya menahan-nahan untuk bergantung pada mereka sudah bilang kangen loh tapi ternyata teman saya satu ini lebih memilih nonton bola. Sepele memang tapi saya kecewa. Muncullah dalam hati, "Buat apa selama ini saya selalu mengusahakan ada saat mereka butuh kalau ternyata dalam kondisi saya kesepian begini mereka tidak lantas ada untuk saya? Padahal sering saya menunda mengerjakan sesuatu demi dapat menemani mereka. Memenuhi kebutuhan sosial (dan mungkin psikologis) mereka."

Setelah dipikir-pikir, kalau saya mikirnya gitu, berarti saya ga ikhlas dong membantu mereka. Kok pamrih gitu.

Ya harusnya kecewanya has nothing to do with what you have done for them, Nal. Kecewa boleh tapi ya kecewa aja gitu. Ga usah dikait-kaitkan dengan apa yang sudah dilakukan untuk mereka. Wajar kok kecewa karena harapan kita tidak terpenuhi. Makanya jangan menaruh harap pada manusia, Nal. Berharap sama Allah aja.

Memang cuma Allah yang paling ngerti. Allah yang Maha Lembut, Maha Teliti.

Lagipula orang lain juga perlu has their own time, Nal. Mungkin temanmu memang sedang butuh nonton bola demi kesehatan mentalnya.

Rupanya ikhlas itu ga gampang ya. Secara ga sadar ketidakikhlasan baru terlihat nanti-nanti bahkan dengan cara dan peristiwa sesimpel ini.

Hujan Pertama

Kemarin mendung seharian. Dari sekian panjang waktu mendung, hujan turun saat saya keluar kos. Inginnya sih belanja bulanan sambil jalan-jalan. Belum juga separuh jalan, rintik air sudah membumi. Senang juga rasanya merasakan rintik hujan yang tak begitu deras. Waktu cukup untuk berjalan hingga ATM center di pojok perempatan Jalan Pahlawan. Usai urusan di sana, baru hujan deras sekali. Hujan pertama yang begitu lebat.

Akhirnya setelah sekian lama, untuk pertama kalinya saya membaca buku (di hp) dengan tenang dan nyaman. Sambil menunggu hujan reda. Merasakan tempias air hujan yang tertiup angin. Ditambah aroma khas tanah. Duduk di depan ATM center bersama beberapa orang lainnya yang ngiyup jadi nikmat rasanya.

Entah mengapa hujan selalu spesial. Apalagi hujan pertama setelah kering yang sekian lama.

Jalan-jalan kemarin sungguh beyond expectation. Jalanan begitu apik usai tersiram hujan. Masih lengang, terlihat begitu bersih dan cerah, tanaman pun terlihat segar. Rain cleanses the earth. 

Duduk di pinggir jalan sambil makan es krim pun nikmat sekali rasanya. Rasanya sudah lama sekali saya tidak merasakan joy jalan-jalan sendiri seperti ini. Belakangan sepertinya memang saya lebih sering mengusahakan ada untuk orang lain. Untuk teman, untuk kerjaan, malah jarang menyelami diri dan memberinya nutrisi.

Hingga sepagi-sore hari ini, efek hujan masih belum hilang dari diri. Rasanya dia membawa rindu yang saya sendiri tak tahu kepada siapa ataupun apa. Mungkin terlalu banyak memori yang melibatkan hujan.