Posts

Showing posts from January, 2018

Jakarta Trip 3 - Part 2

Hari kedua perjalanan saya dan Aji di Jakarta dimulai dengan sarapan penuh gula – roti bakar meses. Agenda utama hari itu adalah tes di sebuah perusahaan asal Korsel. Ifa sudah memberikan amunisi makanan untuk kami, dan tak lupa untuk teman-temannya (yang saya juga kenal) yang bekerja di sana.

Kurang ajar sekali, perut saya mendadak mules sebelum berangkat. Akhirnya saya berangkat lebih telat. Ini membuat hati saya ketar-ketir sepanjang jalan. Khawatir telat. Sayangnya, kekhawatiran saya ternyata sia-sia. I was the one and only participant yang datang hari itu – ibu HRD mengeluhkan mengapa yang lain tak datang. Itu pun saya masih nunggu sekitar satu jam hingga beneran tes padahal itu ceritanya saya sudah telat lho. Sebenarnya Aji juga peserta namun instingnya berhasil mencegah dia untuk mengurungkan niatnya. Tak rugi dia mengurungkan niatnya, di akhir perjalanan Jakarta ini, dia dinyatakan diterima bekerja di sebuah BUMN. Beruntungnya...

Saya tidak membawa tangan kosong dari kunjungan saya ke gedung begituan untuk pertama kalinya. Seusai urusan di sana, saya jadi mengerti gimana cara menggunakan salah satu model pengaturan lift di gedung besar. Karena saya baru mengerti cara menggunakan lift di sana saat pulang, pas berangkat tadi ya saya cuma ikut-ikutan Aji yang sepertinya sudah mengerti. Caranya tinggal memencet tombol bernomor lantai yang dituju, lalu sistem akan menampilkan lift mana yang akan melayani. Kita pun tinggal berdiri di depan lift dan menunggu. Sungguh pengetahuan baru yang sangat berguna. Saya sungguh udik ya. Hahahaa.

Rencana awal kami seusai dari gedung tempat tes itu adalah ke Kota Tua. Kami yang berusaha meminimalkan pengeluaran akhirnya memutuskan untuk naik ojek onlen menuju stasiun kereta terdekat lanjut naik KRL menuju Stasiun Jakarta Kota. Sambil makan dan ngecas hp di stasiun, kami kembali mendiskusikan itinerary. Dikarenakan cuaca yang sangat panas, kami membatalkan rencana ke Kota Tua siang itu. Kami memutuskan naik KRL saja dari stasiun ujung ini ke stasiun ujung lainnya yang paling jauh untuk selanjutnya kembali lagi. Kurang kerjaan banget kan. Kami setuju memilih kereta tujuan Bogor. Begitulah wisata murah meriah kami. Kami sudah senang dapat melihat tempat baru meski hanya dari dalam kereta.


Lalu apa yang kami lakukan sesampainya kami di Stasiun Bogor? Sholat Asar. Itu saja. Keluar stasiun pun tidak. Semoga pahala yang didapat juga banyak karena untuk sholat saja harus jauh-jauh ke Bogor. Wkwkwk

Beruntung kami sudah kembali ke Jakarta ketika jam pulang kerja sehingga kami ga merasakan sesel-seselan seperti yang terjadi pada kereta dengan arah berlawanan. Kami ketemu bule lagi di gerbong. Ga ngomong lagi. Kami cuma main tebak-tebakan ibu bule ini orang mana.

Sebenarnya tujuan akhir kami adalah Stasiun Cikini. Namun, karena Aji tadi beli tiket untuk tujuan akhir Stasiun Jakarta Kota (tujuan awal kami kan tadi Kota Tua – Stasiun Jakarta Kota -- tapi berubah sebelum kami keluar stasiun), maka kami ke Jakarta Kota dulu untuk check out baru kembali lagi ke Cikini agar Aji tak kena denda.

Kekonyolan kami terjadi dalam perjalanan ini. Ketika maghrib sudah berkumandang, muncul sebuah pengumuman bahwa kereta akan antri masuk Stasiun Jakarta Kota. Kalau tak salah pengumuman itu muncul di dua stasiun sebelumnya. Berbagai pengumuman selanjutnya tak kami dengar karena tiba-tiba speakernya lirih sekali. Hingga suatu ketika pintu kereta semuanya terbuka namun kami tak melihat stasiun. Keluar dari pintu masih rel. Di sebelah pun juga ada kereta yang diperlakukan sama. Kami pun berasumsi kami masih di tengah jalan, kereta masih antri untuk masuk stasiun. Sebenarnya kami heran mengapa gerbong tiba-tiba jadi sepi tapi karena masih ada beberapa orang yang tak turun, kami santai saja. Lama-lama gerbong ramai kembali.

Tak kami sangka-sangka, kereta berjalan menuju arah kedatangan kami tadi. Kami bingung. Akhirnya kami sadar, tadi saat pintu dibuka sebenarnya kami sudah di stasiun tujuan namun karena gerbong kami adalah ekor maka kami tidak melihat stasiunnya. Kekonyolan. Segera kami turun di stasiun terdekat untuk kembali ke Jakarta Kota. Kami menertawai diri sendiri sepanjang perjalanan. Di Jakarta Kota, kami segera berpencar. Aji check out dan beli tiket lagi dengan tujuan Cikini, saya sholat maghrib. Sayang sekali, air di sana asin.

Perjalanan kembali ke Cikini tak luput dari menertawakan diri sendiri atas kekonyolan yang terjadi. Kami juga mempraktikkan apa yang ada di kepala saya. Jika seseorang membuat penampakan seperti gambar di bawah di dalam kereta, apa yang dipikirkan orang di luar kereta yang melihatnya?


Saya mempraktikkannya tapi ketika menyadari ada orang di stasiun yang melihat, saya otomatis langsung malu, menghentikan penampakan, dan tertawa tanpa memperhatikan bagaimana respon penonton. Sangat disayangkan.

Begitulah kekonyolan hari kedua. Kami sudah dinanti-nanti Ifa di kosannya hari itu. Saya mau cerita kami makan malam apa hari itu tapi saya kok lupa. Ini ada cendera mata dari perjalanan konyol hari kedua. 

Monas cantik malam itu. Sayang saja kamera dan yang njepret ga mumpuni menghasilkan gambar yang cantik.

Jakarta Trip 3 - Part 1

Sebulan lebih saya hiatus menulis. Ternyata hiatusnya saya menyumbang kebosanan kepada salah seorang teman yang kehabisan bahan bacaan lantaran blog-blog-teman langganannya tak kunjung update. Hahah. Tak kusangka postingan saya dinanti.

Kali ini saya ingin bercerita tentang petualangan saya di Jakarta sebelum kembali ke kampung. Ini adalah ketiga kalinya saya mengunjungi Jakarta. Perjalanan saya didampingi oleh teman saya, Aji. Niat awal kami ke sana adalah mengikuti tes rekrutmen suatu perusahaan asal Korea Selatan tapi kalau dilihat itinerarynya, jalan-jalan memakan waktu paling banyak. Menariknya, perjalanan kami hampir selalu mengandung kebodohan di setiap harinya. Begini cerita kami …

Hari pertama
Kami berangkat pagi-pagi menuju Jakarta. Tiada rencana lain selain menelusuri Monumen Nasional hari itu. Setelah ngecas hp, makan bekal, dan sholat, kami pun keluar stasiun dan menelusuri jalanan mencari pintu masuk Monas. Kami melewati beberapa gedung putih yang sempat kami reka-reka sebagai Istana Presiden. Saya tak tahu wujud Istana Presiden sebenarnya seperti apa jadi saya percaya-percaya saja dengan Aji.

Menemukan jalan masuk menuju area Monas, saya excited sekali. Itu adalah kali pertama saya mengunjungi monumen yang sudah seperti Eiffelnya Prancis versi Indonesia. Tak ada yang istimewa. Hanya berfoto-foto ria. Monas ternyata ya begitu saja. Bagus. Kalau ingin tahu, datang saja ke sana. Haha

Sebenarnya perjalanan hari itu punya tantangan lebih karena kami pating bentheyot. Kami masih mencangklong tas ransel dan menjinjing tottebag. Semuanya penuh berisi pakaian, perbekalan, dan keperluan lainnya. Oleh karenanya, berjalan dan berdiri yang biasanya terasa biasa jadi terasa berat seiring menumpuknya lelah. Muka kami juga seperti udang rebus karena kepanasan efek kelelahan (bukan efek cuaca. Mendung kok. Hujan malah).

Hal yang menarik adalah bertemunya kami dengan seorang bule. Kami jadi merasa ‘dekat’ dengannya meskipun kami tidak saling ngobrol. Rasa sok dekat eh senasib --apapun lah--- ini ditrigger oleh si bule yang meniru kami leyeh-leyeh di tangga Monas. Sayang sekali ketika si bule yang saya duga orang Jerman itu pergi dan sempat terpeleset, saya cuma bilang “Be careful, Sir!” padahal saat itu adalah kesempatan emas kami untuk ngobrol dengannya. Setelah itu, kami menyesal kenapa tadi kami tak sok akrab saja soalnya si bule sendirian, kami khawatir dia bingung. Kami kan mungkin bisa bantu sikit-sikit. Alasan saja, padahal sini yang pengen dapat kesempatan ngobrol.


Kebodohan terjadi pascakunjungan Monas. Tujuan kami selanjutnya adalah kosan Ifa. Karena kami adalah orang-orang kere, kami memutuskan untuk naik Transjakarta saja karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan dengan sewa ojek onlen. Kami pun mencari halte terdekat yang memungkinkan untuk trayek ke kosan Ifa. Kami khilaf. Kami buta arah. Kalau saya sih tak mengerti peta waktu itu, mungkin efek capek. Mungkin kami seharusnya ke kanan setelah keluar dari monas tapi kami malah ke kiri atau sebenarnya kami telah melewati halte yang dimaksud tapi tak sadar. Pokoknya kami yang awalnya keluar Stasiun Gambir lewat pintu utara, tau-tau sudah ada di pintu selatan Stasiun Gambir. Kami akhirnya menyadari bahwa kami sudah mengelilingi monas dengan berjalan kaki membawa-bawa tas yang, dalam imajinasi saya, seperti palu yang menghunjamkan kami ke tanah. Capek? Banget, Coy.

Kami pun memutuskan pesan mobil onlen. Miskomunikasi dan efek lelah membuat pak supir marah dan meng-cancel pesanan. Kami sudah lelah. Kami bingung. Kami cuma berdiri di pinggir jalan tak tahu harus bagaimana karena semuanya terlihat kacau. Mau pesan ojek onlen, takut terpisah trus ada yang nyasar. Mau pesan mobil onlen, sudah macet, pasti lama. Mau naik TransJakarta, haltenya masih jauh.

Menurut analisis Aji, kebanyakan mobil onlen itu di parkir di dekat pintu utara dan ga mau ke pintu selatan. Dalam pikiran saya, Stasiun Gambir itu seperti Stasiun Bandung yang dua pintunya bersebarangan jadi kalau mobil dari utara mau jemput kami yang di selatan, harus keluar dan berputar mengitari monas. Maka, saya setuju kami menuju pintu utara dan mengusulkan menuju ke sana dengan menyebrang stasiun. Aji yang sudah tak bisa berpikir pun setuju.

Saat akan masuk stasiun,
“Kamu tau ga jalan buat nyebrang stasiun?”
“Engga.”
“Laaah kirain kamu tahu makanya kamu ngide gitu,” Aji murka.

Mungkin keruwetan tadi terjadi karena kedurhakaan kami mengabaikan panggilan Allah untuk sembahyang. Aji yang sudah bete akhirnya memutuskan kami sholat dulu saja di musholla stasiun. Ajaibnya, setelah sholat saya langsung teringat bahwa realitanya, pintu utara dan selatannya stasiun gambir itu sejalan jadi kalau mau ke utara ya jalan menyusuri jalanan tadi, bukannya menyebrangi stasiun. Alhamdulillah hidayah datang wkwkwk.


Kami akhirnya memesan mobil onlen di pintu selatan setelah menyadari sebenarnya mobil yang ada di dekat pintu utara tinggal keluar lewat pintu selatan. Kami dipertemukan dengan sopir yang baik dan keren. Beliau memohon izin untuk sholat isya dulu sebelum memulai perjalanan. Wooow berkah mengingat Allah kali ya dapat driver baik dan taat sholat. Hehehee.

Begitulah kebodohan kami di hari pertama. Membuat panik Ifa sampai dia menelpon saya berkali-kali menanyakan kami dimana sementara kabar yang kami sampaikan selalu kami masih di Stasiun Gambir -___- Kami disambut ayam penyet super enak di kosan Ifa.

Ceritanya sampai di sini dulu. Hari kedua masih ada kebodohan yang lebih kocak.